UPDATE

Floqer Siapkan Database AI Open Source untuk Tim Penjualan

14/10/2026 22:13

CIANJUR.CO - Floqer, platform pengetahuan pelanggan otonom untuk tim penjualan dan pemasaran antarbisnis (B2B), berencana membuka teknologi di balik database pelanggannya kepada publik. Perusahaan menargetkan peluncuran pada awal 2027, dengan catatan peninjauan keamanan telah dilakukan. Database berbasis kecerdasan buatan (AI) itu dirancang untuk mengumpulkan, menyusun, dan memperbarui informasi yang digunakan perusahaan untuk memahami pelanggan.

Rencana tersebut disampaikan menjelang presentasi Floqer di panggung Startup Battlefield dalam acara TechCrunch Disrupt 2026 pada Rabu. Berdasarkan laporan TechCrunch AI, perusahaan mengatakan akses terhadap database otonomnya saat ini masih terbatas. Pendiri sekaligus CEO Floqer, Shivam Mahajan, menyebut kapasitas tim untuk melayani permintaan dengan baik menjadi salah satu batasan tersebut.

Mahajan mengatakan bahwa membuka teknologi itu sebagai sumber terbuka dapat membantu Floqer menjangkau kebutuhan yang belum terlayani. Keputusan tersebut juga berkaitan dengan permintaan pelanggan. Sebagian perusahaan ingin menyimpan data mereka sendiri, bukan menempatkannya di platform eksklusif milik penyedia layanan. Ada pula pelanggan yang ingin mengubah teknologi atau mengembangkan produk lain di atasnya.

“But open-sourcing it will help us fix that,” kata Mahajan kepada TechCrunch, merujuk pada keterbatasan jangkauan layanan. Ia juga menyampaikan misi perusahaan untuk memungkinkan setiap tim membangun sumber utama pertumbuhan mereka. Meski demikian, teknologi itu belum akan dibuka sebelum proses peninjauan keamanan selesai.

Dari ekstensi Chrome ke platform pengetahuan pelanggan

Floqer berdiri pada 2024, didirikan oleh Mahajan dan Zaaheda Islam. Keduanya bertemu saat masih kuliah. Sebelum membangun perusahaan tersebut, Mahajan bekerja sebagai insinyur perangkat lunak di Kyndryl, sementara Islam menjabat ilmuwan data senior di Axis Capital.

Baca juga: Zenzap Raih Pendanaan US$44 Juta untuk Aplikasi Chat Kerja Berbasis AI

Produk pertama mereka berbeda dari platform yang kini dikembangkan. Floqer awalnya membuat ekstensi Chrome bernama Super Chat. Dalam wawancara dengan TechCrunch pada awal bulan ini, Mahajan menjelaskan bahwa pengguna dapat masuk menggunakan akun ChatGPT untuk memahami informasi dan membuat catatan.

Perubahan arah terjadi setelah para pendiri melihat perusahaan besar menggunakan ekstensi itu untuk merapikan data di sistem manajemen hubungan pelanggan atau CRM. Dari percakapan dengan perusahaan-perusahaan tersebut, mereka mengetahui bahwa pemeliharaan data CRM masih banyak dilakukan secara manual. Proses yang mapan untuk memastikan catatan pelanggan tetap mutakhir juga belum tersedia.

Temuan itu mendorong Floqer beralih dari produk awalnya dan membangun platform yang berfokus pada pengetahuan pelanggan. Dalam penjelasan Mahajan kepada TechCrunch, pekerjaan membersihkan data CRM yang sangat manual menjadi wawasan penting bagi perusahaan untuk mengubah arah pengembangan.

Riset prospek dengan agen AI

Masalah yang ingin ditangani Floqer juga muncul dalam pekerjaan penjualan dan operasional pendapatan. Untuk mencari calon pelanggan, tim biasanya menelusuri Google, LinkedIn, situs perusahaan, papan lowongan kerja, dan sumber lainnya. Mereka perlu menemukan perusahaan yang sesuai dengan profil tertentu, lalu mengidentifikasi orang yang tepat beserta informasi kontaknya.

Baca juga: Scimplify Raih Pendanaan US$25 Juta, Perluas Jaringan Produksi AI

Floqer menawarkan otomatisasi untuk sebagian besar proses riset tersebut. Pengguna dapat menjelaskan jenis perusahaan atau kontak yang dicari, kemudian agen AI akan menelusuri berbagai sumber untuk menyusun daftar perusahaan dan orang yang relevan. Perusahaan menyebut teknologinya sebagai kumpulan agen AI yang terus meneliti perusahaan, individu, dan interaksi dengan pelanggan.

Sistem itu juga dapat memperkaya informasi akun, yakni menambahkan detail mengenai perusahaan yang menjadi sasaran tim penjualan. Menurut Floqer, proses tersebut memanfaatkan lebih dari 100 sumber data pihak ketiga. Untuk memperoleh alamat surel atau nomor telepon yang telah diverifikasi, sistem memakai pendekatan “waterfall”: memeriksa penyedia data secara berurutan sampai menemukan informasi yang dapat digunakan.

Selain melakukan pencarian, sistem memantau perubahan di internet secara berkelanjutan. Apabila calon pelanggan pindah pekerjaan atau mendapat promosi, perubahan itu dapat dimasukkan ke catatan pelanggan. Informasi mengenai perusahaan tempat prospek bekerja yang memperoleh pendanaan baru juga dapat tercermin dalam catatan tersebut.

Floqer mengatakan pelanggan melaporkan pengurangan waktu pencarian prospek hingga 70 persen. Angka itu merupakan klaim yang disampaikan perusahaan mengenai hasil penggunaan sistemnya. Tujuan teknologinya adalah mengambil alih pekerjaan riset yang biasanya dilakukan anggota tim secara manual, sekaligus menjaga informasi pelanggan tetap diperbarui.

Baca juga: Science Corporation Tanam Chip PRIMA pada Pasien Pertama dengan Stargardt

Pertumbuhan dan rencana pembukaan teknologi

Floqer menyatakan pendapatan berulang tahunannya (ARR) telah melampaui US$1,2 juta. Perusahaan juga mengatakan total pendapatannya tumbuh sekitar sepuluh kali lipat selama setahun terakhir. Selain menyampaikan capaian tersebut, startup ini melaporkan telah memiliki delapan karyawan dan lebih dari 1.000 pelanggan.

Di antara pelanggan yang disebut Floqer terdapat Perplexity, Wise, dan AngelList. Perusahaan telah menghimpun pendanaan tahap pre-seed sebesar US$2 juta. Pendanaan itu melibatkan sejumlah investor, termasuk F7 Fund milik Perplexity, N49P, Tidal Venture Partners, serta salah satu pendiri Perplexity, Denis Yarats.

Rencana membuka database secara publik tetap bergantung pada pemeriksaan keamanan. Floqer menyebut database tersebut dapat memuat informasi pelanggan yang sensitif, sementara perusahaan-perusahaan besar telah menggunakannya. Karena itu, peninjauan dilakukan sebelum teknologi dirilis, dengan sasaran waktu peluncuran pada awal 2027.