UPDATE

MoU S’RASA di TEI ke-41 Catat Potensi Transaksi USD 25,2 Juta

16/10/2026 12:59

CIANJUR.CO - Menteri Perdagangan Budi Santoso menyaksikan penandatanganan kesepakatan pembelian produk pangan Indonesia di Paviliun S’RASA: Rasa Rempah Indonesia, Kamis (15/10). Kegiatan itu berlangsung dalam Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten. Kesepakatan tersebut memiliki potensi transaksi mencapai USD 25,2 juta.

Berdasarkan laporan Kementerian Perdagangan RI, kesepakatan terdiri atas nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) dan surat pernyataan minat atau letter of intent (LoI). Dokumen itu melibatkan 14 produsen bumbu, makanan, dan minuman lokal serta importir dari lima negara yang menjadi proyek percontohan (pilot project) S’RASA.

Kelima negara tersebut adalah Belanda, Australia, Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang. Kerja sama itu diarahkan untuk memasok produk pangan lokal ke restoran Indonesia di negara-negara tersebut, sekaligus membuka peluang pemasaran yang lebih luas di negara tujuan ekspor.

Budi Santoso menyampaikan bahwa kolaborasi dengan mitra dagang dari berbagai negara tersebut mendukung pemasaran produk pangan lokal melalui jaringan restoran Indonesia di luar negeri. Produk yang dipasok tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan restoran, tetapi juga diharapkan dapat menjangkau pasar yang lebih luas di masing-masing negara tujuan.

“Kesepakatan dengan mitra dagang dari berbagai negara ini menjadi bentuk kerja sama untuk memasok produk pangan lokal ke restoran Indonesia di lima negara,” ujar Mendag Budi Santoso. Ia menjelaskan, produk-produk tersebut juga ditujukan untuk menjangkau pasar yang lebih luas, tidak terbatas pada kebutuhan restoran Indonesia.

Baca juga: Indonesia-Timor Leste Perkuat Perdagangan Bilateral di TEI ke-41

Sesudah menyaksikan penandatanganan MoU, Mendag mengikuti demonstrasi memasak bersama Chef Norman Ismail di Paviliun S’RASA. Keduanya memeragakan pengolahan tongseng ayam menggunakan Kecap Bango. Demonstrasi itu menjadi bagian dari kegiatan paviliun yang menggabungkan promosi produk Indonesia dengan pengalaman memasak langsung di hadapan pengunjung.

Pemerintah terus memperkenalkan Program S’RASA sebagai bentuk gastrodiplomasi kuliner Indonesia yang kaya rempah. Menurut Budi, kerja sama dengan restoran Indonesia di luar negeri dapat mendorong ekspor bumbu masak khas Indonesia, karena restoran membutuhkan bumbu asli Indonesia untuk mendukung hidangan yang disajikan.

“Ketika restoran Indonesia hadir di sana, kami harap produk-produk pendukung dan bahan bakunya ikut kita ekspor,” kata Budi. Ia menyebut pemerintah bersinergi melalui S’RASA untuk memperkenalkan produk makanan dan restoran Indonesia di luar negeri. Dengan demikian, keberadaan restoran di negara tujuan juga menjadi jalur untuk mengenalkan dan memasarkan produk pangan pendukung.

S’RASA merupakan kolaborasi Kementerian Perdagangan dengan Kementerian Luar Negeri, Kementerian Ekonomi Kreatif, Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta Kementerian Pariwisata. Program tersebut bertujuan memperkenalkan kuliner Indonesia ke pasar internasional melalui pengembangan jaringan restoran Indonesia di berbagai negara.

Baca juga: Yagi Forest Bawa Perawatan Berbasis Hutan Aceh ke Pasar Global

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi, menjelaskan bahwa S’RASA dirancang untuk menghubungkan pengalaman kuliner dengan peluang bisnis dan pengembangan ekspor. Demonstrasi memasak menjadi salah satu cara untuk memperlihatkan penggunaan produk Indonesia secara langsung. Dengan melihat produk diterapkan dalam hidangan, calon mitra usaha dapat mengenali pemanfaatan serta potensinya untuk kebutuhan industri kuliner.

“Promosi kuliner dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan produk pangan, bumbu, dan rempah Indonesia secara lebih konkret,” ujar Puntodewi. Ia menilai, kesempatan bagi calon mitra untuk melihat langsung cara penggunaan produk dapat membuka ketertarikan dan penjajakan kerja sama bisnis.

Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekraf, Yuke Sri Rahayu, juga menanggapi kehadiran Paviliun S’RASA di TEI ke-41. Menurutnya, ragam hidangan Nusantara dapat mengenalkan tradisi, cita rasa, dan pemanfaatan rempah dengan cara yang menarik serta mudah diterima masyarakat internasional.

Yuke mengatakan demonstrasi memasak S’RASA memperlihatkan bahwa kuliner tidak hanya berkaitan dengan makanan, tetapi juga membawa cerita, kreativitas, dan identitas budaya Indonesia. Dengan pendekatan tersebut, promosi hidangan sekaligus memperlihatkan unsur budaya yang melekat pada kuliner Nusantara.

Baca juga: Mendag Budi Santoso Soroti Potensi Produk Pangan Lokal di TEI ke-41

Salah satu pelaku usaha yang memperoleh kerja sama ekspor melalui S’RASA adalah DBFOODS (PT Dua Banteng Internasional). Perusahaan itu mengikuti program setelah menjalani proses kurasi, kemudian mengikuti penjajakan bisnis (business matching) secara daring menjelang TEI ke-41.

Produk DBFOODS menarik minat pembeli dari Belanda dan berlanjut pada penandatanganan kontrak ekspor. Proses tersebut mendapat pendampingan Atase Perdagangan RI di Den Haag. Pendiri DBFOODS, Herry Kurniadi, mengapresiasi dukungan Kemendag melalui S’RASA karena program tersebut memberikan kesempatan bagi produknya untuk menjangkau pasar internasional.

Herry berharap capaian itu menunjukkan bahwa produk Indonesia mampu bersaing di pasar global. “Harapan saya, DBFOODS tidak hanya tumbuh menjadi merek makanan Indonesia yang mendunia, tetapi juga menjadi bukti bahwa merek Indonesia dapat berkembang pesat melalui ekosistem S’RASA,” ujarnya.