Percakapan Mendalam Lebih Berkaitan dengan Kebahagiaan daripada Basa-basi
CIANJUR.CO - Orang yang paling bahagia dalam sebuah penelitian memiliki percakapan substantif sekitar dua kali lebih banyak daripada peserta paling tidak bahagia. Sebaliknya, waktu mereka untuk basa-basi hanya sekitar sepertiga dari kelompok yang paling tidak bahagia. Temuan ini menunjukkan bahwa kesejahteraan tidak hanya berkaitan dengan seberapa sering seseorang berbicara, tetapi juga dengan isi percakapannya.
Berdasarkan laporan Geediting, penelitian tersebut menggunakan rekaman percakapan dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya meminta peserta mengingat dan menceritakan kembali aktivitas mereka. Pendekatan ini memungkinkan peneliti mengelompokkan percakapan yang benar-benar terjadi. Hasilnya kemudian dibandingkan dengan tingkat kesejahteraan yang dilaporkan para peserta.
Riset itu dilakukan psikolog Matthias Mehl bersama rekan-rekannya di University of Arizona. Sebanyak 79 mahasiswa diberi alat perekam kecil bernama Electronically Activated Recorder. Perangkat tersebut merekam suara lingkungan selama 30 detik setiap 12,5 menit, selama empat hari dalam kegiatan sehari-hari peserta.
Alat itu tidak digunakan untuk mewawancarai peserta atau meminta mereka menyiapkan jawaban. Perangkat merekam percakapan yang kebetulan berlangsung saat alat aktif, baik ketika seseorang berada di toko bahan makanan, di mobil, maupun di meja dapur. Dengan demikian, materi yang dianalisis berasal dari momen biasa, bukan situasi wawancara yang dirancang khusus.
Isi percakapan dan kesejahteraan
Setelah rekaman terkumpul, para peneliti mengelompokkan percakapan menjadi dua kategori. Basa-basi mencakup obrolan tentang cuaca, urusan sehari-hari, atau mengulang pembicaraan mengenai menu makan malam. Sementara itu, percakapan substantif berisi hal yang lebih bermakna, seperti pendapat sungguhan, rencana, kekhawatiran, atau cerita tentang pengalaman seseorang pada hari itu.
Baca juga: Ketika Pola Kerja Keras Ayah Terulang dalam Kehidupan Anak
Perbandingan antara kategori percakapan tersebut dan tingkat kesejahteraan peserta memperlihatkan pola yang jelas. Kelompok paling bahagia menghabiskan waktu sekitar sepertiga lebih sedikit untuk basa-basi dan memiliki percakapan substantif sekitar dua kali lebih banyak daripada kelompok paling tidak bahagia. Perekam itu tidak menentukan terlebih dahulu siapa yang dianggap bahagia; pola baru terlihat setelah rekaman dikelompokkan dan dikaitkan dengan laporan kesejahteraan para peserta.
Temuan tersebut tidak berarti bahwa jumlah interaksi sama sekali tidak berhubungan dengan kebahagiaan. Orang yang lebih bahagia memang dapat berbicara lebih banyak dengan orang lain. Namun, hubungan antara kesejahteraan dan perbandingan percakapan substantif dengan basa-basi terlihat lebih kuat daripada hubungan antara kesejahteraan dan total banyaknya seseorang berbicara.
Dengan kata lain, dua orang dapat memiliki jumlah percakapan yang kurang lebih sama dalam sehari, tetapi berada pada tingkat kebahagiaan yang berbeda karena topik pembicaraan mereka tidak sama. Perbedaan itu menyoroti bahwa banyaknya kontak sosial dan kualitas percakapan merupakan dua hal yang berbeda. Dalam penelitian ini, kualitas isi percakapan lebih erat kaitannya dengan perasaan peserta setelahnya.
Mehl merangkum hasil tersebut dengan mengatakan, “Kehidupan yang bahagia bersifat sosial, bukan menyendiri, dan percakapannya mendalam, bukan dangkal.” Pernyataan itu menempatkan kesendirian dan percakapan dangkal sebagai dua persoalan yang berlainan. Data penelitian menunjukkan bahwa kedalaman percakapan memiliki bobot yang kerap kurang diperhatikan ketika orang menilai pengalaman sosialnya.
Baca juga: Delapan Petunjuk yang Dicermati agar Hadiah Terasa Tepat
Gambaran ini juga menjelaskan mengapa seseorang bisa merasa kosong setelah menghabiskan waktu di tengah banyak orang. Makan malam keluarga, acara santai bersama rekan kerja, atau percakapan grup yang ramai belum tentu memberikan pengalaman yang sama dengan satu pembicaraan panjang bersama seorang teman. Banyaknya orang yang ditemui tidak otomatis menunjukkan seberapa bermakna percakapan yang berlangsung.
Mengubah sebagian obrolan sehari-hari
Laporan Geediting juga menguraikan sejumlah cara untuk menggeser sebagian percakapan dari basa-basi menuju pembicaraan yang lebih substantif. Gagasannya bukan meminta seseorang mengubah seluruh kepribadian atau menjadi lebih banyak bicara, melainkan memperhatikan obrolan yang berlangsung otomatis dan mencari kesempatan yang sesuai untuk bertanya lebih langsung.
Salah satu cara yang dipaparkan adalah mengganti pertanyaan umum seperti “Bagaimana harimu?” dengan pertanyaan yang mengundang cerita lebih spesifik. Misalnya, menanyakan bagian paling menjengkelkan dari hari itu atau hal yang sedang dinantikan pada pekan tersebut. Pertanyaan semacam itu memberi ruang bagi jawaban yang lebih panjang daripada sekadar rangkuman singkat.
Cara lain adalah tidak terburu-buru mengisi jeda dengan komentar tentang cuaca atau lalu lintas. Menurut uraian tersebut, membiarkan keheningan bertahan satu atau dua detik lebih lama dapat memberi kesempatan kepada lawan bicara untuk menyampaikan hal yang memang sedang mereka pikirkan. Jeda tidak selalu harus segera ditutup dengan basa-basi.
Baca juga: Kesepian Berkaitan dengan Cara Seseorang Menilai Sifat Hewan Peliharaan
Percakapan tentang urusan praktis, seperti siapa yang menjemput anak atau kapan jadwal janji temu, tetap dapat terjadi. Namun, artikel itu menyarankan agar pertukaran informasi tersebut sesekali disertai satu detail yang lebih personal, misalnya keputusan yang sedang dipertimbangkan, kekhawatiran kecil, atau kejadian yang membekas. Perbedaan itu dapat membuat percakapan terasa lebih berisi daripada sekadar menyampaikan logistik.
Kebiasaan berbicara secara otomatis juga bisa diubah sedikit demi sedikit. Contohnya, seseorang mungkin setiap pagi menanyakan hal yang sama kepada rekan kerja dan memberikan jawaban yang sama pula. Mengganti satu bagian dari rutinitas itu dengan pengamatan nyata atau pertanyaan mengenai keadaan rekan tersebut dapat membuka ruang bagi percakapan yang tidak sekadar mengikuti naskah sehari-hari.
Penelitian ini tidak meminta peserta menghadiri lebih banyak pesta atau mencari lebih banyak teman. Perekam hanya menangkap percakapan yang sudah berlangsung, lalu para peneliti melihat bagaimana isi pembicaraan itu berkaitan dengan kesejahteraan. Karena itu, perubahan yang dibahas dalam laporan berangkat dari interaksi yang memang telah ada, bukan dari keharusan menambah jumlah pertemuan sosial.
Ruang perubahan yang dimaksud dapat berupa satu pertanyaan sungguhan di sela obrolan, baik saat berada di dekat mesin kopi, dalam antrean jemput, maupun saat makan malam. Temuan penelitian mengarahkan perhatian pada isi percakapan: kelompok paling bahagia tidak hanya berbicara, tetapi lebih banyak terlibat dalam pertukaran yang substantif dan lebih sedikit menghabiskan waktu untuk basa-basi.