Kesepian Berkaitan dengan Cara Seseorang Menilai Sifat Hewan Peliharaan

08/10/2026 21:51

CIANJUR.CO - Ucapan bahwa hewan peliharaan seolah memahami perasaan pemiliknya kerap terdengar sebagai gurauan. Namun, penelitian yang meminta pemilik menilai hewan mereka menggunakan sejumlah sifat manusia menemukan bahwa penilaian tersebut berkaitan dengan seberapa terhubung seseorang merasa dengan orang lain. Hubungan itu muncul pada sifat tertentu, bukan pada seluruh karakter yang dinilai.

Berdasarkan laporan Geediting, penelitian melibatkan 166 mahasiswa sarjana. Mereka diminta memberikan penilaian terhadap hewan peliharaan masing-masing, sementara rasa keterhubungan sosial mereka diukur secara terpisah. Mahasiswa yang merasa lebih kronis terputus dari orang lain cenderung memberi nilai lebih tinggi pada tiga sifat suportif: perhatian, penuh pertimbangan, dan simpatik.

Penelitian ini melibatkan Nicholas Epley, Adam Waytz, dan John Cacioppo. Hampir semua mahasiswa yang berpartisipasi saat itu tidak tinggal bersama hewan peliharaan yang mereka nilai. Dengan demikian, penilaian yang diminta merujuk pada hewan milik mereka, meskipun hewan tersebut tidak sedang berada di rumah bersama mereka.

Penilaian sosial dan sifat hewan

Para peneliti tidak lebih dulu membagi peserta ke dalam kelompok orang kesepian dan orang yang merasa terhubung. Setiap mahasiswa mengisi ukuran standar untuk mengetahui seberapa terputus secara sosial perasaan mereka secara umum. Setelah itu, para peneliti memeriksa apakah skor tersebut berkaitan dengan cara peserta menilai hewan peliharaan mereka.

Daftar penilaian mencakup beberapa kategori. Tiga sifat yang menjadi perhatian utama adalah thoughtful, considerate, dan sympathetic, yang digolongkan sebagai sifat manusiawi dan mendukung secara sosial. Daftar tersebut juga berisi sifat manusiawi lain yang tidak secara khusus menggambarkan dukungan emosional, serta karakter perilaku seperti suka bermain dan energik.

Baca juga: Integritas Terlihat dari Kebiasaan Kecil Saat Tak Ada yang Mengawasi

Pembedaan kategori itu penting karena hasil penelitian tidak menunjukkan bahwa peserta yang merasa kesepian memberi nilai lebih tinggi pada semua hal. Untuk sebagian besar sifat, tingkat keterhubungan sosial tidak menghasilkan perbedaan terukur. Mahasiswa yang merasa lebih terhubung dan mereka yang merasa lebih terputus menilai sifat perilaku maupun sifat manusiawi yang tidak berhubungan langsung dengan dukungan emosional dengan cara yang kurang lebih sama.

Dengan kata lain, rasa terisolasi tidak berkaitan dengan penilaian bahwa hewan lebih suka bermain atau lebih energik. Perbedaan muncul khusus pada tiga sifat yang menggambarkan dukungan emosional. Geediting melaporkan bahwa peserta yang merasa lebih kronis terputus dari orang lain memberikan peringkat lebih tinggi pada sifat-sifat tersebut dibandingkan peserta yang merasa lebih terhubung secara sosial.

Para peneliti juga tidak menemukan pola serupa pada sifat manusiawi yang tidak suportif ataupun pada karakter perilaku. Jadi, hubungan yang terlihat bukan sekadar kecenderungan untuk memberikan penilaian lebih positif kepada hewan peliharaan. Sifat perhatian, penuh pertimbangan, dan simpatiklah yang bergerak seiring dengan tingkat keterputusan sosial, sedangkan sifat lain dalam daftar tidak menunjukkan hubungan yang sama.

Peran hewan sebagai sumber dukungan

Temuan yang terbatas pada tiga sifat tersebut membuat hasil penelitian berbeda dari anggapan bahwa orang yang kesepian hanya lebih menyayangi hewannya secara umum. Jika rasa kesepian sekadar membuat seseorang lebih murah hati dalam semua penilaian, sifat seperti energik atau suka bermain semestinya ikut dinilai lebih tinggi. Namun, pola itu tidak terlihat dalam hasil yang dilaporkan.

Baca juga: Mengambil Tanpa Memberi: Timbal Balik dengan Alam, Sesama, dan Diri

Epley, salah satu peneliti, pernah menggambarkan pola yang lebih luas: “ketika orang tidak memiliki rasa keterhubungan dengan orang lain, mereka lebih mungkin melihat hewan peliharaan, gawai, atau Tuhan sebagai sesuatu yang menyerupai manusia.” Dalam konteks hewan peliharaan, keberadaan yang merespons manusia dapat membuatnya terasa dekat. Hewan berada secara fisik bersama pemilik, memiliki suasana hati yang dapat tampak mengikuti keadaan rumah, dan kehadirannya mudah ditafsirkan sebagai perhatian.

Meski demikian, laporan penelitian tersebut tidak menyatakan bahwa hewan benar-benar memahami perasaan pemilik seperti manusia. Penjelasan itu menggambarkan bagaimana seseorang dapat membaca kualitas manusiawi pada hewan, terutama ketika merasa kurang terhubung dengan orang lain. Respons hewan terhadap kehadiran seseorang dapat dirasakan sebagai perhatian, walaupun hal yang berlangsung sebenarnya mungkin lebih sederhana.

Hubungan yang ditemukan dan batas kesimpulannya

Penelitian awal ini bersifat korelasional. Artinya, hasilnya menunjukkan bahwa rasa kesepian dan penilaian lebih tinggi terhadap tiga sifat suportif muncul beriringan, bukan membuktikan bahwa salah satunya menyebabkan yang lain. Penelitian tersebut mengukur perasaan keterputusan yang sudah dimiliki peserta, lalu membandingkannya dengan penilaian mereka terhadap hewan peliharaan.

Tim peneliti kemudian melakukan pekerjaan lanjutan yang, menurut laporan Geediting, menguji apakah pola itu bertahan ketika perasaan keterhubungan seseorang diubah secara eksperimental. Kajian lanjutan tersebut disebut menemukan bahwa perasaan kesepian yang dimunculkan melalui eksperimen tidak hanya meningkatkan antropomorfisme terhadap hewan peliharaan, tetapi juga meningkatkan kepercayaan pada sosok religius seperti Tuhan dan malaikat.

Baca juga: 8 Tanda Mertua Menganggap Anda Bagian dari Keluarga

Temuan lanjutan itu memperluas pola yang dibahas: perhatian terhadap sifat manusiawi tidak terbatas pada hewan. Menurut laporan tersebut, hewan peliharaan, gawai, maupun keyakinan terhadap kehadiran yang mengawasi dan peduli dapat menjadi objek yang dipandang memiliki kualitas manusia ketika rasa keterhubungan sosial seseorang tidak terpenuhi. Namun, hasil itu tidak menghapus batas penelitian pertama yang hanya memperlihatkan hubungan antara tingkat keterputusan sosial dan cara mahasiswa memberi nilai pada hewan mereka.

Menilai hewan peliharaan sebagai sosok yang peka secara emosional juga tidak otomatis menjadi masalah atau tanda bahwa ada sesuatu yang keliru. Orang yang merasa terhubung dengan orang lain pun dapat berbicara kepada hewan dengan cara serupa. Manfaat memelihara hewan—seperti rutinitas, kehadiran fisik, dan alasan untuk bangun pada pagi hari—juga tidak semata-mata bergantung pada apakah pemilik menganggap hewan itu mirip manusia.

Temuan tersebut menunjukkan kemungkinan bahwa hewan peliharaan ikut memikul sebagian beban emosional yang biasanya dicari seseorang dalam hubungan dengan orang lain. Perubahan peran itu, menurut uraian Geediting, bisa berlangsung tanpa sepenuhnya disadari oleh pemilik maupun orang di sekitarnya. Kehadiran hewan tetap bernilai, tetapi tidak menggantikan hubungan yang dapat diberikan orang tepercaya atau terapis. Jika rasa kesepian terasa dekat dengan pengalaman pribadi, laporan itu menyarankan agar hal tersebut tidak diabaikan dan seseorang dapat menjangkau teman atau tenaga profesional sebelum rasa itu semakin menetap.