Perempuan di Atas 45 Tahun Merasa Kerap Tak Terlihat di Ruang Publik

08/10/2026 10:33

CIANJUR.CO - Perasaan tidak lagi menjadi pusat perhatian dapat muncul perlahan seiring bertambahnya usia. Bagi sebagian perempuan, perubahan itu terasa ketika mereka memasuki ruangan yang ramai dan menyadari bahwa orang-orang, terutama pria, seolah tidak lagi memperhatikan kehadiran mereka. Pengalaman tersebut tidak selalu dibicarakan, padahal bagi yang mengalaminya, pergeseran perhatian bisa terasa nyata dan membingungkan.

Geediting melaporkan, survei pada 2014 terhadap 2.000 perempuan yang diselenggarakan atas permintaan merek obat herbal A.Vogel menemukan lebih dari dua pertiga perempuan berusia di atas 45 tahun pernah merasa sama sekali tidak diperhatikan pria saat memasuki ruangan yang ramai. Sebanyak 46 persen responden menyatakan orang-orang di sekitar mereka tampaknya tidak memahami perubahan tersebut. Angka itu menggambarkan pengalaman yang dirasakan para peserta survei, bukan ukuran untuk menjelaskan pengalaman setiap perempuan.

Eileen Durward, pakar kesehatan yang bekerja bersama A.Vogel dalam penelitian tersebut, mengatakan dunia dapat terasa lebih berorientasi pada penghargaan terhadap perempuan muda. Akibatnya, perempuan yang telah mencapai usia tertentu bisa merasa diabaikan atau kurang dihargai. Pernyataan itu menamai perasaan yang muncul dalam survei, meski penelitian yang dibiayai perusahaan tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa pengalaman itu berlaku untuk semua perempuan.

Penelitian lanjutan melihat bentuk pengabaian

Temuan survei A.Vogel bukan satu-satunya pembahasan mengenai perempuan lanjut usia yang merasa tidak terlihat. Pada 2023, Sue Westwood, peneliti sosio-legal di University of York, menerbitkan studi di Journal of Women & Aging. Ia mewawancarai perempuan yang lebih tua mengenai pengalaman mereka menjalani kehidupan publik seiring bertambahnya usia.

Baca juga: Perhatian Bukan Sekadar Sumber Daya, tetapi Hubungan dengan Kehidupan

Dalam studi itu, Westwood menemukan lima bentuk berbeda dari pengalaman merasa diabaikan. Di antaranya adalah penggambaran yang tidak tepat di media serta pengabaian dalam situasi sosial dan ruang konsumen sehari-hari. Dengan demikian, persoalannya tidak hanya berkaitan dengan apakah seseorang mendapat perhatian saat berada di sebuah ruangan. Pengalaman dalam survei A.Vogel menangkap salah satu bentuknya secara lebih sederhana, sementara penelitian Westwood menggambarkan beberapa situasi yang lebih luas.

Seorang peserta berusia 71 tahun, yang dalam publikasi penelitian hanya disebut dengan kode penelitian, menyampaikan bahwa hal yang paling melelahkan baginya adalah tidak terlihat. Kesaksian itu sejalan dengan angka survei, tetapi memberikan gambaran langsung tentang bagaimana pengalaman tersebut dirasakan. Peserta lain, perempuan berusia 73 tahun, menceritakan pernah berdiri menunggu dilayani di toko dan sama sekali diabaikan, seolah dirinya tidak ada.

Bukan semata-mata tentang penampilan

Pengalaman di toko menunjukkan bahwa persoalan ini tidak selalu berkaitan dengan ketertarikan romantis atau penampilan fisik. Menunggu untuk dilayani merupakan situasi sehari-hari, tetapi peserta berusia 73 tahun itu merasa kehadirannya tidak dianggap. Dalam konteks seperti ini, perhatian seseorang yang sedang sibuk dapat lebih dahulu tertuju kepada pelanggan lain. Kesaksian tersebut memperluas pembahasan dari perhatian pria di ruang ramai menjadi pengakuan atas keberadaan seseorang dalam kehidupan publik.

Baca juga: Percaya Diri yang Tenang Terlihat dari Sikap saat Berada di Bawah Tekanan

Westwood membingkai pola itu sebagai persoalan pengakuan sosial, bukan sekadar berkurangnya perhatian romantis. Pengakuan dapat terlihat dari apakah seseorang dilayani dengan segera, diajak bicara secara langsung, atau turut ditampilkan dalam gambaran budaya di sekitarnya. Pertanyaan apakah seorang pria memperhatikan seorang perempuan tertentu di sebuah ruangan merupakan persoalan yang lebih sempit dibandingkan pola pengakuan sosial tersebut.

Dalam kerangka penelitian Westwood, diakui sebagai pribadi yang hadir secara utuh dan sah di ruang bersama bukan hanya bentuk keramahan. Pengakuan itu dipandang sebagai salah satu kondisi dasar dalam pembahasan keadilan sosial, bersama hal-hal seperti upah yang adil dan perlakuan setara di hadapan hukum. Ketika suatu kelompok kerap tidak terlihat dalam situasi biasa, kondisi tersebut dapat menyampaikan posisi kelompok itu dalam budaya tanpa harus dinyatakan secara terbuka.

Pengalaman tidak dialami semua responden

Survei 2014 juga mencatat sisi lain: 15 persen perempuan berusia di atas 45 tahun mengaku memiliki tingkat kepercayaan diri tinggi atau sangat tinggi. Temuan ini penting karena memperlihatkan bahwa pengalaman merasa diabaikan tidak otomatis dialami setiap perempuan setelah mencapai usia tertentu. Banyak responden merasakan perubahan perhatian, tetapi ada pula yang menjawab bahwa mereka memiliki kepercayaan diri tinggi atau sangat tinggi.

Baca juga: Riset Menunjukkan Kebosanan Bisa Membuka Ruang bagi Ide Kreatif

Survei tersebut maupun studi Westwood tidak dirancang untuk menjelaskan apa yang membedakan kelompok yang merasa diabaikan dari kelompok yang tidak merasakannya. Karena itu, data yang tersedia tidak memberi dasar untuk menyimpulkan penyebab tertentu. Perbedaan jawaban justru menunjukkan bahwa pengalaman itu tidak dapat dianggap sebagai satu keadaan yang seragam atau sebagai kepastian yang menyertai usia tertentu.

Penelitian juga tidak dapat menetapkan makna dari pengalaman seorang perempuan dalam satu malam, di satu ruangan, atau dalam kejadian tertentu. Survei menunjukkan pola di antara banyak responden, tetapi tidak mengukur alasan seseorang mungkin terlewatkan dalam situasi khusus. Begitu pula, data tersebut tidak memberikan penilaian mengenai nilai diri atau arti pengalaman setiap individu.

Temuan yang dibahas Geediting menawarkan cara lain untuk membaca rasa tidak diperhatikan: sebagai pola dalam pembagian perhatian di kehidupan publik, bukan sebagai ukuran tentang penampilan atau pentingnya seseorang. Survei A.Vogel dan penelitian Westwood sama-sama membahas pengalaman pengabaian, meski menggunakan pendekatan dan cakupan yang berbeda. Keduanya tidak menghasilkan jawaban untuk setiap situasi pribadi, tetapi menunjukkan bahwa pengalaman semacam itu turut muncul dalam laporan perempuan dan penelitian mengenai kehidupan publik.