UPDATE

Industrial Next Kembangkan Robot Pabrik yang Bisa Berganti Tugas dalam Hitungan Menit

14/10/2026 06:13

CIANJUR.CO - Perubahan produk di jalur produksi bisa membuat robot industri konvensional kehilangan kemampuan menjalankan tugasnya. Mesin yang sebelumnya diprogram untuk menangani satu jenis pekerjaan biasanya membutuhkan pemrograman ulang, penyesuaian fisik, atau penggantian peralatan ketika lini produksi berubah. Proses itu dapat berlangsung berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Industrial Next, startup berbasis di San Francisco, ingin memangkas waktu perubahan tersebut menjadi hitungan menit.

Perusahaan ini mengembangkan stasiun robot mandiri yang ditenagai kecerdasan buatan dan model fondasi milik mereka. Sistemnya menghubungkan penglihatan robot, konteks tugas, dan gerakan. Berdasarkan laporan TechCrunch AI yang terbit pada 14 Oktober 2026, Industrial Next menyatakan pendekatan itu memungkinkan lini produksi disesuaikan tanpa pemrograman tradisional. Sasaran perusahaan adalah membantu produsen mengotomatisasi pekerjaan rumit dan halus yang selama ini lazim dikerjakan manusia.

Industrial Next memaparkan teknologinya di panggung Startup Battlefield dalam acara TechCrunch Disrupt 2026. Pada kesempatan yang sama, perusahaan mengumumkan kemitraan dengan BMW Group Technology Office untuk mengevaluasi kemampuan manipulasi terampil berbasis AI dalam proses manufaktur. Pengumuman tersebut menjadi salah satu langkah perusahaan untuk menguji penerapan teknologinya di lingkungan produksi.

Berangkat dari kendala peralatan pabrik

Industrial Next didirikan pada 2021 oleh Lukas Pankau dan Allen Pan. Keduanya pernah bekerja di Tesla. Pankau menjabat sebagai arsitek listrik utama sebelum kemudian bergabung dengan Waymo. Sementara itu, Pan memimpin upaya Tesla dalam otomasi pabrik, lalu menjadi kepala arsitek di Neolix, perusahaan teknologi kendaraan otonom.

Gagasan mendirikan perusahaan muncul saat mereka bekerja bersama di Tesla. Pertemuan pertama Pankau dengan Pan bahkan terjadi ketika Pankau tersandung Pan yang sedang tidur di catwalk pabrik setelah bekerja semalaman. Keduanya pada awalnya tidak akur, tetapi kemudian menyadari bahwa mereka sama-sama berfokus menyelesaikan pekerjaan dan memiliki keahlian yang saling melengkapi.

Baca juga: CEO Cerebras Prediksi Asisten AI Pribadi Segera Hadir di Rumah

Pengalaman melihat teknologi kendaraan dan sistem swakemudi berkembang, sementara peralatan pabrik masih menjadi hambatan, membuat mereka mempertanyakan cara kerja manufaktur. Pankau mengatakan para insinyur dapat menggunakan algoritma pembelajaran mesin untuk merancang mobil, tetapi kesulitan memprogram robot di pabrik. Menurutnya, terdapat kesenjangan antara kemampuan merancang mobil atau sistem swakemudi dan peralatan pabrik yang sudah berusia puluhan tahun.

“Kami punya semua hal canggih yang bisa dilakukan pada mobil. Saya bisa menjalankan algoritma machine learning untuk merancang mobil bagi saya. Tetapi saya tidak bisa mencari cara memprogram robot,” ujar Pankau. Ia menjelaskan bahwa para pendiri mulai memikirkan kembali bentuk peralatan produksi dengan memanfaatkan teknologi dan pengetahuan yang tersedia saat ini.

Gagasan itu tetap mereka bicarakan setelah meninggalkan Tesla. Pankau kemudian bekerja di Waymo, sedangkan Pan berada di Momenta, pengembang sistem swakemudi di China. Pankau menyebut dirinya merasa bosan di Waymo karena merindukan tempo kerja di Tesla. Ia mengatakan Pan berada dalam situasi serupa. Setelah sekitar tiga tahun terus memperbincangkan teknologi industri yang dianggap tidak memadai, mereka memutuskan untuk memulai perusahaan.

Belajar melalui simulasi

Robot industri tradisional umumnya diprogram untuk melakukan tugas yang sangat spesifik dan berulang. Pankau menjelaskan, perubahan kecil pada proses atau produk dapat membuat robot gagal bekerja atau memicu waktu henti yang mahal. Akibatnya, produsen terkadang harus menyederhanakan produk agar bisa dibuat dengan pola yang konsisten dan mudah diulang.

Baca juga: CEO Cerebras Nilai Narasi Kiamat AI Menutupi Potensi Teknologi

Membuat robot lebih fleksibel juga menghadapi persoalan ketersediaan data. Robot membutuhkan data pelatihan dalam jumlah besar, tetapi data untuk mengajari mesin melakukan pekerjaan fisik yang kompleks belum tersedia sebanyak data yang digunakan untuk melatih model AI dari internet. Pankau membandingkan keadaan itu dengan robot yang dapat menari karena tersedia data untuk gerakan semacam itu, sementara pekerjaan perakitan berpresisi tinggi jauh lebih sulit diajarkan.

Industrial Next mengandalkan lingkungan simulasi dengan tingkat detail tinggi untuk melatih robot melakukan tugas presisi dan manipulasi terampil. Simulasi tersebut dirancang mendekati dinamika dunia nyata. Pankau menyebut pemahaman umum mengenai proses menjadi bagian dari pendekatan mereka, sedangkan simulasi membantu robot berlatih menjalankan pekerjaan secara akurat.

Dalam penjelasannya kepada TechCrunch AI, Pankau mengatakan robot dapat mempelajari tugas berpresisi tinggi melalui simulasi yang mendekati kondisi sebenarnya, bahkan ketika robot hampir tidak melihat komponen yang ditangani. Dengan kata lain, sebelum diterapkan di jalur produksi, robot berlatih di lingkungan virtual yang meniru sifat fisik pekerjaan nyata.

Stasiun robot Industrial Next dapat dikonfigurasi ulang, digabungkan, lalu digunakan kembali pada lini produk berbeda. Tugas baru diajarkan melalui simulasi dan demonstrasi, bukan semata-mata dengan skrip yang ditulis secara tetap. Perusahaan mengklaim cara ini memungkinkan perubahan pekerjaan tanpa perlu membangun ulang seluruh sistem robot untuk setiap produk.

Baca juga: Hakim Beri Apple Akses Cepat ke Dokumen Wawancara OpenAI

Menangani komponen kecil dan rapuh

Pankau mengatakan sejumlah stasiun kerja perusahaan telah dipakai dalam pembuatan salah satu ponsel pintar paling populer di dunia. Ia tidak mengungkap nama pelanggan. Robot tersebut menangani pekerjaan yang menurutnya selama bertahun-tahun gagal diotomatisasi oleh produsen, termasuk memasukkan kabel fleksibel yang rapuh dan memasang tutup konektor berukuran kecil.

Ia juga menjelaskan stasiun untuk mengupas lapisan film pelindung dari modul kamera dan tombol. Menurut Pankau, robot berbasis AI itu mengerjakan proses tersebut dengan kecepatan setara atau melampaui manusia dan akurasi 100 persen. Sistem itu, katanya, tetap mampu bekerja setelah dipindahkan ke model ponsel serta lini produksi baru yang belum pernah ditanganinya.

Pankau mengatakan kinerja seperti itulah yang ingin mereka miliki ketika masih bekerja di Tesla, saat sejumlah stasiun robot dilewati karena sulit diprogram dengan teknologi tradisional. Dari pekerjaan merakit ponsel, Industrial Next ingin memperluas penggunaan teknologinya ke tugas yang lebih rumit. Tujuan jangka panjang yang ia sampaikan adalah membangun mobil secara menyeluruh tanpa ada manusia yang menyentuhnya.