Riset Menunjukkan Kebosanan Bisa Membuka Ruang bagi Ide Kreatif
CIANJUR.CO - Gagasan kreatif kerap diceritakan seolah muncul mendadak pada momen yang dramatis: ketika seseorang sedang mandi, berlari, atau berbincang. Namun, bagian sebelum ide itu datang sering luput dari cerita. Padahal, waktu yang terasa membosankan bisa menjadi bagian dari proses berpikir, bukan sekadar jeda yang tidak berguna.
Seperti diberitakan Ideapod, pengalaman berjalan kaki menunjukkan bahwa kegiatan yang tidak menarik perhatian secara penuh dapat memberi ruang bagi pikiran yang sedang sesak untuk kembali tertata. Jalan kaki dalam gambaran tersebut bukan selalu dilakukan karena menyenangkan, melainkan karena menjadi cara yang dapat diandalkan untuk meredakan kepadatan pikiran. Aktivitasnya sendiri mungkin tidak istimewa; justru keadaan itulah yang dianggap penting.
Gagasan tersebut beririsan dengan penelitian psikolog Dr. Sandi Mann pada 2013. Dalam eksperimennya, peserta diminta menyalin angka dari buku direktori telepon selama 15 menit. Setelah itu, mereka diminta menyebutkan sebanyak mungkin kegunaan yang dapat dipikirkan untuk sepasang gelas polistirena.
Kelompok yang lebih dahulu menjalani tugas menyalin angka—tugas yang membosankan—menghasilkan jawaban yang lebih orisinal dibanding kelompok kontrol yang langsung mengerjakan tugas tentang gelas. Hasil itu memberi gambaran bahwa kejenuhan tidak selalu perlu segera disingkirkan. Mann menyoroti kecenderungan untuk memperlakukan kebosanan di tempat kerja sebagai sesuatu yang harus dihilangkan, padahal keadaan tersebut mungkin layak dipertahankan karena manfaatnya bagi kreativitas.
Tugas ringan memberi ruang bagi pikiran
Eksperimen itu juga diuji melalui kondisi lain. Menyalin angka dengan tangan tetap menuntut perhatian tertentu, sehingga pikiran tidak sepenuhnya lepas dari tugas. Mann kemudian meminta satu kelompok membaca angka, bukan menuliskannya. Membaca merupakan kegiatan yang lebih pasif dan memberi lebih banyak kesempatan bagi pikiran untuk mengembara.
Dalam tiga kondisi yang diuji, kelompok yang membaca angka menghasilkan gagasan paling orisinal. Perbandingan itu menunjukkan bahwa bukan sekadar adanya kegiatan membosankan yang menjadi perhatian, tetapi juga seberapa besar tuntutan kegiatan tersebut terhadap perhatian. Kebosanan yang tidak terlalu menyibukkan pikiran tampak lebih berguna daripada tugas yang membutuhkan lebih banyak keterlibatan.
Baca juga: Kecerdasan Emosional Terlihat dari Cara Seseorang Mengelola Perasaan
Penelitian lain mengkaji persoalan serupa melalui proses yang disebut inkubasi. Studi pada 2012 dari laboratorium Jonathan Schooler memberikan tugas kreativitas kepada peserta, lalu meminta mereka mengambil jeda. Bentuk jeda dibuat berbeda-beda: peserta mengerjakan tugas kedua yang menuntut, tugas yang ringan, beristirahat, atau tidak mendapat jeda.
Para peneliti melaporkan bahwa melakukan tugas ringan selama masa inkubasi menghasilkan peningkatan kinerja yang berarti pada masalah awal. Hasilnya lebih baik daripada kondisi lain yang diuji, termasuk beristirahat tanpa melakukan apa-apa. Dengan demikian, jeda yang membantu bukan selalu waktu kosong sepenuhnya. Kegiatan ringan dapat menjadi kondisi yang mendukung penyelesaian masalah yang untuk sementara tidak sedang dikerjakan secara langsung.
Kedua penelitian itu mengarah pada penjelasan bahwa pikiran masih dapat memproses masalah ketika perhatian seseorang beralih. Masalah yang ditinggalkan tetap berada di latar belakang, sementara kegiatan yang ringan cukup menyibukkan tangan tanpa menguasai seluruh perhatian. Ruang untuk pikiran mengembara pun tetap tersedia, sehingga seseorang dapat kembali memikirkan persoalan yang belum terpecahkan.
Dalam penjelasan Ideapod, keadaan itu berbeda dari istirahat total maupun tugas kedua yang berat. Istirahat tanpa kegiatan tidak menghasilkan peningkatan yang sama seperti tugas ringan dalam studi Schooler, sedangkan tugas yang menuntut perhatian dapat menyingkirkan masalah awal dari pikiran. Masa inkubasi, menurut uraian tersebut, perlu memiliki tingkat kesibukan yang cukup rendah agar pikiran dapat kembali menyentuh persoalan sebelumnya.
Kebosanan sulit dijadikan teknik yang disengaja
Ada satu batas penting: kebosanan yang berguna biasanya bukan sesuatu yang sengaja dipilih orang untuk mendapatkan ide. Tidak banyak orang menjadwalkan 15 menit menyalin nomor telepon dengan harapan memperoleh gagasan sebelum makan siang. Kebosanan lebih sering muncul sebagai akibat keadaan yang tidak direncanakan, seperti penerbangan tertunda, antrean, atau pekerjaan yang begitu monoton sehingga tidak terasa sepadan untuk dilawan.
Upaya menjadikan kebosanan sebagai metode juga berisiko mengubah sifat kegiatan itu. Ketika seseorang terus mengatur kebosanannya dengan tujuan tertentu, ia kembali memusatkan pikiran pada pekerjaan mencari ide. Menurut uraian tersebut, kegiatan yang seharusnya ringan pun dapat menjadi usaha lain untuk mengerjakan masalah, alih-alih memberi kesempatan bagi perhatian untuk mengendur.
Baca juga: Cianjur Creative Network: Penggerak Ekonomi Kreatif Lokal
Pengalaman berjalan kaki yang diceritakan penulis Ideapod menggambarkan perbedaan itu. Berjalan untuk menenangkan pikiran yang terlalu penuh dapat membantu, tetapi hasilnya tidak selalu sama ketika perjalanan dilakukan dengan tekanan harus menemukan ide. Gagasan justru kadang muncul ketika seseorang berjalan menuju suatu tempat dan sedang memikirkan hal lain, tanpa sengaja mencarinya.
Artikel itu juga menghubungkan persoalan tersebut dengan kerangka Sovereign Mind, yang dibangun di sekitar refleks untuk memperlakukan setiap waktu senggang atau tidak produktif sebagai sesuatu yang harus dihapus. Cara pandang semacam itu sejalan dengan kebiasaan mengisi setiap menit kosong dengan masukan baru. Ponsel, tempat kerja, dan keseharian pada umumnya, menurut tulisan tersebut, sering dibentuk oleh anggapan bahwa waktu tanpa kegiatan adalah waktu yang terbuang.
Jika temuan Mann dan Schooler berlaku, kebiasaan terus mengisi waktu dapat mengurangi kesempatan bagi pikiran untuk menjalani proses yang mendukung gagasan orisinal. Setiap menit kosong yang segera dipenuhi berpotensi menghilangkan kondisi yang diperlukan sebelum pemikiran baru terbentuk. Namun, tulisan itu menegaskan bahwa hal ini bukan kiat produktivitas yang bisa dijual sebagai cara instan untuk menghasilkan ide, melainkan uraian tentang bagaimana pikiran menyelesaikan sesuatu.
Isu serupa terlihat dalam pembahasan tentang penelitian akademik. Dalam sebuah sesi konferensi pada awal bulan tersebut, muncul pertanyaan mengenai kecenderungan mengukur penelitian berdasarkan jumlah: lebih banyak makalah, waktu penyelesaian lebih cepat, dan keluaran diperlakukan sebagai pengganti proses berpikir. Pergeseran itu berlangsung bertahap melalui insentif yang tidak dirancang atau diputuskan oleh satu orang di ruangan tersebut. Akibatnya, waktu yang tidak terburu-buru dan kadang membosankan dalam proses penelitian mulai dipandang sebagai bagian yang perlu dioptimalkan atau dihilangkan.
Di luar akademik, perubahan yang sama berlangsung dalam skala keseharian. Antrean dan ruang tunggu yang dahulu menyediakan jeda kini dapat menjadi kesempatan untuk segera mencari masukan lain. Perubahannya tidak terjadi melalui satu keputusan besar, tetapi sedikit demi sedikit, sampai kebosanan yang biasanya menjadi latar hari biasa ikut menghilang. Penulis Ideapod menutup pengamatannya dengan tetap berjalan untuk menenangkan pikiran: kebosanan, dalam pandangannya, bukan gangguan terhadap proses berpikir, melainkan bagian dari proses itu sendiri.