UPDATE

Kemendag Ajak Pelaku Usaha Optimalkan Organisasi Komoditas untuk Ekspor Kopi dan Karet

18/10/2026 15:17

CIANJUR.CO - Kementerian Perdagangan mendorong penguatan daya saing ekspor kopi dan karet alam Indonesia melalui pemanfaatan organisasi komoditas internasional. Kerja sama itu dinilai berpeluang membuka pasar yang lebih luas, meningkatkan nilai tambah produk, serta memberi manfaat nyata bagi petani dan pelaku usaha nasional. Dorongan tersebut dibahas dalam seminar yang mempertemukan unsur pemerintah, organisasi komoditas, asosiasi, dan pelaku usaha.

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag, Johni Martha, menyampaikan hal itu saat membuka seminar “Kuasai Pasar Global: Memanfaatkan Organisasi Komoditas Internasional untuk Ekspor Kopi dan Karet”. Kegiatan tersebut digelar di Kabupaten Tangerang, Banten, Sabtu (17/10), sebagai bagian dari Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di Indonesia Convention Exhibition BSD City. Berdasarkan laporan Kementerian Perdagangan RI, forum ini juga menjadi tempat pemerintah menerima masukan langsung dari pelaku usaha.

Johni mengatakan masukan itu diperlukan untuk mengetahui hal-hal yang perlu dilakukan pemerintah agar kegiatan ekspor dapat difasilitasi dengan baik, tanpa kendala administratif yang berarti. Pemerintah, menurut dia, membutuhkan informasi dari pelaku usaha supaya kebijakan dan langkah yang diambil sesuai kebutuhan di lapangan. Karena itu, pengalaman eksportir dipandang melengkapi data statistik perdagangan dalam penyusunan kebijakan.

Ia mengajak pelaku usaha menjelaskan berbagai hambatan yang dihadapi, termasuk persoalan di pasar tujuan ekspor. Kendala tersebut dapat dibahas bersama untuk mencari solusi yang sesuai. Dengan mendengar pengalaman langsung pelaku usaha, pemerintah dapat memperoleh gambaran mengenai kebutuhan dan persoalan ekspor yang tidak hanya bersumber dari angka statistik. Johni menegaskan, informasi itu penting agar fasilitasi ekspor dan kebijakan yang dirumuskan dapat merespons kondisi yang dihadapi pelaku usaha.

Baca juga: Kemendag dan Garuda Jajaki Dukungan Distribusi Bumbu Indonesia ke Luar Negeri

Untuk komoditas kopi, Johni mendorong pelaku usaha domestik memanfaatkan keanggotaan Indonesia dalam International Coffee Organization (ICO). Salah satu peluang yang perlu dicermati adalah pengembangan standar kopi spesial berbasis Robusta. Menurut dorongan yang disampaikan dalam seminar, pengembangan tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas dan membedakan produk kopi Indonesia, sekaligus mendorong nilai jualnya di pasar global.

Direktur Perundingan Antar Kawasan dan Organisasi Internasional Kemendag, Natan Kambuno, menekankan bahwa keanggotaan dalam organisasi komoditas internasional perlu digunakan secara strategis agar menghasilkan manfaat ekonomi yang nyata. Ia menyebut perlunya perubahan dari sekadar mengikuti kegiatan organisasi menjadi pemanfaatan kerja sama untuk kemajuan sektor kopi dan karet alam nasional. “Kita perlu bergerak dari participation ke utilization,” ujar Natan.

Natan juga menyoroti peluang mengembangkan kopi Indonesia sebagai produk bernilai tambah. Pengembangan itu, menurutnya, dapat memperkuat diferensiasi dan daya saing kopi Indonesia di segmen pasar premium. Karakteristik produk dan praktik budi daya yang sesuai dengan persyaratan pasar dapat menjadi peluang untuk meningkatkan nilai tambah. Namun, upaya tersebut tetap perlu memperhatikan verifikasi mutu serta pemenuhan standar yang relevan.

Baca juga: Kemendag Dorong Pelaku Usaha Manfaatkan Perjanjian Dagang untuk Ekspor

Seminar menghadirkan narasumber dari organisasi komoditas internasional, asosiasi pelaku usaha, dan pemerintah. Lima kementerian yang diundang ialah Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kementerian Perdagangan, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Perindustrian. Selain perwakilan kementerian, sembilan asosiasi atau organisasi sektor terkait juga terlibat. Kehadiran berbagai pemangku kepentingan tersebut mengisi pembahasan mengenai peluang dan tantangan ekspor kopi maupun karet alam.

Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian, Merrijantij Punguan Pintaria, menyampaikan data ekspor kopi olahan Indonesia. Nilainya mencapai USD 692,1 juta pada 2025 dan tumbuh 4,56 persen. Merrijantij juga menyebut Indonesia sebagai eksportir kopi premix terbesar dunia, dengan pangsa pasar sebesar 17,54 persen. Angka tersebut menjadi bagian dari paparan mengenai posisi dan potensi produk kopi Indonesia dalam perdagangan ekspor.

Dari sisi promosi, Badan Pengawas Dewan Kopi Indonesia, Jamil Musanif, menekankan pentingnya mengoptimalkan keunggulan cita rasa kopi Indonesia. Ia juga menyoroti 69 indikasi geografis kopi dan praktik budi daya berkelanjutan sebagai hal yang dapat diangkat dalam promosi global. Pembahasan tersebut menempatkan cita rasa, indikasi geografis, dan keberlanjutan sebagai aspek yang disampaikan narasumber untuk memperkuat promosi kopi Indonesia.

Baca juga: Kemendag Luncurkan 500 Brand Go Global untuk Perkuat Merek Lokal

Untuk karet alam, Ekonom ANRPC, Riska Pujiati, memproyeksikan permintaan akan meningkat seiring pertumbuhan industri otomotif dan kebutuhan ban kendaraan listrik. Ia menyebut Tiongkok dan India sebagai negara yang terutama menjadi perhatian dalam proyeksi tersebut. Sementara itu, perwakilan Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo), Widyantoko Sumarlin, menyoroti penurunan produksi karet Indonesia. Ia mendorong penguatan ketertelusuran, kemitraan langsung dengan petani, serta diversifikasi pasar ekspor.

Masukan dari peserta disampaikan Adi Syahid dari Syahid Kopi. Ia mengapresiasi penyelenggaraan seminar dan berharap pemerintah memperluas dukungan sertifikasi bagi petani. Adi menyoroti tingginya biaya sertifikasi dan perlunya peningkatan akses petani ke pasar ekspor. Harapan tersebut menambahkan perhatian terhadap kebutuhan sertifikasi dalam pembahasan tentang peningkatan daya saing dan akses pasar.

Apresiasi serta masukan peserta menjadi referensi bagi pemerintah dan pelaku usaha dalam merumuskan langkah konkret untuk meningkatkan daya saing dan ekspor kopi serta karet alam Indonesia. Berbagai hal yang dibahas mencakup pemanfaatan organisasi komoditas internasional, penguatan nilai tambah, keberlanjutan, sertifikasi, dan perluasan akses pasar global. Sementara itu, masukan mengenai kendala ekspor, mutu, produksi, dan kebutuhan petani turut disampaikan oleh narasumber maupun peserta seminar.