Polrestabes Bandung Selidiki Dugaan Keracunan Lebih dari 200 Orang di 88 Seoul

09/10/2026 02:43

CIANJUR.CO - Polrestabes Bandung mendalami dugaan keracunan makanan yang dilaporkan dialami lebih dari 200 orang setelah menyantap makanan Korea di restoran 88 Seoul, 23 Paskal, Kota Bandung, Jawa Barat. Peristiwa tersebut masih dalam penyelidikan kepolisian. Belum ada keterangan dalam laporan mengenai penyebab pasti ataupun hasil akhir pemeriksaan terhadap dugaan tersebut.

Kasatreskrim Polrestabes Bandung AKBP Anton mengatakan petugas telah melakukan penyelidikan atas laporan yang diterima. “Kita masih melakukan penyelidikan,” kata Anton saat dikonfirmasi di Bandung, Kamis. Berdasarkan laporan ANTARA Jabar, langkah yang telah dilakukan polisi meliputi pemeriksaan lokasi restoran, pengumpulan keterangan saksi, serta pendalaman informasi dari sejumlah orang yang diduga menjadi korban.

Dalam penanganan awal, polisi mendatangi restoran 88 Seoul untuk mengecek tempat kejadian perkara (TKP). Kunjungan itu dilakukan sebagai bagian dari pemeriksaan atas laporan dugaan keracunan yang berkaitan dengan makanan di restoran tersebut. Anton membenarkan kedatangan petugas ke lokasi dengan mengatakan, “Kita sudah mendatangi tempat resto tersebut.”

Baca juga: Dua Pemuda Ditangkap Usai Tanam Ganja di Kebun Cabai Rajapolah

Pemeriksaan tidak hanya dilakukan di restoran. Menurut Anton, polisi juga memeriksa sejumlah saksi yang berkaitan dengan peristiwa itu. Selain itu, petugas mendatangi beberapa orang yang diduga mengalami keracunan untuk menggali keterangan lebih lanjut. Anton menyebut kunjungan kepada mereka dilakukan agar kejadian tersebut dapat didalami. “Kita juga mendatangi beberapa korban yang diduga mengalami keracunan untuk didalami peristiwa tersebut,” tambahnya.

Penyelidikan kepolisian berlangsung bersamaan dengan pemeriksaan dari sisi kesehatan lingkungan. Sebelumnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung melakukan investigasi kesehatan lingkungan terhadap restoran 88 Seoul di 23 Paskal setelah munculnya kasus dugaan keracunan makanan. Pemeriksaan Dinkes mencakup kondisi higiene dan sanitasi, sementara polisi menelusuri laporan melalui pengecekan TKP, pemeriksaan saksi, dan keterangan dari orang-orang yang diduga terdampak.

Baca juga: PAM Tirta Giri Nata Reklasifikasi Sekitar 2.000 Pelanggan

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Bandung Dewi Primasari menyampaikan bahwa pemeriksaan awal menemukan beberapa hal terkait higiene dan sanitasi yang masih perlu diperbaiki oleh pihak restoran. Ia menegaskan bahwa penilaian tersebut berasal dari pemeriksaan awal. “Secara umum dari pemeriksaan awal memang masih ada beberapa hal terkait higiene dan sanitasi yang perlu diperbaiki lagi oleh pihak restoran,” ujar Dewi.

Inspeksi kesehatan lingkungan yang dilakukan Dinkes mencakup sejumlah aspek di restoran. Dewi menjelaskan pemeriksaan meliputi penataan lokasi, peralatan, bahan makanan, serta penerapan prosedur operasional standar (SOP). Dengan cakupan tersebut, pemeriksaan tidak terbatas pada satu bagian, melainkan melihat beberapa unsur yang berkaitan dengan pengelolaan dan kondisi lingkungan restoran.

Baca juga: Dua Pemuda di Rajapolah Ditangkap karena Tanam Ganja di Kebun Cabai

Salah satu perhatian yang disampaikan Dewi adalah penataan bahan makanan segar dan bahan makanan kering. Keduanya perlu diperhatikan pemisahannya, termasuk dari bahan kimia seperti cairan pembersih dan sabun pencuci piring. Menurut Dewi, pemisahan tersebut masih perlu diperbaiki. Ia juga menyatakan lokasi restoran tidak begitu luas sehingga penataan ulang diperlukan. “Masih perlu diperbaiki pemisahan-pemisahannya. Kemudian karena lokasinya tidak begitu luas, perlu penataan ulang,” katanya.

Dinkes Kota Bandung masih melakukan penelusuran dan pemantauan untuk memastikan kondisi kesehatan masyarakat yang diduga mengalami keracunan. Pemantauan itu juga ditujukan untuk mengetahui faktor yang menyebabkan munculnya kasus tersebut. Sementara itu, penyelidikan Polrestabes Bandung masih berjalan dengan pemeriksaan lokasi, saksi, serta sejumlah orang yang diduga menjadi korban. Dalam laporan yang disampaikan, kedua proses tersebut masih berlangsung dan belum disebutkan adanya kesimpulan mengenai penyebab dugaan keracunan.