Ketika Pola Kerja Keras Ayah Terulang dalam Kehidupan Anak

09/10/2026 00:29

CIANJUR.CO - Banyak anak yang kini telah dewasa mengingat ayah mereka bekerja sekitar 60 jam setiap pekan selama puluhan tahun. Kerja panjang itu dilakukan agar keluarga dapat memiliki hal-hal yang dahulu tidak pernah dimiliki sang ayah. Sebagian kemudian menyaksikan ayah meninggal pada usia 68 tahun, tanpa pernah menjadikan kebahagiaan dirinya sebagai prioritas. Kenangan tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa mereka sendiri sedang menjalani pola serupa, meskipun kesibukannya kini memiliki nama dan bentuk berbeda.

Berdasarkan laporan Geediting, persoalan yang tersisa bukan hanya tentang berapa lama seseorang bekerja. Pengalaman melihat ayah terus berkorban juga dapat membentuk cara anak memandang tanggung jawab, istirahat, dan waktu pribadi. Pengorbanan yang semula dilakukan untuk keluarga mungkin tanpa disadari menjadi contoh tentang bagaimana kehidupan seharusnya dijalani.

Dalam gambaran yang diuraikan, seorang ayah pergi sebelum rumah terjaga dan pulang setelah rumah kembali sepi. Rencana liburan ditunda demi menunggu tahun yang lebih baik, tetapi waktu itu terus bergeser. Akhir pekan pun dipakai untuk merampungkan pekerjaan yang belum selesai selama pekan kerja. Penjelasan yang menyertai rutinitas tersebut terdengar masuk akal: keadaan ini hanya sementara, dilakukan demi anak-anak, dan merupakan bagian dari tugas seorang pencari nafkah.

Ketika masa pensiun datang—atau seseorang tidak sempat mencapainya—keluarga mungkin lebih mengenang apa yang disediakan ayah daripada percakapan atau waktu yang mereka habiskan bersamanya. Bukan berarti apa yang diberikan ayah tidak berarti. Namun, pola itu menunjukkan bagaimana tahun-tahun yang dicurahkan untuk bekerja dapat meninggalkan ruang terbatas bagi kehidupan dan kebahagiaannya sendiri.

Mengapa pengorbanan tampak wajar

Untuk jangka panjang pada abad ke-20, nilai seorang laki-laki bagi keluarganya kerap diukur dari apa yang dibawanya pulang. Kesediaan bekerja sampai kelelahan dapat dibaca sebagai bukti pengabdian, bukan sebagai tanda untuk berhenti sejenak. Dalam cara pandang itu, jam kerja panjang terlihat seperti bagian biasa dari tanggung jawab seorang ayah.

Baca juga: Delapan Petunjuk yang Dicermati agar Hadiah Terasa Tepat

Mengurangi pekerjaan juga bisa terasa berisiko. Penghasilan mungkin menjadi lebih kecil, kesempatan promosi dapat terlewat, dan muncul kekhawatiran bahwa seseorang akan dipandang tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarga. Karena itu, bekerja 60 jam sepekan dapat tampak sebagai pilihan yang masuk akal pada saat keputusan tersebut dijalani. Beban dan kehilangan waktunya tidak selalu terlihat sekaligus; dampaknya terkumpul perlahan selama rutinitas berulang.

Masalahnya, setelah dua atau tiga dekade, kebiasaan itu tidak mudah dihentikan begitu saja. Apa yang semula dipahami sebagai pengorbanan sementara dapat menjadi bentuk kehidupan yang berlangsung terus-menerus. Anak-anak yang menyaksikan proses tersebut kemudian dewasa dengan ingatan tentang ayah yang banyak hadir melalui apa yang ia berikan, sementara waktu untuk dirinya sendiri terus tertunda.

Temuan tentang jam kerja panjang

Laporan Geediting juga mengutip studi bersama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Buruh Internasional (ILO) yang menelaah pola kerja di 194 negara. Studi tersebut menemukan bahwa orang yang bekerja 55 jam atau lebih dalam sepekan menghadapi risiko stroke 35 persen lebih tinggi dan risiko meninggal akibat penyakit jantung iskemik 17 persen lebih tinggi dibandingkan orang yang bekerja 35 hingga 40 jam per pekan.

Temuan itu bersifat observasional dan berasal dari data populasi. Angkanya bukan kepastian tentang keadaan tubuh setiap individu, serta tidak menerangkan faktor lain yang membentuk kesehatan seseorang, seperti pola makan dan genetika. Informasi tersebut bukan diagnosis dan tidak menggantikan penilaian dokter. Pembicaraan dengan tenaga medis mengenai beban kerja dan risiko pribadi tetap lebih relevan untuk memahami keadaan seseorang.

Baca juga: Kesepian Berkaitan dengan Cara Seseorang Menilai Sifat Hewan Peliharaan

Dengan batasan tersebut, skala temuannya tetap menjadi bagian penting dari pembahasan. Analisis WHO yang sama mengaitkan jam kerja panjang dengan 745.000 kematian setiap tahun. Dr. Maria Neira, direktur WHO untuk lingkungan, perubahan iklim, dan kesehatan, mengatakan, “Long working hours can lead to premature death.” Pernyataan itu menempatkan kerja panjang bukan hanya sebagai perkara makan malam yang terlewat, melainkan juga sebagai pola yang dikaitkan penelitian dengan risiko kesehatan.

Keyakinan lama dalam pekerjaan yang berbeda

Menurut uraian Geediting, hal yang berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya tidak harus berupa jadwal atau jenis pekerjaan yang sama. Yang dapat diwariskan ialah keyakinan bahwa istirahat harus diperoleh setelah seluruh pekerjaan selesai, bahwa menikmati sesuatu merupakan hadiah untuk nanti, dan bahwa pekerjaan penting tidak pernah benar-benar tuntas.

Keyakinan itu tidak memerlukan lantai pabrik atau catatan lembur untuk bertahan. Bentuknya bisa berupa telepon yang tetap diperiksa setelah pukul enam, proyek sampingan yang diperlakukan sebagai kewajiban, atau keengganan mengambil cuti sakit meski perusahaan tidak akan mempermasalahkan ketidakhadiran. Kerja lembur orang tua dapat berubah menjadi budaya selalu sibuk, kotak masuk yang terus dipantau, atau kebiasaan menunda istirahat.

Pekerjaan bergaji tetap dan pekerjaan lepas juga tidak selalu memiliki penanda jelas kapan seseorang harus berhenti. Jam kerja panjang mungkin tersebar di malam dan akhir pekan, bukan terkumpul dalam satu giliran kerja yang mudah dilihat. Tanda-tandanya bisa berupa memeriksa telepon saat berhenti di lampu lalu lintas, menghabiskan hari Minggu menyiapkan presentasi untuk Senin, atau mengambil foto liburan di depan komputer jinjing yang masih terbuka di meja hotel.

Baca juga: Integritas Terlihat dari Kebiasaan Kecil Saat Tak Ada yang Mengawasi

Jika dijumlahkan, waktu seperti itu bisa mencapai total mingguan yang serupa dengan jam kerja ayah mereka. Karena berlangsung dalam sela-sela kegiatan sehari-hari, pola tersebut lebih mudah dianggap berbeda atau tidak dihitung sebagai kerja berlebihan. Seseorang bisa merasa telah memutus kebiasaan lama karena tidak lagi bekerja dengan cara yang sama, sementara pertukaran waktu pribadi demi hasil yang terus ditunda tetap berlangsung.

Mengenali pola yang berjalan

Menyadari kebiasaan tersebut tidak mengubah masa lalu atau waktu yang tidak sempat dinikmati seorang ayah. Namun, mengenali pola dapat membantu seseorang melihat apakah pekerjaan sedang mengambil ruang yang seharusnya tersedia bagi kehidupan pribadinya. Kebiasaan yang tetap berjalan dengan nama baru lebih sulit dihentikan bila tidak pernah dikenali.

Langkah yang digambarkan dalam laporan itu sederhana: benar-benar mengambil liburan tanpa membawa komputer jinjing, membiarkan satu hari Sabtu tetap tidak terjadwal, atau memperhatikan suara dalam diri yang terus berkata bahwa sesuatu bisa dilakukan nanti. Pertanyaan yang diajukan ialah apakah “nanti” pernah benar-benar tiba bagi orang yang mengajarkan kebiasaan menunda tersebut.

Geediting menyebut pengenalan terhadap pola itu layak diperhatikan. Jika beban yang muncul terasa lebih besar daripada yang dapat ditampung oleh satu artikel, terapis atau konselor dapat menjadi tempat untuk membicarakannya. Uraian ini menyoroti bagaimana pekerjaan, waktu istirahat, dan kebahagiaan pribadi dapat saling berkaitan, tanpa menyatakan bahwa pengalaman setiap keluarga atau risiko kesehatan setiap orang selalu sama.