Percaya Diri yang Tenang Terlihat dari Sikap saat Berada di Bawah Tekanan
CIANJUR.CO - Kepercayaan diri sering disamakan dengan suara lantang, bicara cepat, atau sikap yang terus bergerak maju. Namun, tidak semua orang yang memenuhi ruang dengan perkataan dan gerak-gerik benar-benar merasa yakin. Geediting mengulas bahwa percaya diri yang lebih sulit ditiru justru tampak ketika seseorang tidak buru-buru bereaksi, terutama pada saat situasi menekan.
Orang yang dianggap mampu menguasai suasana tidak selalu menjadi orang paling keras suaranya. Mereka dapat memberi ruang bagi orang lain untuk berbicara, mempertahankan nada yang terkendali, dan tidak merasa perlu mengisi setiap keheningan. Sikap semacam ini berbeda dari kepercayaan diri yang dipentaskan untuk memperoleh perhatian. Yang satu berpusat pada situasi, sedangkan yang lain lebih sibuk mengelola kesan di hadapan orang lain.
Perilaku percaya diri yang dibuat-buat, menurut uraian Geediting, dapat dikenali dari pola seperti menyela terlalu cepat, melontarkan lelucon dengan suara berlebihan, atau menyampaikan pendapat seolah-olah sedang menghadapi tantangan. Sikap tegas memang bisa membuat orang di ruangan mengikuti seseorang, setidaknya untuk sementara. Namun, penampilan seperti itu belum tentu bertahan ketika menghadapi tekanan sungguhan karena lebih ditujukan kepada penonton daripada kebutuhan situasi.
Dalam artikel tersebut, empat perilaku dibahas sebagai tanda yang kerap membuat seseorang terbaca benar-benar percaya diri, bukan sekadar tampil lantang. Keempatnya berkaitan dengan cara tubuh dan suara merespons tekanan, bagaimana seseorang menyikapi jeda dalam percakapan, serta seberapa besar ia merasa harus menjadi pusat perhatian.
Tetap tenang ketika situasi menegang
Tekanan sering kali lebih dahulu terlihat pada tubuh sebelum seseorang mengatakannya. Kaki yang terus mengetuk, tangan yang mencari pena atau ponsel, serta kebiasaan memindahkan tumpuan dari satu kaki ke kaki lain merupakan contoh gerak yang dapat muncul saat seseorang tegang. Dalam penjelasan Geediting, gerakan tersebut menjadi saluran bagi sistem saraf yang sedang mencari tempat untuk melepaskan stres.
Seseorang yang tetap diam ketika orang-orang di sekitarnya gelisah belum tentu tidak merasakan ketegangan. Perbedaannya, ia mampu membiarkan dorongan untuk bergerak berlalu tanpa langsung menuruti dorongan itu. Kemampuan tersebut dapat terbentuk melalui latihan atau temperamen. Sikap tubuh yang tidak terus-menerus memperlihatkan sinyal stres kemudian terbaca sebagai tanda bahwa ketegangan sedang dikelola, bukan dihindari.
Baca juga: Riset Menunjukkan Kebosanan Bisa Membuka Ruang bagi Ide Kreatif
Karena itu, cara seseorang duduk ketika menerima pertanyaan sulit bisa menjadi petunjuk sederhana bagi orang lain. Jika tangannya tidak segera mencari sesuatu untuk dimainkan, ia tampak sanggup bertahan dalam situasi tersebut. Yang dinilai bukan berarti orang itu tidak memiliki rasa cemas, melainkan bagaimana ia mengatur respons fisik ketika menghadapi tekanan.
Menjaga suara tetap datar
Suara juga dapat memperlihatkan respons tubuh terhadap tekanan. Geediting merujuk pada tinjauan sistematis tahun 2025 di jurnal Stress and Health, yang menemukan bahwa frekuensi dasar suara—ukuran fisik yang berkaitan dengan tinggi-rendah nada—cenderung meningkat setelah peristiwa yang menimbulkan stres.
Penjelasan yang dikutip dalam artikel itu bersifat mekanis. Stres mengencangkan otot di sekitar pita suara. Ketika pita suara lebih tegang, getarannya menjadi lebih cepat dan suara terdengar lebih tinggi. Tinjauan tersebut menjelaskan, “ketegangan yang lebih besar pada pita suara membuatnya bergetar lebih cepat, menghasilkan suara dengan frekuensi lebih tinggi.”
Dalam keadaan demikian, mempertahankan suara agar tetap datar berarti bekerja melawan kecenderungan fisik tubuh. Seseorang perlu menyadari tarikan menuju nada yang lebih tinggi dan memilih untuk tidak mengikutinya. Itulah sebabnya suara yang terkendali dapat lebih terasa dalam negosiasi atau pertemuan yang sulit dibandingkan pilihan kata tertentu. Pendengar mungkin tidak dapat menjelaskan penyebabnya, tetapi dapat menangkap kestabilan tersebut.
Membiarkan jeda tanpa buru-buru mengisinya
Tekanan sosial juga membuat orang ingin menutup setiap jeda. Bunyi seperti “um” atau “uh”, tawa gugup, maupun kalimat yang dimulai ulang beberapa kali dapat muncul ketika seseorang mencari waktu untuk berpikir. Geediting menyebut penelitian peneliti di KTH Royal Institute of Technology yang menguji penilaian pendengar terhadap kepercayaan diri pembicara berdasarkan letak bunyi pengisi, bersama dengan nada dan kecepatan bicara.
Hasil paling jelas yang dikutip dalam artikel itu menyebut bahwa ujaran yang terdengar paling percaya diri “tidak memiliki bunyi pengisi, memiliki f0 rendah dan laju bicara tinggi”. Namun, penjelasan Geediting menyoroti bukan hanya soal kecepatan, melainkan absennya bunyi pengisi. Jeda yang tetap hening dapat memberi kesan bahwa pembicara percaya ruang kosong itu tidak akan merugikannya.
Baca juga: Kecerdasan Emosional Terlihat dari Cara Seseorang Mengelola Perasaan
Sebaliknya, mengisi jeda dengan suara tanpa isi dapat terbaca sebagai kecemasan untuk membuktikan bahwa dirinya masih memegang giliran bicara. Ini tidak berarti semua keheningan sama. Keheningan canggung biasanya berlangsung terlalu lama dan membuat kedua orang tidak tahu bagaimana mengakhirinya. Jeda yang dimaksud sebagai tanda kendali lebih singkat dan disengaja: seseorang mengambil satu ketukan sebelum melanjutkan, bukan terjebak karena kehabisan kata.
Tidak terus-menerus tampil untuk orang lain
Kepercayaan diri yang dipentaskan kerap diarahkan kepada penonton yang dibayangkan sedang menilai. Tom Gilovich, profesor psikologi di Cornell University, telah meneliti selama beberapa dekade kekeliruan orang dalam memperkirakan seberapa besar perhatian yang diberikan orang lain kepada mereka. Geediting mengaitkan penelitian Gilovich mengenai spotlight effect dengan kesenjangan antara persepsi dan kenyataan itu.
Gilovich menyatakan, “kita merasa menjadi objek perhatian orang lain lebih besar daripada kenyataannya.” Ia juga menjelaskan bahwa orang lain sibuk dengan kehidupan dan urusan mereka sendiri, sehingga menghabiskan lebih sedikit waktu untuk memikirkan seseorang dibandingkan perkiraan orang tersebut. Memahami hal ini bukan berarti seseorang tidak boleh peduli pada pendapat orang lain, melainkan membantu membatasi siapa yang benar-benar menjadi perhatian.
Orang yang menyadari bahwa tidak semua orang sedang mengamati dirinya tidak perlu terus mengatur bagaimana seluruh ruangan menilainya. Ia tetap dapat memikirkan pandangan orang yang penting, tetapi tidak harus mengerahkan tenaga untuk tampil bagi kerumunan yang mungkin sedang memikirkan urusan masing-masing.
Keempat perilaku tersebut, menurut Geediting, dapat dipelajari melalui pengulangan dan kebiasaan memperhatikan kapan dorongan untuk tampil mulai muncul. Seseorang dapat berlatih membiarkan dorongan itu berlalu, alih-alih langsung mengikuti setiap gerak, menaikkan suara, mengisi jeda, atau mencari perhatian. Prosesnya lebih lambat daripada membangun kesan percaya diri melalui penampilan, tetapi sikap yang terbentuk lebih sulit dipalsukan karena berangkat dari kemampuan mengelola respons diri sendiri.