Mengambil Tanpa Memberi: Timbal Balik dengan Alam, Sesama, dan Diri
CIANJUR.CO - Sebelum uang dikenal sebagai alat tukar, ada bentuk perhitungan lain yang mengatur hubungan manusia dengan apa pun yang menopang hidupnya. Perhitungan itu tidak tercatat dalam buku kas atau laporan berkala, tetapi bertumpu pada gagasan sederhana: apa yang diambil harus dipertanggungjawabkan. Ikan yang ditangkap, pohon yang ditebang untuk membuat kano, cerita yang diterima dari orang tua, bahkan perhatian seseorang pada malam hari, masing-masing dianggap memiliki bobot.
Balasannya tidak harus berupa benda atau pembayaran. Dalam gambaran yang disampaikan The Vessel, orang dapat membalas dengan lagu, persembahan tembakau, memberi waktu bagi tanah untuk beristirahat, atau menyediakan satu jam untuk mendengarkan. Intinya, mengambil berarti memasuki hubungan yang membawa tanggung jawab. Hubungan tersebut dapat berlangsung dengan alam, orang lain, maupun diri sendiri.
Kehidupan modern kerap menyingkirkan cara pandang itu sebagai takhayul. Namun, esai The Vessel menyatakan bahwa akibat mengambil tanpa mengembalikan tetap terasa, sekalipun orang tidak mempercayai perhitungan tersebut. Ladang yang dimanfaatkan tanpa pemulihan menjadi pucat, persahabatan yang hanya berjalan satu arah menipis, sementara perhatian yang digulirkan, ditambang, dijual, lalu diminta kembali melalui layar berubah dengan cara yang sulit dinamai tetapi mudah dirasakan.
Tulisan itu membahas timbal balik sebagai cara menjalani hidup, bukan kebajikan yang perlu dipamerkan. Ketika kehidupan tersusun terutama dari tindakan mengambil, sesuatu perlahan membusuk. Pembahasannya bergerak dari tanah tempat manusia berpijak, menuju hubungan dengan orang lain, hingga perhatian yang dikuras dari diri sendiri.
Tanah mengingat apa yang tak tercatat
Hutan yang dikelola selama berabad-abad oleh masyarakat yang hidup di dalamnya dapat terlihat padat, tetapi tidak kacau. Ada area terbuka di tempat yang sesuai dan jenis tumbuhan yang berkembang karena sengaja ditanam berdekatan dengan tumbuhan lain oleh generasi sebelumnya. Ahli ekologi menyebut bentang alam seperti itu hutan antropogenik: kawasan yang dibentuk tangan manusia dalam waktu panjang hingga hutan tersebut menjadi hasil kolaborasi.
Orang-orang yang merawat tempat seperti itu tidak menganggap diri sebagai pemilik, melainkan tamu dengan tanggung jawab. Jika mengambil kulit kayu, mereka berterima kasih kepada pohon dan hanya mengambil dari sisi yang membelakangi matahari. Dalam berburu, hasil buruan pertama ditinggalkan. Ketika mengumpulkan tumbuhan, tanaman induk dibiarkan tetap berdiri. Praktik tersebut, menurut esai itu, bukan sekadar sentimentalitas, melainkan cara menjaga keberlangsungan hidup dalam jangka panjang.
Keadaan itu berbeda dari hubungan banyak orang dengan tanah di bawah tempat tinggalnya. Penghuni apartemen mungkin tidak mengetahui nama sungai yang mengalir di bawah jalan dalam saluran tertutup, pohon mana di sekitar rumah yang sudah ada sebelum trotoar, atau siapa yang tulangnya berada di dalam tanah. Pada saat yang sama, mereka menggunakan kopi, litium, tomat musim dingin, dan katun murah tanpa menanyakan bagaimana catatan pengambilannya terlihat dari sisi lain.
Esai tersebut tidak mengatakan bahwa orang harus menjadi petani untuk merasakan ada yang keliru. Seseorang hanya perlu berhenti cukup lama untuk menyadari bahwa konsumsi yang nyaman belum tentu memberi rasa terpenuhi. Ada kehampaan ketika suatu tempat terus dikonsumsi tanpa rasa memiliki atau keterikatan. Dalam penggambaran tulisan itu, tanah tidak mengutuk orang yang mengambil; tanah hanya berhenti berbicara kepadanya. Lama-kelamaan, orang itu pun tidak sadar bahwa hubungan tersebut telah sunyi.
Baca juga: 8 Tanda Mertua Menganggap Anda Bagian dari Keluarga
Kepedulian yang hanya mengalir ke satu arah
Perhitungan serupa berlangsung dalam hubungan antarmanusia, tetapi lebih sulit dihadapi karena utang kepedulian itu memiliki wajah. The Vessel mengajak pembaca memikirkan orang tertentu yang memberi lebih banyak daripada yang diterimanya: teman yang selalu lebih dulu mengirim pesan, orang tua yang panggilannya disaring, rekan kerja yang membuat pekerjaan orang lain berjalan, atau pasangan yang suasana emosionalnya dijadikan sandaran tanpa dirawat kembali.
Ajakan itu bukan untuk menumpuk rasa bersalah. Dalam esai tersebut, rasa bersalah disebut sebagai pengganti murah bagi timbal balik dan sering kali justru menggantikan tindakan yang diperlukan. Yang dibutuhkan adalah melihat dengan jernih siapa yang memberi, siapa yang menerima, dan apakah perhatian bergerak di antara mereka.
Para antropolog yang meneliti ekonomi pemberian, sebagaimana disebut dalam tulisan itu, telah lama menunjukkan bahwa pemberian tidak sungguh menjadi pemberian jika tidak pernah bergerak. Benda, kepedulian, perhatian, dan cerita semestinya beredar. Jika semuanya berhenti dan menumpuk di satu rumah tangga, satu kelas, satu negara, atau satu orang, sistem mulai sakit. Pemberian berubah menjadi timbunan, lalu timbunan menjadi luka.
Ketimpangan bisa terasa dalam pertemanan ketika satu orang menjadi terapis tanpa pernah menyetujui peran tersebut. Di keluarga, seorang saudara dapat menjadi penyangga utama beban emosional. Di tempat kerja, pekerjaan seperti memperhatikan keadaan, meredakan ketegangan, dan mengingat ulang tahun bisa tidak terlihat karena terus dilakukan orang yang sama. Ada sesuatu yang diambil, sementara sesuatu yang lain tidak dikembalikan. Kerusakannya berlangsung tenang, tetapi nyata.
Timbal balik bukan transaksi satu banding satu atau lembar hitung yang menuntut setiap kebaikan dibalas dengan nilai sama. Ia lebih menyerupai irama: kepedulian terasa bergerak di antara orang-orang, sehingga tidak ada yang hanya menjadi sumber dan tidak ada yang hanya menjadi tempat segala sesuatu berakhir. Ketika irama itu rusak, orang yang mengambil pun menderita karena perlahan dikelilingi rasa kesal yang belum mampu ia namai.
Tulisan itu juga menghubungkan gagasan tersebut dengan kemampuan mempertahankan pendirian tanpa menutup diri. Sisi lain yang lebih jarang dibicarakan adalah belajar membuka tangan tanpa mengosongkan diri sendiri. Memberi dan menerima tidak berarti seseorang harus menanggalkan batas pribadi. Yang diperlukan adalah hubungan yang memungkinkan kepedulian mengalir, bukan keadaan ketika satu pihak terus menanggung semuanya.
Perhatian yang dikuras dari diri sendiri
Setelah membahas alam dan relasi sosial, esai beralih pada bentuk pengambilan yang paling dekat: mengambil dari diri sendiri. Perhatian menjadi salah satu contohnya. Pembaca diajak mempertimbangkan berapa banyak waktu dalam sepekan yang dihabiskan untuk hal-hal yang tidak dipilih dan, jika ditanya dengan jujur, sebenarnya tidak ingin dilakukan.
Baca juga: Saat Kita Masih Berusaha Menyenangkan Penonton yang Sudah Pergi
Misalnya, tangan yang spontan meraih telepon di lift, kamar mandi, atau jeda antara satu kalimat dan kalimat berikutnya. Pertanyaannya bukan hanya berapa lama perhatian terserap, tetapi juga siapa yang mengambilnya dan apa yang diberikan sebagai gantinya. Jawaban yang jujur, menurut The Vessel, sering kali adalah hampir tidak ada. Yang tersisa mungkin kebaruan sekejap, sedikit kemarahan, iri atau hiburan, serta kesan samar telah mendapat informasi yang sudah dilupakan sebelum Kamis.
Dalam kiasan tulisan tersebut, perhatian adalah tanah yang ditambang habis. Bijih yang diambil adalah kemampuan untuk berkonsentrasi secara berkelanjutan, kemampuan yang juga diperlukan untuk mencintai, berkarya, berdoa, berduka, dan menjalani keadaan lain yang menuntut seseorang bertahan di satu tempat lebih lama daripada satu guliran layar.
Karena orang yang mengambil perhatian sekaligus menjadi pihak yang kehilangan, dampaknya dapat bergerak cepat. Orang yang perhatiannya terus-menerus terkuras mulai kehilangan kemampuan berada bersama dirinya tanpa gangguan. Keheningan terasa tidak nyaman dan kebosanan sulit ditanggung. Kehidupan batin—wilayah liar yang tidak dikurasi—menjadi tempat yang jarang didatangi karena jalan untuk kembali seolah terlupakan.
Esai itu menyebutnya kegagalan timbal balik yang paling dalam: bukan dengan bumi atau teman, melainkan dengan diri sendiri. Bagian diri yang digambarkan sebagai makhluk hidup membutuhkan gerak, makanan, istirahat, nyanyian, perhatian, dan kesempatan berada di suatu tempat untuk mencium cuaca. Jika terus diambil darinya tanpa balasan—waktu tanpa kegiatan, makanan sungguhan, kegelapan, atau perjumpaan dengan sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri—bagian itu tidak mengeluh. Ia hanya menjadi lebih sunyi, asing, dan sulit dijangkau.
Tulisan tersebut membedakan sesuatu yang terbakar dan dapat diperbarui dari sesuatu yang semata-mata ditambang. Yang terbakar dapat tumbuh kembali, sedangkan yang terus dikuras tidak dengan sendirinya pulih. Karena itu, perhatian tidak cukup diperlakukan sebagai persediaan tanpa batas. Diri juga perlu menerima kembali waktu dan kehadiran yang selama ini diambil darinya.
Memberi sebagai pengakuan
Kata “persembahan” mungkin terdengar canggung setelah lama digunakan secara ringan. The Vessel berusaha mengembalikan bobotnya dengan menegaskan bahwa persembahan bukan pembelian. Seseorang tidak sedang membeli kemurahan hati tanah, leluhur, atau dirinya pada masa depan. Ia mengakui bahwa dirinya berada dalam jejaring yang tidak ia buat sendiri dan bahwa kehadirannya membawa konsekuensi yang tidak selalu dapat dilihat.
Dalam pengertian itu, pemberian merupakan tindakan kecil dan disengaja yang menyatakan bahwa seseorang memperhatikan apa yang diterimanya, mengakui telah menerimanya, dan tidak berpura-pura bahwa semua itu muncul begitu saja. Gagasan tersebut dapat dijalankan dalam kehidupan yang juga melibatkan sewa, surel, dan tubuh yang lelah.
Baca juga: Riset 1980 Ungkap Kebiasaan Sopan Anak Terbentuk Lewat Pengulangan
Contohnya, seseorang dapat mengetahui nama satu pohon di jalan yang dilewati dan menyapanya, meski dalam hati. Ia dapat memberikan kembali kepada teman kualitas perhatian yang selama ini diterimanya. Ia dapat membayar orang-orang yang pekerjaannya memberi manfaat—guru, penulis, petani, dan musisi—alih-alih memperlakukan pemberian mereka sebagai sumber yang tidak akan habis. Ia juga dapat duduk selama 20 menit tanpa masukan apa pun, membiarkan pikirannya kembali bergerak dengan caranya sendiri.
Tindakan-tindakan itu tidak sulit seperti mendaki gunung. Kesulitannya, menurut esai tersebut, menyerupai upaya berbalik setelah lama berjalan ke satu arah. Seseorang perlu mengakui bahwa arah itu keliru atau setidaknya belum lengkap, sekaligus mempertimbangkan kembali anggapan bahwa perhitungan lama tentang mengambil dan mengembalikan hanyalah takhayul.
Pembusukan yang dapat menjadi tanah
Di hutan, pembusukan bukan akhir cerita. Pohon tumbang yang dibiarkan terurai menjadi tempat tumbuh generasi berikutnya. Jamur menembus kayu mati dan melepaskan unsur hara yang terkunci selama satu abad. Pembusukan menjadi bencana hanya jika orang menolak membiarkannya berubah menjadi tanah.
Bagi orang yang menyadari bahwa hidupnya dibangun dengan mengambil dari alam, orang-orang yang menyayanginya, atau perhatiannya sendiri, langkah pertama bukanlah rasa malu. Esai itu menyebut rasa malu sebagai bentuk lain dari mengambil. Langkah awalnya adalah mengenali tanda pembusukan, menyebutnya dengan jelas, lalu bertanya apa yang masih dapat ditumbuhkan dari keadaan itu.
Orang yang telah mengambil terlalu banyak dan akhirnya menyadarinya bukanlah orang yang tak mungkin berubah. Ia berpotensi menjadi berguna dengan cara yang belum pernah dijalaninya. Ia mengetahui bobot tanggungannya dan pernah merasakan kehampaan dari pilihan sebaliknya. Jika bersedia, ia dapat mulai menjadi persembahan bagi orang lain.
Pada akhirnya, The Vessel tidak menawarkan program atau daftar kewajiban, melainkan pertanyaan: apa yang selama ini diambil diam-diam dan terus-menerus tanpa diberikan kembali—dari tanah, dari orang-orang, dan dari diri sendiri? Apa artinya mulai menjawabnya pekan ini, bukan tahun depan, melalui tindakan kecil dan sederhana?
Perhitungan lama itu, tulis The Vessel, masih terbuka dan masih menunggu. Pertanyaannya membawa kembali tiga wilayah yang dibahas: alam yang menopang kehidupan, kepedulian yang bergerak dalam hubungan, serta perhatian yang memungkinkan seseorang hadir bagi dirinya sendiri. Timbal balik bukan sekadar membalas apa yang diterima dengan hal yang persis sama, melainkan menyadari bahwa mengambil selalu menempatkan seseorang dalam hubungan yang perlu dirawat.