Riset 1980 Ungkap Kebiasaan Sopan Anak Terbentuk Lewat Pengulangan

08/10/2026 21:41

CIANJUR.CO - Ucapan “terima kasih” kadang terdengar sebelum seseorang sempat menyadari sepenuhnya apa yang baru terjadi. Seseorang menerima kopi, lalu kata “thanks” langsung terucap. Ketika orang asing menahan pintu, ucapan terima kasih juga seolah muncul dengan sendirinya. Pada orang dewasa, kebiasaan itu dapat terasa seperti naluri karena mereka tidak lagi mengingat proses belajar yang membuatnya menjadi otomatis.

Namun, pemandangan berbeda terlihat pada anak kecil. Anak berusia tiga tahun mungkin mengembalikan piring kosong tanpa berkata apa-apa, sementara anak empat tahun dapat langsung membuka hadiah ulang tahun dan mulai bermain sebelum mengucapkan terima kasih. Berdasarkan laporan Geediting, perbedaan antara respons orang dewasa dan anak itu menjadi salah satu hal yang diperiksa dalam penelitian Esther Blank Greif dan Jean Berko Gleason pada 1980.

Keduanya mengamati rutinitas kesopanan, yakni ungkapan sosial seperti “hai”, “selamat tinggal”, dan “terima kasih”. Pertanyaan yang ingin dijawab bukan sekadar apakah anak mampu mengucapkan kata-kata tersebut, melainkan seberapa sering mereka menggunakannya atas inisiatif sendiri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ungkapan yang kelak terasa otomatis bagi orang dewasa jarang muncul secara spontan pada anak dalam situasi pengamatan.

Ucapan spontan jarang muncul

Greif dan Gleason melibatkan 22 keluarga yang memiliki anak berusia dua hingga lima tahun. Dalam sesi di laboratorium, seorang peneliti memberikan hadiah kecil kepada anak di hadapan orang tuanya. Interaksi tersebut direkam agar para peneliti dapat memperhatikan apa yang dikatakan anak dan apakah orang tua lebih dahulu memberikan arahan.

Secara keseluruhan, penelitian mencatat 44 kejadian. Anak mengucapkan “hai” atau “selamat tinggal” tanpa diminta sekitar 25 persen dari waktu yang diamati. Untuk ucapan terima kasih, frekuensi spontan hanya 7 persen. Angka-angka itu memperlihatkan bahwa anak jauh lebih jarang menyampaikan terima kasih atas prakarsa sendiri dibandingkan sekadar berada dalam situasi yang memungkinkan ungkapan tersebut digunakan.

Baca juga: Tubuh Melambat, Pikiran Tetap Tajam: Tanda yang Kerap Terlewat

Ketika anak tidak mengucapkan kata yang diharapkan, orang tua biasanya memberikan petunjuk. Sebanyak 21 dari 22 keluarga setidaknya sekali mendorong anak untuk mengucapkan ungkapan tertentu. Bentuk arahan yang dicatat peneliti antara lain “Say X”, “Can you say X”, dan “What do you say?” Dalam 59 arahan yang dihitung, kata “say” muncul pada 95 persen di antaranya. Dengan demikian, pengingat orang tua umumnya meminta anak mengucapkan bentuk kata tertentu, bukan menyusun kalimat sendiri.

Penelitian itu juga melihat contoh yang diberikan orang tua. Ibu mengucapkan terima kasih sendiri pada sekitar separuh kesempatan ketika mereka dapat melakukannya, sedangkan ayah melakukannya kurang dari seperlima kesempatan. Perbedaan tersebut ditemukan signifikan secara statistik. Ibu juga mengucapkan selamat tinggal lebih sering daripada ayah. Data ini menunjukkan bahwa contoh yang diamati anak tidak selalu diberikan dengan frekuensi setara oleh kedua orang tua dalam keluarga yang diteliti.

Meniru kata belum sama dengan mengungkapkan perasaan

Anak cukup sering mengikuti arahan setelah orang tua meminta mereka mengucapkan terima kasih. Mereka melakukannya pada 86 persen kesempatan setelah mendapat instruksi. Namun, angka kepatuhan itu tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa anak sudah memilih ungkapan berdasarkan perasaan atau merangkai ucapan dengan cara sendiri. Dalam pengamatan tersebut, yang terlihat terutama adalah anak mengikuti bentuk yang disampaikan orang dewasa.

Greif dan Gleason menulis, “none of the children varied the adults’ form or attempted to express their appreciation in their own words.” Artinya, anak-anak tidak mengubah bentuk ucapan orang dewasa atau mencoba menyampaikan penghargaan dengan kata-kata mereka sendiri. Anak yang diberi mainan dan diminta berterima kasih mengulang ungkapan yang diminta, bukan menggantinya dengan kalimat seperti “aku suka ini” atau “bagus sekali”.

Baca juga: Ketika Diri Autentik Menjadi Kostum Baru

Temuan itu membedakan kemampuan mengucapkan rutinitas sopan santun dari pemahaman terhadap sentimen yang ingin disampaikan. Anak dapat menghasilkan frasa yang tepat setelah diberi arahan, tetapi dalam penelitian tersebut mereka tidak tampak mengembangkan ungkapan itu secara mandiri. Karena itu, pembelajaran kata-katanya dan pemahaman atas perasaan di balik kata-kata tersebut tidak selalu terlihat berjalan bersamaan.

Geediting mengaitkan pola itu dengan cara anak mengembangkan bentuk bahasa lain. Anak kecil yang belum menguasai bentuk lampau dari kata “go”, misalnya, dapat mengatakan “goed” dengan menerapkan pola bahasa atas inisiatif sendiri. Contoh tersebut berbeda dengan “tolong” dan “terima kasih” dalam pengamatan Greif dan Gleason: ungkapan kesopanan muncul sebagai rangkaian tetap yang ditiru dan diucapkan setelah diminta. Perbandingan ini membantu menjelaskan mengapa kemampuan mengulang frasa tidak selalu sama dengan kemampuan menggunakannya secara mandiri.

Pengulangan membentuk respons yang tampak otomatis

Penelitian 1980 itu memiliki batas: pengamatan dilakukan melalui sejumlah kecil kunjungan yang direkam pada setiap keluarga, dan para peneliti tidak mengikuti anak-anak tersebut hingga dewasa. Karena itu, hasilnya tidak menetapkan secara pasti kapan sebuah ungkapan yang awalnya harus diminta berubah menjadi kebiasaan spontan. Temuan itu mencatat perilaku anak dalam sesi penelitian, bukan perjalanan setiap anak sampai dewasa.

Meski demikian, pola yang terekam memperlihatkan bagaimana pengulangan dapat menjadi bagian dari pembentukan rutinitas. Jean Berko Gleason, yang disebut sebagai ahli psikolinguistik dari Boston University dan terus mempelajari cara anak memperoleh rutinitas kesopanan sepanjang 1980-an, mendokumentasikan rangkaian ketika orang tua memberi arahan dan anak mematuhinya. Geediting menjelaskan bahwa latihan semacam itu dapat terjadi berkali-kali dalam seminggu selama bertahun-tahun, sementara percakapan tertentu mungkin tidak lagi diingat seminggu kemudian.

Baca juga: 7 Perbedaan Orang Tegas dan Impulsif Saat Mengambil Keputusan

Dalam pola tersebut, orang tua menyampaikan pengingat, anak mengucapkan kata yang diminta, lalu situasi serupa dapat berulang. Arahan yang sama pada awalnya diperlukan agar anak mengucapkan ungkapan itu. Setelah rutinitas berkali-kali dilatih, pengingat mungkin tidak lagi diperlukan setiap kali. Respons yang tertinggal kemudian dapat terlihat spontan, meskipun penelitian itu tidak menentukan kapan perubahan tersebut terjadi pada masing-masing anak.

Laporan Geediting juga menempatkan pekerjaan orang tua dalam proses itu sebagai bagian penting dari kebiasaan yang kelak tampak sederhana. Pertanyaan “what do you say?” dapat terasa repetitif ketika harus disampaikan lagi, tetapi penelitian memperlihatkan bahwa anak sering mengucapkan terima kasih setelah mendapat arahan. Pengingat berulang itulah yang hadir dalam situasi belajar yang diamati, bukan kemampuan anak yang selalu muncul tanpa bantuan sejak awal.

Dengan demikian, anak berusia empat tahun yang lupa berterima kasih setelah menerima hadiah tidak serta-merta menunjukkan bahwa rutinitas itu tidak dipelajari. Dalam pengamatan Greif dan Gleason, bentuk ucapan yang keluar setelah diminta merupakan bagian dari cara anak menjalankan rutinitas tersebut. Studi itu tidak meramalkan waktu perubahan pada setiap anak, tetapi menunjukkan bahwa kebiasaan yang pada orang dewasa tampak refleks dapat didahului oleh arahan dan pengulangan selama masa kanak-kanak.