Produksi Padi Cianjur Capai 765.465 Ton hingga Agustus 2026
CIANJUR.CO - Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Cianjur mencatat produksi padi hingga Agustus 2026 mencapai 765.465 ton Gabah Kering Giling (GKG). Jumlah itu berasal dari luas panen 133.821 hektare di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Catatan tersebut menggambarkan hasil panen yang telah diperoleh sampai periode pelaporan, sementara kegiatan penanaman masih berlangsung.
Berdasarkan laporan ANTARA Jabar, Plt Kepala DTPHP Cianjur Wahyu Ginanjar menyebut produktivitas rata-rata mencapai sekitar 5,71 ton GKG dari setiap hektare lahan. Jika hasil tersebut dikonversi menjadi beras, jumlahnya sekitar 452.297 ton. Angka produksi GKG dan hasil konversi beras itu merupakan dua ukuran berbeda yang disampaikan dalam catatan dinas.
DTPHP juga memperkirakan produksi beras Cianjur hingga Agustus mencatat surplus sekitar 271.429 ton. Perkiraan tersebut disampaikan bersama angka kebutuhan konsumsi masyarakat Kabupaten Cianjur yang mencapai 180.868 ton. Dengan demikian, laporan dinas memuat perbandingan antara ketersediaan berdasarkan produksi dan kebutuhan konsumsi di tingkat kabupaten, selain mencatat capaian panen.
Baca juga: Dishub Kota Cirebon Proyeksikan PBJT Listrik Rp39 Miliar pada 2026
Wahyu mengatakan hasil panen petani sampai Agustus menunjukkan kapasitas produksi pangan Cianjur masih cukup besar. Ia menyebut produksi pertanian berpotensi berkontribusi terhadap ketersediaan pangan di Jawa Barat. “Hasil panen petani hingga Agustus menunjukkan kapasitas produksi pangan Cianjur masih cukup besar,” kata Wahyu. Pernyataan itu merujuk pada hasil panen yang tercatat dalam periode tersebut.
Potensi pertanian itu berada dalam wilayah Kabupaten Cianjur yang luasnya sekitar 361.940,50 hektare. Dari keseluruhan wilayah tersebut, DTPHP mencatat lahan pertanian bukan sawah seluas 261.619,20 hektare, sedangkan lahan sawah sekitar 66.086 hektare. Data tersebut memberikan gambaran mengenai luasan lahan yang dicatat dinas, dengan kategori lahan pertanian bukan sawah dan sawah.
Di antara lahan sawah tersebut, sekitar 44.479 hektare merupakan sawah irigasi dan 21.607 hektare berupa sawah tadah hujan. DTPHP menyebut keberadaan kedua jenis lahan itu sebagai salah satu modal penting untuk menjaga keberlanjutan produksi tanaman pangan. Rincian tersebut menunjukkan bahwa lahan sawah Cianjur mencakup area dengan pengairan irigasi maupun area yang mengandalkan hujan.
Baca juga: Pemkab Garut Siapkan Relokasi Pedagang Korban Kebakaran Pasar Andir
Di tengah musim kemarau, aktivitas pertanaman padi di Cianjur masih berjalan. Realisasi luas tanam pada Agustus 2026 tercatat mencapai 104.031 hektare. Angka luas tanam ini tidak sama dengan luas panen yang dilaporkan hingga Agustus, yakni 133.821 hektare. DTPHP mengingatkan bahwa kedua data tersebut merujuk pada tahapan kegiatan pertanian yang berbeda.
Wahyu menjelaskan luas tanam tidak dapat dibandingkan secara langsung dengan luas panen karena panen merupakan hasil dari pertanaman beberapa bulan sebelumnya. Tanaman padi membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat bulan sejak ditanam hingga panen. Karena itu, angka luas tanam dan luas panen dalam satu periode pelaporan perlu dipahami dengan memperhatikan jeda waktu dalam siklus pertanaman.
Baca juga: Majalengka Siapkan 100 Mahasiswa Kuliah dan Bekerja di Jepang
Untuk mendorong produksi, DTPHP terus mengupayakan peningkatan indeks pertanaman dan produktivitas. Langkah yang disebutkan meliputi penguatan infrastruktur pengairan, mekanisasi pertanian, penyediaan benih dan sarana produksi, serta pengendalian organisme pengganggu tanaman. Dinas juga mendorong peningkatan kapasitas sebagai bagian dari upaya mendukung kegiatan pertanian dan hasil produksi.
Upaya dinas tidak hanya diarahkan pada produksi di lahan. Penanganan pascapanen dan pengolahan hasil turut diperkuat untuk menjaga kualitas, mengurangi kehilangan hasil, serta meningkatkan nilai tambah produk pertanian. Rangkaian langkah tersebut disampaikan DTPHP bersama catatan produksi dan luas tanam hingga Agustus 2026, ketika penanaman padi masih berlangsung selama musim kemarau.