Ruma Papua Kenalkan 12 Varian Kombucha, Raih UKM Pangan Award 2026
CIANJUR.CO - Pengunjung Pangan Nusa Expo 2026 diajak menikmati kombucha Ruma Papua dengan cara yang tidak biasa: mencicipinya sedikit demi sedikit. Pemilik usaha tersebut, Dian Lestari, membimbing pengunjung untuk menyeruput perlahan agar dapat mengenali perubahan rasa. “Cara minumnya pelan-pelan. Coba sedikit-sedikit, sambil mulutnya dimajukan. Setelah itu, coba minum seperti biasa. Rasanya bisa berbeda,” kata Dian.
Ruma Papua, usaha asal Jayapura, berpameran di Hall 1 Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten. Cara memperkenalkan produknya melalui pengalaman mencicipi itu menjadi salah satu hal yang menarik perhatian pengunjung. Di pameran yang sama, usaha tersebut juga memperoleh penghargaan Kategori Produk Minuman Kemasan melalui varian Kombucha Lemon.
Penghargaan itu diberikan dalam UKM Pangan Award 2026 pada pembukaan Pangan Nusa Expo, Rabu (14/10). Berdasarkan laporan Kementerian Perdagangan RI, kegiatan pameran berlangsung di ICE BSD City, Kabupaten Tangerang. Ruma Papua memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperkenalkan beragam produknya sekaligus menjelaskan cara menikmati kombucha kepada calon konsumen.
Mengusung identitas Taste of Papua, Ruma Papua meramu kekayaan alam daerah menjadi minuman fermentasi modern. Perusahaan ini memiliki 12 varian rasa dengan bahan dan racikan yang beragam. Pilihannya mencakup lemon, kelapa mint, bunga telang, sarang semut, kembang sepatu, dan lavender, serta racikan tradisional seperti kunyit, asam jawa, dan beras kencur. Ada pula varian kopi dan pinang untuk menjangkau selera konsumen yang berbeda-beda.
Baca juga: Kemendag Perkuat Daya Saing Kelapa dan Lada Lewat Kerja Sama Global
Salah satu racikan yang menjadi ciri khas Ruma Papua adalah kombucha dengan sarang semut. Dian menjelaskan, bahan tersebut merupakan tanaman herbal yang dikenal luas dalam tradisi masyarakat Papua untuk menjaga imunitas tubuh. “Salah satu varian unik yang menjadi ciri khas produk kami memanfaatkan sarang semut,” ujarnya. Varian itu memperlihatkan bagaimana usaha tersebut menggabungkan bahan lokal dengan produk minuman fermentasi.
Berawal dari kebutuhan keluarga
Perjalanan usaha Dian bermula dari kebutuhan rumah tangga, bukan dari rencana membangun bisnis berskala besar. Pascapandemi, ia mencari minuman probiotik nonsusu untuk membantu menjaga kesehatan pencernaan keluarga. Pilihan produk seperti itu masih sulit ditemui di Papua, sehingga Dian berinisiatif membuat kombucha sendiri sebagai solusi yang dapat diakses keluarganya.
Produk yang awalnya berangkat dari kebutuhan tersebut kemudian mendapat respons konsumen. Penjualan perdana pada Januari 2023 hanya mencapai delapan botol. Namun, pesanan meningkat menjadi 1.000 botol pada Maret dan menembus 5.000 botol pada pertengahan tahun yang sama. Dian mengenang lonjakan itu sebagai perkembangan yang tidak disangka dari awal usaha yang sederhana.
Ruma Papua juga berkembang dengan melibatkan perempuan asli Papua. Melalui usahanya, Dian membuka ruang agar perempuan dapat berpartisipasi dan berkembang. Keterlibatan tersebut, menurut kisah yang disampaikan dalam laporan Kementerian Perdagangan RI, sekaligus membangun dukungan antarsesama perempuan di Papua. Usaha ini turut mendorong gaya hidup sehat melalui produk yang dipasarkan.
Baca juga: Kemendag Ajak Pelaku Usaha Optimalkan Organisasi Komoditas untuk Ekspor Kopi dan Karet
Dalam menjaga mutu dan memperkuat legalitas produk, Ruma Papua memperoleh izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta sertifikasi halal pada September 2026. Kedua dokumen tersebut menjadi bagian dari pemenuhan persyaratan legalitas produk. Perolehan izin edar dan sertifikasi itu disebut memperkuat posisi Ruma Papua sebagai produsen kombucha yang memenuhi persyaratan tersebut.
Mengenali selera konsumen
Di sisi pemasaran, Dian menempatkan kedekatan dengan konsumen sebagai bagian penting dalam mengembangkan usaha. Tim Ruma Papua rutin mencatat varian yang dibeli pelanggan. Catatan tersebut digunakan untuk mengenali preferensi konsumen dan menjadi dasar bagi tim promosi maupun penjualan dalam menyampaikan rekomendasi produk.
Menurut Dian, setiap varian memiliki kelompok pembeli dengan selera masing-masing. Bunga telang, misalnya, lebih disukai konsumen bergaya old school atau klasik. Sementara itu, lemon lebih diminati konsumen yang aktif dan gemar berolahraga. Informasi pembelian tersebut dihimpun menjadi panduan, sehingga tim dapat menawarkan varian yang dinilai sesuai ketika konsumen datang.
Baca juga: Kemendag dan Garuda Jajaki Dukungan Distribusi Bumbu Indonesia ke Luar Negeri
“Semua varian kami punya persona pembeli masing-masing,” ujar Dian. Ia menjelaskan bahwa pencatatan preferensi membantu tim penjualan mengenali pilihan pelanggan, bukan sekadar menawarkan semua rasa tanpa mempertimbangkan kebiasaan mereka. Strategi ini melengkapi cara Ruma Papua memperkenalkan produknya secara langsung melalui pameran dan sesi mencicipi.
Selain berinteraksi langsung, Ruma Papua menggunakan media sosial untuk menjangkau konsumen yang lebih luas melalui akun Instagram @rumapapua.id. Kanal tersebut melengkapi pengembangan usaha yang bertumpu pada inovasi bahan lokal dan pemahaman terhadap pasar. Dari skala rumahan, produk kombucha ini kini telah didistribusikan ke lebih dari 100 gerai.
Perkembangan dari penjualan perdana delapan botol hingga distribusi ke lebih dari 100 gerai menandai perjalanan usaha yang berawal dari kebutuhan keluarga. Bersama ragam racikan dan keterlibatan perempuan asli Papua, Ruma Papua membawa cerita tentang inovasi, kreativitas, ketekunan, serta upaya memperkenalkan potensi lokal melalui kombucha.