Mendag Budi Santoso Bahas Akses Pasar dan Investasi dengan Delegasi India di TEI ke-41
CIANJUR.CO - Menteri Perdagangan RI Budi Santoso bertemu dengan delegasi bisnis India pada hari kedua Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41, Kamis, 15 Oktober 2026. Pertemuan berlangsung di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten, dengan agenda membahas perkembangan perdagangan kedua negara serta aspirasi pelaku usaha India.
Berdasarkan laporan Kementerian Perdagangan RI, pembahasan turut menyoroti peluang ekspor produk manufaktur Indonesia ke India. Budi, yang dalam keterangan disebut Mendag Busan, menyampaikan bahwa ruang untuk meningkatkan ekspor masih terbuka. Ia menilai kerja sama yang lebih erat antara pemerintah dan dunia usaha diperlukan agar produk Indonesia dapat memasuki pasar India dengan lebih luas.
Salah satu hal yang disoroti adalah pemenuhan sertifikasi yang dipersyaratkan otoritas India. Persyaratan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong produk Indonesia masuk ke pasar negara itu. Karena itu, penguatan sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha menjadi perhatian dalam pembicaraan, seiring dengan peluang ekspor manufaktur yang dinilai masih besar.
Baca juga: Kemendag Perkuat Export Coaching Program untuk Dorong UMKM ke Pasar Global
Dalam pernyataannya setelah pertemuan, Mendag mengatakan, “Perlu ada penguatan sinergi dunia usaha dengan pemerintah agar produk-produk Indonesia makin gencar masuk ke India.” Ia juga menyebut pemenuhan sertifikasi dari Otoritas India sebagai salah satu jalur yang perlu diperhatikan. Aspirasi yang disampaikan delegasi bisnis India menjadi bagian dari pembahasan untuk memperkuat kinerja perdagangan bilateral.
Selain akses pasar, kedua pihak membicarakan perlunya pengukuhan komitmen perdagangan Indonesia dan India. Budi berpandangan, eksplorasi perundingan dagang bilateral perlu terus dilakukan untuk membantu mengatasi hambatan perdagangan. Menurutnya, peningkatan komitmen kedua negara dapat mendukung akses pasar yang lebih luas bagi produk Indonesia. Dengan demikian, pembicaraan mencakup upaya jangka perdagangan sekaligus peluang konkret bagi produk nasional untuk menjangkau pembeli di India.
Pertemuan juga menjajaki kemungkinan investasi India di Indonesia. Sektor yang dibahas meliputi otomotif dan furnitur, serta mineral strategis, termasuk logam tanah jarang. Penjajakan investasi ini berlangsung dalam pertemuan yang sama dengan pembahasan perdagangan, sehingga agenda delegasi tidak hanya berkaitan dengan arus ekspor dan impor, tetapi juga peluang penanaman modal di sejumlah bidang tersebut.
Baca juga: TEI 2026, Wamendag Roro Dorong Kemitraan Dagang Seimbang dengan Tiongkok
Hadir dalam pertemuan itu Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) Kedutaan Besar RI New Delhi, Yudho Sasongko, dan Atase Perdagangan RI New Delhi, Mohamad Iqbal Djamil. Delegasi bisnis India juga disuguhi kudapan khas Indonesia sebagai pengenalan kuliner Nusantara. Budi menyiapkan barongko, kudapan manis berbahan dasar pisang dari Sulawesi, serta Kopi Kenangan dan Kopi Tuku. Produk-produk kuliner tersebut diperkenalkan kepada mitra sebagai bagian dari upaya mengenalkan produk Indonesia secara lebih luas.
Perdagangan bilateral mencatat surplus bagi Indonesia
Data perdagangan yang disampaikan menunjukkan, pada Januari hingga Agustus 2026, total perdagangan Indonesia dengan India mencapai USD 16,62 miliar. Ekspor Indonesia ke India tercatat USD 12,81 miliar, sedangkan impor dari India sebesar USD 3,81 miliar. Dengan nilai tersebut, Indonesia mencatat surplus perdagangan USD 8,99 miliar terhadap India pada periode tersebut.
Baca juga: Kemendag-Nestlé Sepakati Dorongan Ekspor Produk Pertanian dari Hulu
Untuk keseluruhan 2025, nilai perdagangan kedua negara mencapai USD 23,13 miliar. Indonesia mengekspor barang senilai USD 18,30 miliar dan mengimpor USD 4,84 miliar dari India, sehingga surplus tercatat USD 13,46 miliar. Produk ekspor utama Indonesia ke India pada tahun itu ialah batu bara, minyak sawit, baja nirkarat, asam lemak industri monokarboksilat, dan korundum buatan.
Sementara itu, komoditas utama yang diimpor Indonesia dari India pada 2025 mencakup daging sapi, kacang tanah, kendaraan bermotor pengangkut barang, suku cadang traktor, dan tembakau. Rangkaian data tersebut menjadi gambaran hubungan perdagangan yang dibahas dalam pertemuan, di tengah dorongan untuk memperkuat komitmen, memperluas akses pasar, serta menjajaki peluang investasi.