Received Pronunciation, Aksen Inggris yang Mengungkap Latar Pendidikan

08/10/2026 10:35

CIANJUR.CO - Aksen dapat menyampaikan lebih dari sekadar cara seseorang mengucapkan kata. Di Inggris, Received Pronunciation (RP) dikenal sebagai ragam pengucapan yang dapat memberi petunjuk tentang pendidikan dan lingkungan sosial penuturnya. Aksen ini kerap diasosiasikan dengan kalangan elite, meskipun jumlah penutur aslinya hanya sebagian kecil dari populasi.

Dalam drama My Fair Lady, Henry Higgins yakin seorang penjual bunga dari Covent Garden dapat tampil seperti seorang duchess setelah pengucapan vokalnya diperbaiki. Eliza Doolittle kemudian membuktikan bahwa perubahan aksen bisa mengubah cara orang memandangnya. Seperti diberitakan Geediting, gambaran itu berangkat dari sejarah nyata RP, aksen yang dahulu diajarkan kepada murid sekolah tertentu dan tetap mudah dikenali hingga kini.

RP merupakan kependekan dari Received Pronunciation. Pada abad ke-19, para ahli fonetik memakai istilah “received” untuk menyebut pelafalan yang diterima dalam pergaulan sopan. Pengucapan ini membuat penuturnya dianggap sesuai dengan standar tertentu, bukan dikoreksi. Berbeda dengan aksen Yorkshire atau Scouse yang berhubungan dengan wilayah, RP lebih lekat dengan kelompok berpenghasilan tinggi dan sekolah yang mampu mereka biayai.

Aksen yang terbentuk di ruang kelas

Menurut Accent Bias Britain, proyek penelitian yang dijalankan Queen Mary University of London dan University of York, pada akhir abad ke-19 RP telah menjadi suara baku di sekolah-sekolah Inggris yang memungut biaya serta universitas yang menerima lulusan mereka. Perkembangannya berkaitan dengan sejumlah kecil sekolah berbayar yang membuat para siswanya memiliki cara bicara serupa.

Baca juga: Perempuan di Atas 45 Tahun Merasa Kerap Tak Terlihat di Ruang Publik

Lulusan sekolah-sekolah itu kemudian memasuki pemerintahan, pengadilan, dan dinas sipil imperium. Saat mereka bekerja di lembaga-lembaga tersebut, aksen yang dibawa dari bangku sekolah turut menyebar. Dengan demikian, riwayat RP tidak hanya berhubungan dengan kebiasaan pengucapan, tetapi juga dengan jalur pendidikan dan pekerjaan yang terbuka bagi kelompok tertentu.

Banyak aksen berkembang perlahan melalui interaksi warga di suatu wilayah dan perubahan antargenerasi. RP memiliki riwayat berbeda: pengucapannya dibentuk dalam lingkungan sekolah berbiaya, dengan pola yang dapat dipelajari seperti sebuah seragam. Seseorang bisa berpindah daerah, berganti pekerjaan, atau mengalami perubahan kelas sosial setelah sekolah, tetapi aksen yang sudah terbentuk ketika berusia 14 atau 15 tahun cenderung bertahan.

Ketahanan itu membantu menjelaskan mengapa aksen tersebut masih berfungsi sebagai penanda latar pendidikan. Suara seseorang dapat lebih banyak mengisyaratkan ruang kelas tempat ia pernah belajar daripada daerah tempat ia tinggal sekarang. RP memang tidak berasal dari satu wilayah Inggris tertentu, tetapi sering terdengar oleh banyak orang sebagai aksen selatan yang dekat dengan London. Accent Bias Britain mengaitkan persepsi itu dengan asal-usul historis aksen tersebut: sekolah-sekolah yang membentuknya tidak tersebar merata di seluruh negeri, sehingga asosiasi wilayah ikut melekat.

Penuturnya sedikit, pengaruhnya besar

RP mudah dikenali dalam pidato, siaran berita, dan drama berlatar rumah bangsawan. Namun, kesan bahwa banyak orang menggunakannya tidak sejalan dengan perkiraan jumlah penutur. Sir Peter Lampl, pendiri sekaligus ketua Sutton Trust, pada 2022 menyatakan bahwa hierarki prestise aksen masih kuat di masyarakat Inggris dan BBC English menjadi aksen dominan di kalangan pemegang otoritas. Ia juga menyebut kurang dari 10 persen penduduk memiliki aksen tersebut.

Baca juga: Perhatian Bukan Sekadar Sumber Daya, tetapi Hubungan dengan Kehidupan

Perkiraan Accent Bias Britain lebih rendah. Proyek itu mencatat penutur asli RP berjumlah sekitar 3 persen dari populasi Inggris. Kedua angka tersebut menunjukkan bahwa aksen yang diasosiasikan dengan posisi berwenang digunakan oleh kelompok yang kecil. RP terus dikenali karena kelompok penuturnya terkonsentrasi di puncak berbagai lembaga, meskipun sebagian besar imperium tempat aksen itu pernah menyebar sudah berlalu. Kelangkaan ikut mempertahankan daya pembeda aksen tersebut.

Penilaian aksen di lingkungan kerja

Ucapan singkat dapat membawa informasi sosial yang ditangkap pendengar secara otomatis, sering kali tanpa disadari. Karena itu, aksen bisa menjadi jalan pintas untuk menebak latar seseorang, tetapi tebakan tersebut tidak selalu menjadi penilaian yang adil. Devyani Sharma, profesor Queen Mary University of London yang menulis penelitian aksen Sutton Trust pada 2022, menyatakan bahwa hierarki prestise aksen yang telah lama ada di Inggris masih bertahan. Ia juga menjelaskan bahwa diskriminasi berdasarkan aksen merugikan kelompok tertentu pada titik penting mobilitas sosial, termasuk wawancara kerja.

Temuan penelitian itu menggambarkan dampak tersebut melalui sejumlah angka. Sebanyak 29 persen manajer senior dari keluarga kelas pekerja mengatakan aksen mereka pernah diejek atau dikritik di tempat kerja. Mahasiswa dari Inggris utara juga lebih dari dua kali lipat dibanding mahasiswa selatan merasa khawatir aksen akan memengaruhi kesuksesan masa depan mereka: 41 persen berbanding 19 persen.

Di kalangan manajer senior dari latar sosial ekonomi lebih rendah, 22 persen khawatir aksen dapat menghambat keberhasilan mereka di tempat kerja. Angka pembanding pada mereka yang berasal dari keluarga lebih berada adalah 12 persen. Data tersebut memperlihatkan bahwa penilaian terhadap aksen bersinggungan dengan kesempatan dan pengalaman kerja. Penutur RP tidak perlu menjelaskan kelas sosialnya dengan kata-kata; aksen dapat lebih dahulu membentuk kesan pendengar, bahkan dalam percakapan singkat.

Baca juga: Percaya Diri yang Tenang Terlihat dari Sikap saat Berada di Bawah Tekanan

Julukan yang mengikuti pergantian raja

RP juga kerap dijuluki “Queen’s English”, tetapi sebutan itu bukan nama yang tetap. “King’s English” maupun “Queen’s English” merupakan istilah sehari-hari untuk bahasa Inggris yang dianggap standar atau benar. Pemakaiannya berubah mengikuti siapa yang bertakhta. Sebutan “King’s English” digunakan selama berabad-abad sebelum masa Victoria, lalu “Queen’s English” bertahan sepanjang pemerintahannya dan masa Elizabeth II yang berlangsung 70 tahun.

Ketika Charles III naik takhta pada 2022, sebutan itu kembali menjadi “King’s English”, meski perubahan tersebut nyaris tidak disadari banyak orang karena “Queen’s English” telah lama akrab bagi sebagian besar masyarakat. Queen’s English Society, kelompok yang berfokus pada penggunaan bahasa, mempertahankan nama lamanya selama dua tahun setelah Elizabeth II wafat sebagai bentuk penghormatan. Dalam pertemuan tahunan September 2024, para anggotanya akhirnya memilih nama King’s English Society dengan hasil 75 suara berbanding 7.

Julukan yang dipinjam dari gelar kerajaan itu masih melekat pada aksen yang sesungguhnya berkembang di lingkungan sekolah berbayar. Sejarah tersebut membantu menjelaskan mengapa satu kalimat dapat memberi kesan tentang pendidikan seseorang, sekaligus mengapa cara bicara masih berperan dalam hierarki sosial dan pengalaman kerja di Inggris.