Kemenkes Jajaki Pembukaan PPDS di FK UKI untuk Penuhi Kebutuhan Dokter Spesialis
CIANJUR.CO - Kementerian Kesehatan berkomitmen mendukung penguatan Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (FK UKI), termasuk melalui rencana pembukaan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS). Upaya tersebut diarahkan untuk membantu pemenuhan dokter spesialis di Indonesia sekaligus mendorong perguruan tinggi swasta mengambil peran dalam penyediaan sumber daya manusia kesehatan.
Komitmen itu ditegaskan Wakil Menteri Kesehatan dr. Benjamin Paulus Octavianus saat menghadiri Dies Natalis ke-73 UKI di Auditorium FK UKI, Jakarta, Kamis (15/10). Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan RI, penguatan pendidikan kesehatan di perguruan tinggi menjadi salah satu bagian dari upaya memperkuat ketahanan kesehatan nasional.
Dalam sambutannya, Wamenkes yang akrab disapa Benny mengajak civitas academica UKI melihat kembali perjalanan kampus. UKI lahir pada 15 Oktober 1953 dan merupakan universitas ketujuh yang berdiri di Indonesia. Benny menyebut posisi tersebut mendahului sejumlah perguruan tinggi negeri besar, yakni Universitas Airlangga (UNAIR), Universitas Hasanuddin (UNHAS), dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Ia menilai sejarah itu patut menjadi kebanggaan bagi warga kampus. “Hari ini ada ratusan, bahkan ribuan universitas di Indonesia. Namun, UKI adalah universitas ketujuh yang lahir di republik ini. Jika kita tidak bangga dengan sejarah ini, kita salah,” ujar Benny, yang juga merupakan alumnus FK UKI.
Baca juga: Kemendag dan BPJPH Perkuat Pengawasan Produk Halal di Perdagangan
Di samping mengingatkan sejarah, Benny menyoroti tantangan yang akan dihadapi Indonesia pada masa Bonus Demografi. Pada 2030, diproyeksikan 68 persen penduduk Indonesia berada dalam kelompok usia produktif. Besarnya kelompok tersebut, menurut dia, perlu diimbangi dengan kualitas sumber daya manusia dan ketersediaan lapangan kerja yang mumpuni.
Benny mengingatkan momentum demografi itu hanya terjadi satu kali dalam sejarah bangsa. Jika tidak diiringi kualitas SDM dan lapangan kerja yang memadai, kondisi tersebut berpotensi berubah menjadi beban sosial berupa pengangguran massal. Tantangan ini menjadi perhatian karena penguatan SDM, termasuk di bidang kesehatan, berhubungan dengan kebutuhan tenaga terdidik.
Di sektor kesehatan, persoalan lain yang dihadapi adalah distribusi tenaga ahli yang belum merata. Dokter spesialis masih terkonsentrasi di kota-kota besar, sementara daerah terpencil di Indonesia Timur masih kekurangan tenaga ahli. Kesenjangan tersebut menjadi salah satu latar belakang perlunya pemenuhan dokter spesialis dan perluasan kesempatan pendidikan bagi calon dokter spesialis.
Baca juga: Indonesia Dorong Kemitraan Strategis dengan Belanda di TEI 2026
Untuk menjawab kebutuhan itu, Kemenkes menyelenggarakan Beasiswa Pendidikan Dokter Spesialis Gratis. Hingga angkatan atau batch ke-4, hampir 90 persen penerima manfaat program tersebut berasal dari wilayah Indonesia Timur. Kemenkes juga berharap lulusan UKI mengambil bagian dalam program beasiswa tersebut.
“Saya berharap alumni UKI juga mengambil program ini. Kami sekolahkan gratis dan kalian akan ditempatkan di rumah sakit daerah yang membutuhkan,” kata Benny di hadapan para mahasiswa. Dengan demikian, dukungan pendidikan yang disampaikan dalam sambutannya berkaitan dengan kebutuhan tenaga spesialis di rumah sakit daerah, terutama di wilayah yang masih kekurangan tenaga ahli.
Selain mendorong alumni mengikuti beasiswa, Kemenkes tengah menjajaki kerja sama intensif dengan Yayasan dan Rektorat UKI. Penjajakan itu ditujukan untuk mempercepat pembukaan PPDS di FK UKI. Rencana tersebut menjadi bentuk dukungan Kemenkes terhadap penguatan fakultas kedokteran, sekaligus bagian dari upaya memenuhi kebutuhan dokter spesialis di Indonesia.
Baca juga: Mendag Budi Santoso Bahas Akses Pasar dan Investasi dengan Delegasi India di TEI ke-41
Benny menegaskan bahwa kedatangannya ke kampus bukan sekadar untuk menghadiri acara peringatan. “Kehadiran saya di UKI bukan sekadar seremoni, melainkan untuk membangun perubahan bersama,” ujarnya. Ia menyampaikan komitmen bersama Ketua Yayasan dan Rektor untuk segera mewujudkan program pendidikan dokter spesialis agar FK UKI bisa lebih maju.
Menjelang akhir sambutan, Benny mengingatkan bahwa usia 73 tahun bukan hanya penanda perjalanan waktu bagi UKI. Ia mengaitkan usia tersebut dengan warisan intelektual, nilai kemanusiaan, dan tanggung jawab moral yang perlu terus dijaga oleh seluruh civitas academica. Benny juga menyebut kampus itu berdiri sejak era Dewan Gereja-gereja Indonesia.
Ia berpesan agar UKI mempertahankan marwah sebagai institusi yang mencetak lulusan unggul sekaligus berintegritas. Pesan itu melengkapi dorongannya agar kampus menjaga sejarah dan memperkuat peran pendidikan, termasuk dalam penyediaan tenaga kesehatan. “Mari kita buktikan bahwa UKI bisa melahirkan generasi yang tidak hanya pintar, tetapi juga berkarakter dan beriman,” pungkas Benny.