UPDATE

CEO Cerebras Nilai Narasi Kiamat AI Menutupi Potensi Teknologi

14/10/2026 05:43

CIANJUR.CO - CEO sekaligus salah satu pendiri Cerebras Systems, Andrew Feldman, menilai narasi yang menggambarkan kecerdasan buatan (AI) sebagai ancaman besar tidak membantu perkembangan industri. Dalam acara TechCrunch Disrupt 2026, ia menyindir bahwa sejumlah pemimpin di dunia AI mungkin sebaiknya tidak berbicara di depan publik. Pernyataan itu diarahkan pada cara sebagian tokoh industri menyampaikan kekhawatiran tentang bahaya AI.

Seperti diberitakan TechCrunch AI pada 14 Oktober 2026, perdebatan mengenai risiko AI belakangan mencakup berbagai skenario ekstrem. Di antaranya adalah kemungkinan model AI lepas dari kendali dan pembahasan orang dalam industri mengenai peluang AI memusnahkan seluruh umat manusia sebelum akhir dekade ini. Menurut Feldman, perhatian besar terhadap sisi gelap tersebut membuat manfaat yang mungkin dibawa teknologi ini kurang mendapat tempat.

Diskursus tentang bahaya AI bahkan telah menjadi bagian dari budaya populer. CEO Anthropic Dario Amodei baru-baru ini menjadi bahan parodi dalam sebuah sketsa di acara Saturday Night Live. Tokoh fiktif dalam sketsa itu merangkum kegelisahan terhadap industri dengan kalimat, “We do not condone what we are doing.” Gambaran tersebut memperlihatkan betapa luasnya perbincangan mengenai risiko AI, bukan hanya di kalangan pelaku teknologi.

Baca juga: Hakim Beri Apple Akses Cepat ke Dokumen Wawancara OpenAI

Feldman berpendapat para pemimpin AI juga perlu menjelaskan potensi positif teknologi kepada masyarakat. Ia memberi contoh kemungkinan masa depan ketika cucu-cucu generasi sekarang “never meet anybody who dies of cancer.” Pernyataan itu bukan berarti ia menolak adanya risiko, melainkan menekankan bahwa pembicaraan tentang bahaya seharusnya tidak membuat peluang manfaat AI terabaikan.

Posisi Feldman terhadap keberhasilan AI juga perlu dilihat dalam konteks bisnis Cerebras. Perusahaan pembuat chip AI tersebut memiliki pelanggan besar yang bekerja dengan teknologi ini, termasuk OpenAI, Block, Figma, perusahaan farmasi GSK, dan Lovable. Meski demikian, Feldman menyatakan pendekatannya terhadap persoalan AI mempertimbangkan pertukaran antara risiko dan manfaat, bukan sekadar membela teknologi tanpa syarat.

Ia menilai teknologi yang kuat selalu membawa tantangan ketika berada di tangan orang dengan niat buruk. “I don’t think there are powerful technologies that don’t come with the challenge of ‘what happens when powerful technologies are in the hands of bad people?’” ujar Feldman dalam wawancara di Disrupt. Ia menambahkan bahwa keberadaan teknologi kuat dan tantangan penyalahgunaannya tidak dapat dipisahkan begitu saja.

Baca juga: Linus Torvalds Gunakan Claude Code untuk Membantu Menulis Kode Kernel Linux

Karena itu, menurut Feldman, AI perlu diperlakukan dengan kehati-hatian dan diatur secara wajar. Ia mengatakan, “We have to be thoughtful about it. We have to regulate it reasonably.” Dengan demikian, sikapnya bukan mengabaikan persoalan keselamatan, tetapi mengimbangi pembahasan risiko dengan penjelasan tentang potensi teknologi serta pendekatan regulasi yang dianggap masuk akal.

Feldman juga mengaitkan sebagian sentimen negatif terhadap AI dengan cara industri pusat data membangun fasilitas baru untuk memenuhi permintaan teknologi tersebut. Ia mengakui bahwa selama beberapa tahun terakhir, industri belum cukup baik bekerja bersama komunitas setempat, terutama di Amerika Serikat. Menurutnya, perusahaan tidak melibatkan warga sebagaimana mestinya, padahal keterlibatan masyarakat menjadi persoalan penting dalam pembangunan.

Ia membandingkan penolakan terhadap pembangunan di lingkungan sekitar—yang dikenal dengan istilah NIMBY, kependekan dari “not in my back yard”—di Amerika Serikat dengan pendekatan sejumlah negara lain. Feldman menyebut Brasil, Kanada, Finlandia, Islandia, Norwegia, Meksiko, dan Swedia sebagai pasar yang mendorong perusahaan membangun pusat data. Perbandingan itu disampaikan dalam konteks bagaimana industri dan masyarakat menghadapi pembangunan fasilitas yang didorong oleh kebutuhan AI.

Baca juga: Flox Kembangkan AI untuk Mencegah Satwa Liar Tertabrak Kereta

Di sisi perangkat keras, Feldman tidak khawatir bahwa peningkatan efisiensi akan mengurangi permintaan terhadap chip Cerebras ataupun produk perusahaan lain yang bersaing dengan Nvidia. Ia menggambarkan kemajuan sebagai upaya bersama antara pemasok perangkat keras dan pembuat model AI. Vendor, katanya, dapat membuat komputasi lebih efisien, sementara pengembang model menyempurnakan efisiensi model untuk mencapai tujuan yang sama.

Feldman menilai kedua jenis peningkatan itu perlu berjalan beriringan agar menghasilkan kemajuan yang berarti. Pandangannya menghubungkan perdebatan tentang potensi dan risiko AI dengan kebutuhan praktis industri: membangun teknologi secara lebih efisien, mengatur penggunaannya, dan memperbaiki keterlibatan dengan masyarakat tempat pusat data didirikan.