Deezer Siapkan Fitur untuk Menyaring Musik Buatan AI
CIANJUR.CO - Deezer tengah menyiapkan tombol pengaturan yang memungkinkan pengguna menyaring musik buatan kecerdasan buatan (AI) dari pengalaman mereka di platform. Perusahaan menyampaikan rencana itu pada Selasa dan memperkirakan fitur tersebut tersedia sebelum akhir tahun. Deezer belum menyebut tanggal peluncuran yang lebih spesifik.
Berdasarkan laporan TechCrunch AI, tombol itu akan menyembunyikan trek, album, serta artis terkait musik AI dari hasil pencarian apabila pengguna mengaktifkannya. Dengan demikian, pengaturan baru tersebut ditujukan untuk mengubah konten yang terlihat saat pengguna mencari musik di Deezer. Perusahaan belum merinci fungsi penyaringan di bagian lain layanan.
CEO Deezer Alexis Lanternier mengatakan keputusan itu merespons permintaan pengguna. Ia menyebut perusahaan melihat “clear user demand” untuk kemampuan menyaring musik AI. Menurut Lanternier, Deezer ingin memberikan pilihan untuk menghapus konten tersebut sepenuhnya dari pengalaman streaming dan, bila pengguna menghendakinya, berfokus pada kreator serta karya manusia. Tombol itu bersifat pilihan, bukan pengaturan yang disebut akan diterapkan kepada semua pengguna secara otomatis.
Baca juga: TechCrunch Disrupt 2026 Beri Diskon 50 Persen untuk Dua Hari Terakhir
Lanternier juga mengatakan ledakan jumlah musik AI di platform menjadi salah satu pemicu pengembangan fitur berbasis tombol tersebut. Pernyataan itu menghubungkan rencana penyaringan dengan meningkatnya unggahan musik buatan AI. Di sisi lain, survei yang dikutip Deezer dari tahun sebelumnya menunjukkan adanya kebutuhan dari sebagian pelanggan: sekitar 45 persen pelanggan menginginkan cara untuk menghapus musik AI dari feed mereka.
Survei tersebut membahas keinginan pelanggan untuk menghilangkan musik AI dari feed, sedangkan penjelasan mengenai tombol yang sedang disiapkan secara khusus menyebut hasil pencarian. Deezer menyatakan pengguna dapat memilih untuk menghapus konten AI dari pengalaman streaming, tetapi rincian yang disampaikan tentang cara kerja tombol menyebut trek, album, dan artis terkait yang tidak akan muncul dalam hasil pencarian ketika pengaturan aktif.
Baca juga: Floqer Siapkan Database AI Open Source untuk Tim Penjualan
Deezer telah menambahkan perangkat pendeteksi AI pada tahun lalu. Sejak itu, perusahaan melaporkan jumlah trek yang diunggah ke platformnya. Saat perangkat tersebut diperkenalkan, trek buatan AI tercatat mencakup 10 persen dari unggahan harian. Pelaporan jumlah unggahan itu menjadi bagian dari keterangan Deezer mengenai perkembangan musik AI di layanannya.
Pada Juli, perusahaan menyebut lebih dari 50 persen unggahan harian di platformnya merupakan trek buatan AI. Jumlah rata-ratanya mencapai 90.000 trek per hari. Angka yang disampaikan Deezer itu lebih besar dibandingkan keterangan sebelumnya mengenai porsi unggahan AI sebesar 10 persen, meski sumber tidak merinci periode pengukuran untuk angka awal tersebut. Kedua angka itu merupakan data unggahan yang dilaporkan perusahaan.
Baca juga: Zenzap Raih Pendanaan US$44 Juta untuk Aplikasi Chat Kerja Berbasis AI
Layanan musik lain mengambil langkah berbeda terhadap konten AI. Bandcamp telah melarang trek AI sepenuhnya. Tidal menghentikan monetisasi bagi orang yang mengunggah musik AI, sedangkan Spotify memilih pendekatan yang lebih terbatas dengan menandai trek dan artis AI secara lebih menonjol. Perbedaan kebijakan tersebut menjadi konteks bagi pilihan yang disiapkan Deezer, yakni memberi pengguna kendali untuk menyaring konten terkait AI dari hasil pencarian.
Pada Agustus, Variety melaporkan Apple Music tengah melihat kemungkinan memberi label pada trek AI sebelum akhir tahun. Selain penandaan oleh platform, pengguna juga mulai beralih ke sistem pelacakan independen untuk mengidentifikasi musik AI. Dalam laporan TechCrunch AI, rencana Deezer ditempatkan di tengah beragam pendekatan itu, dengan fitur penyaringan yang ditargetkan hadir sebelum tahun berakhir.