Saat Kita Masih Berusaha Menyenangkan Penonton yang Sudah Pergi
CIANJUR.CO - Ada rasa lelah yang tidak selalu berasal dari pekerjaan atau kegiatan sepanjang hari. Kelelahan itu bisa muncul karena seseorang terus memainkan peran yang dulu dibutuhkan untuk mendapat penerimaan, meskipun orang-orang atau lingkungan yang menjadi sasaran peran tersebut sudah lama berubah. Wajah, cara bicara, bahkan tawa seolah masih disusun untuk sebuah ruangan yang sebenarnya telah kosong.
Dalam esai yang diterbitkan The Vessel, pengalaman itu dibahas melalui pertanyaan tentang siapa yang masih menjadi penonton dalam hidup seseorang. Tulisan tersebut mengaitkannya dengan gagasan antropolog Terence Turner pada 1980 tentang the social skin, atau “kulit sosial”: tubuh menjadi semacam kanvas tempat kelompok sosial meninggalkan tanda melalui cat, bekas luka, perhiasan, gerak-gerik, dan keheningan. Tanda-tanda tentang rasa memiliki itu dapat bertahan begitu lama sehingga seseorang mengira tanda tersebut adalah bagian asli dari dirinya.
Karena itu, pertanyaan yang diajukan bukan sekadar bagaimana menanggalkan topeng. Esai tersebut mengajak pembaca memeriksa siapa yang sebenarnya masih menyaksikan penampilan itu, dan kapan mereka pergi. Gagasan utamanya bukan bahwa setiap peran harus dihapus, melainkan bahwa seseorang dapat menyadari peran yang masih dijalankan dan menilai apakah penontonnya masih ada.
Topeng yang terbentuk untuk bertahan
Perilaku yang belakangan terasa membatasi diri tidak selalu bermula sebagai kelemahan. Menurut uraian The Vessel, seorang anak tidak begitu saja memutuskan untuk menjadi selalu menyenangkan, tidak terlihat, cemerlang, lucu, atau seolah tidak terpengaruh. Anak belajar membaca keadaan di sekelilingnya: perilaku mana yang disambut hangat, mana yang dibalas dengan sikap dingin, dan mana yang membuat orang menutup pintu.
Dari pembacaan itu, anak membentuk cara untuk menyesuaikan diri. Topeng tersebut pada mulanya merupakan respons cerdas terhadap situasi yang dihadapi. Ia membantu anak bertahan dan memperoleh tempat dalam lingkungan sosialnya. Masalah muncul ketika cara itu terus bekerja setelah keadaan dan hubungan yang melahirkannya sudah berubah.
Esai itu menggambarkan berbagai sumber penilaian yang bisa menetap dalam ingatan. Seorang anak mungkin membentuk sikap tubuh demi mendapat persetujuan neneknya, yang kemudian meninggal enam tahun lalu. Ada pula suara ayah yang mengecewakan, meskipun sang ayah sudah tidak menyebut nama anaknya selama satu dekade. Kelompok teman sekolah menengah yang dahulu menentukan kegemaran mana yang dianggap memalukan juga bisa tercerai-berai, menjadi orang-orang asing yang mungkin tidak mengenali seseorang di jalan.
Gereja, desa, ruang kelas, atau meja makan keluarga dapat menjadi bagian dari lingkungan yang memberi bentuk pada penampilan seseorang. Ketika kelompok dan situasi itu telah bubar, kebiasaan yang terbentuk di dalamnya belum tentu ikut hilang. The Vessel menyebut keadaan ini sebagai perbedaan antara kelompok yang sudah pergi dan “tribunal” yang masih tinggal: orang-orangnya mungkin tidak lagi hadir, tetapi pengadilan batin atas perilaku seseorang terus berlangsung.
Penonton yang masih hidup, atau tak pernah benar-benar melihat
Dalam pembahasan ini, “hantu” tidak hanya berarti orang yang sudah meninggal. Istilah itu digunakan untuk menggambarkan penonton yang tidak lagi berada di ruangan, tetapi masih menerima penampilan seseorang. Sebagian telah meninggal, sebagian hanya melanjutkan hidup, dan sebagian lainnya masih hidup tetapi mungkin heran jika mengetahui bahwa seseorang terus mengatur pilihan hidup berdasarkan dugaan tentang pendapat mereka.
Baca juga: Riset 1980 Ungkap Kebiasaan Sopan Anak Terbentuk Lewat Pengulangan
Jenis penonton lain terasa lebih membingungkan: orang-orang yang sejak awal tidak benar-benar melihat diri seseorang. Esai The Vessel mencontohkan orang tua yang terlalu sibuk untuk memperhatikan anak sebagaimana dirinya yang sesungguhnya, komunitas yang merayakan versi seseorang yang tidak sepenuhnya sesuai kenyataan, atau pasangan yang mencintai proyeksi tertentu. Dalam keadaan seperti itu, seseorang dapat bertahun-tahun berusaha tampil bagi orang-orang yang perhatiannya tertuju ke tempat lain. Lama-kelamaan, penampilan itu terasa seperti diri sendiri.
Untuk menjelaskan mengapa perilaku lama bertahan di lingkungan baru, tulisan tersebut memakai konsep ekologi relict population: populasi yang tetap bertahan di habitat meskipun kondisi yang dahulu cocok baginya telah berubah. Contohnya adalah kelompok kecil tumbuhan yang menyukai dingin dan tersisa dari zaman es, bertahan di lereng gunung ketika dunia di sekelilingnya menghangat. Topeng sosial dianalogikan dengan perilaku peninggalan semacam itu, yang berkembang dalam “iklim” lama tetapi masih bertahan setelah iklim tersebut lewat.
Perumpamaan itu menekankan jarak antara asal-usul suatu kebiasaan dan keadaan saat ini. Lingkungan yang dahulu membuat topeng diperlukan mungkin sudah tidak ada, tetapi respons yang dibentuk untuk menghadapi lingkungan itu masih dapat muncul seolah ancamannya belum berakhir.
Ketika tubuh lebih dulu merespons
Keberadaan penonton lama kadang terlihat melalui reaksi tubuh kecil. Tenggorokan menegang ketika seseorang hampir menyampaikan hal yang sebenarnya ingin dikatakan. Tawa yang telah disiapkan muncul sebelum lelucon selesai. Permintaan maaf terlontar secara refleks. Bahu naik mendekati telinga saat topik tertentu dibicarakan. Di meja makan keluarga, seseorang mungkin mendapati dirinya bersikap seolah kembali menjadi versi yang jauh lebih muda daripada orang dewasa yang datang ke sana.
The Vessel merujuk pada studi pencitraan kecil pada 2003 oleh Naomi Eisenberger, Matthew Lieberman, dan Kipling Williams. Mereka mengamati otak orang-orang yang sengaja dikucilkan dalam permainan sederhana melempar bola. Dalam studi yang disebutkan esai tersebut, wilayah otak yang aktif berkaitan dengan pengalaman rasa sakit fisik, dan aktivitas itu sejalan dengan seberapa besar peserta merasa dikucilkan.
Rujukan tersebut digunakan untuk menjelaskan bahwa penolakan sosial tidak diproses sebagai gagasan abstrak semata. Setelah kelompok yang dahulu menjadi sumber penilaian bubar, tubuh masih dapat bersiap seolah keputusan akan segera dibacakan. Respons itu, menurut tulisan tersebut, bukan tanda kelemahan, melainkan jejak makhluk sosial yang pernah membutuhkan kelompok untuk bertahan dan belum menerima tanda bahwa keadaan darurat telah selesai.
Karena topeng melekat pada refleks, memahami situasi secara intelektual belum tentu cukup untuk menghentikannya. Seseorang bisa mengetahui bahwa penilaian ibunya tidak lagi mengatur hidupnya, tetapi tetap mendapati suara yang terasa asing keluar dari mulutnya saat berkumpul pada hari libur. Kebiasaan itu lebih tua daripada pemahaman yang datang kemudian dan hidup dalam respons otomatis, bukan hanya dalam pikiran.
Takut kehilangan diri di balik topeng
Saat mulai memeriksa diri, seseorang dapat menghadapi pertanyaan yang mengusik: jika topeng dilepas, apakah masih ada sesuatu di bawahnya? The Vessel menghubungkan kegelisahan ini dengan upacara inisiasi dalam berbagai tradisi. Dalam gambaran esai itu, upacara yang bertahan dari kolonisasi dan komodifikasi sering melibatkan proses menanggalkan nama, perhiasan, atau peran, kemudian melewati masa tidak tahu sebelum menerima wajah baru.
Baca juga: Tubuh Melambat, Pikiran Tetap Tajam: Tanda yang Kerap Terlewat
Orang yang menjalani proses tersebut diminta menghadapi rasa takut ketika kehilangan identitas yang biasa dikenakan. Gagasan yang disampaikan bukan bahwa diri seseorang sama dengan kostumnya, atau bahwa setelah kostum dilepas tidak ada apa-apa. Ada sesuatu yang lebih tua di bawahnya, sesuatu yang tidak pertama kali diberikan oleh kelompok sosial.
Dalam kehidupan modern, tulisan tersebut menyebut hanya sedikit wadah terstruktur untuk proses semacam itu. Karena itu, perubahan dapat datang tanpa direncanakan dan menyamar sebagai krisis: pernikahan berakhir, karier runtuh, orang tua meninggal, atau tubuh mengalami gangguan. Topeng dapat retak bukan karena seseorang sudah memutuskan untuk berubah, melainkan karena keadaan yang menopangnya tiba-tiba hilang.
Esai itu mengaitkan gambaran tersebut dengan tulisan The Vessel tentang burung phoenix. Dalam rujukan itu, phoenix bukan sekadar lambang untuk memulai kembali, tetapi gambaran tentang apa yang terjadi ketika kostum akhirnya terbakar dan sesuatu yang sebelumnya tidak disadari melangkah keluar dari abu.
Mengenali untuk siapa sebuah peran dimainkan
The Vessel mengusulkan sebuah jeda sebagai cara mendengarkan diri, bukan sebagai teknik yang harus dijalankan dengan aturan tertentu. Ketika menyadari diri sedang mengubah perilaku—melunakkan pendapat, membesar-besarkan pencapaian, tertawa pada sesuatu yang tidak lucu, meminta maaf karena mengambil ruang, atau menunjukkan kepastian yang sebenarnya tidak dirasakan—seseorang dapat bertanya: persetujuan siapa yang sedang diupayakan?
Jawabannya mungkin menunjuk pada orang tertentu, seperti orang tua, guru, atau kelompok teman semasa kecil. Bisa juga jawabannya lebih luas: kebudayaan, agama, atau golongan masyarakat yang tatapannya telah begitu tertanam sehingga orang tidak lagi menyadarinya. Ada pula kemungkinan seseorang tidak tahu siapa yang menjadi sasaran penampilannya, karena sudah terlalu lama menjalani peran tanpa penonton tertentu.
Keadaan tersebut tidak digambarkan sebagai kegagalan. Menurut esai itu, hal tersebut merupakan bagian biasa dari pengalaman makhluk sosial yang dibesarkan dalam kelompok tertentu. Tujuannya bukan menjadi tanpa topeng, sebab keinginan untuk selalu tampil tanpa topeng pun bisa berubah menjadi peran baru. Yang penting adalah mengenali topeng yang masih dikenakan, mengetahui untuk siapa topeng itu dipakai, lalu mempertimbangkan apakah penonton tersebut masih layak menerima penampilan itu.
Tidak semua topeng perlu ditinggalkan. Ada bentuk penampilan yang diberikan secara sadar sebagai bagian dari hubungan dan tanggung jawab. Kelembutan kepada anak, sikap formal dalam upacara pemakaman, atau ketenangan profesional di tempat kerja disebut sebagai contoh peran yang dapat dipilih dengan penuh kesadaran. Masalahnya bukan pada keberadaan topeng, tetapi ketika seseorang tidak lagi memakainya secara sadar dan justru dikendalikan oleh topeng tersebut.
Kesadaran terhadap penonton lama juga dapat memunculkan dorongan untuk bereaksi berlebihan: mengumumkan keaslian diri, membakar semua topeng, atau menunjukkan kepada orang lain bahwa seseorang telah bebas dari peran lama. Namun, esai itu memperingatkan bahwa tindakan tersebut bisa menjadi pertunjukan baru bagi kelompok baru, yaitu orang-orang yang mengagumi mereka yang menanggalkan topeng. Dalam situasi itu, penontonnya hanya berganti kostum.
Baca juga: Ketika Diri Autentik Menjadi Kostum Baru
Memilih ruang dan penonton
Berhenti tampil bagi hantu tidak sama dengan menutup diri dari semua orang. The Vessel menggambarkannya sebagai belajar memilih cuaca sosial mana yang bersedia dihadapi. Ada ruang yang layak menerima diri seseorang secara utuh, sementara ruang lain belum tentu memperoleh kepercayaan yang sama. Kemampuan membedakan keduanya disebut sebagai pemahaman yang tumbuh perlahan melalui pengalaman tubuh, bukan sesuatu yang selesai dalam hitungan akhir pekan.
Esai tersebut juga mengingatkan bahwa tidak setiap topeng berasal dari rasa takut. Sebagiannya muncul dari kasih dan keinginan tulus agar diri dapat dipahami oleh orang-orang yang berarti, serta menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri. Menilik kembali perilaku yang diwariskan tidak harus berarti memerangi kelembutan yang pernah membuat seseorang mampu menyesuaikan diri. Kemampuan menerjemahkan diri agar dapat diterima kelompok tidak otomatis menunjukkan kepengecutan.
Penonton yang dianggap masih layak mendapat perhatian pun tidak terbatas pada orang-orang yang berada di sekitar saat ini. The Vessel menyebut tanah, orang-orang yang telah meninggal tetapi benar-benar menyayangi seseorang, diri masa kecil yang masih terasa hadir, tubuh, dan diri masa depan yang akan menanggung akibat pilihan hari ini. Kelompok yang lebih tua dan lebih jujur itu dapat menjadi ukuran yang berbeda dari penilaian seorang ibu yang mengecewakan atau hierarki teman sekolah menengah.
Menata hidup agar selaras dengan hal-hal tersebut, menurut esai itu, merupakan tugas yang berbeda dari memenuhi penilaian kelompok lama. Tulisan The Vessel tentang serigala digunakan untuk menggambarkan kesetiaan pada kelompok yang benar-benar dipilih, termasuk kesetiaan pada naluri terdalam diri sendiri.
Seseorang mungkin tidak pernah menanggalkan seluruh topeng. Tujuannya bukan mencapai kemurnian, melainkan mengetahui kapan sedang memainkan peran, untuk siapa peran itu dimainkan, apakah penontonnya masih ada, dan apakah dirinya menyetujui pertunjukan tersebut.
Kesadaran itu bisa disertai kesedihan ketika seseorang melihat betapa banyak bagian hidupnya pernah diatur untuk tatapan orang-orang yang sebenarnya tidak memperhatikan. The Vessel menggambarkan kesedihan tersebut sebagai respons yang wajar, seperti perilaku peninggalan yang akhirnya dilepaskan dari habitat yang sudah lama berubah.
Pada waktu lain, tanda perubahan mungkin lebih kecil: sebuah gerak yang tidak ditujukan kepada siapa pun, tawa yang tidak diarahkan untuk mendapat respons, keheningan yang tidak dipakai sebagai strategi, atau pilihan yang diambil tanpa persetujuan hantu lama. Dalam uraian The Vessel, tindakan semacam itu menjadi awal dari rasa memiliki yang berbeda—bukan rasa memiliki pada tribunal, melainkan rasa memiliki atas hidup sendiri.