Kemenkes Kirim 500 Ribu Masker per Provinsi Terdampak Karhutla
CIANJUR.CO - Pemerintah meningkatkan bantuan kesehatan untuk masyarakat terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan dan Sumatra. Langkah yang disiapkan mencakup penyaluran masker tambahan, penambahan kapasitas rumah oksigen, serta penyediaan oxygen concentrator dan obat-obatan sesuai kebutuhan daerah.
Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan RI, koordinasi penanganan kesehatan dilakukan melalui rapat di Jakarta pada Sabtu (17/10). Dalam pertemuan itu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Soegiono menekankan perlunya respons darurat yang terpadu antara pemerintah pusat dan daerah. Kecepatan pemenuhan kebutuhan medis dan logistik menjadi perhatian karena masyarakat menghadapi ancaman kesehatan akibat karhutla.
Soegiono meminta seluruh pihak bergerak cepat dalam menangani kebutuhan warga terdampak. “Pemenuhan kebutuhan medis dan logistik harus dieksekusi sesegera mungkin,” ujarnya. Ia juga menegaskan pentingnya langkah bersama yang sigap untuk mengatasi ancaman kesehatan tersebut. Pernyataan itu menjadi penekanan dalam koordinasi yang melibatkan unsur kesehatan dari pusat hingga daerah.
Baca juga: Paviliun Campuspreneur di TEI ke-41 Perluas Peluang Ekspor Usaha Mahasiswa
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menginstruksikan percepatan distribusi logistik medis dan penyiapan layanan kesehatan darurat. Pelaksanaannya diminta dilakukan melalui kolaborasi erat dengan dinas kesehatan setempat agar bantuan dan pelayanan dapat menjangkau masyarakat terdampak. Budi juga menyatakan kebutuhan logistik kesehatan di daerah yang terpapar asap tebal tidak boleh tertunda dan memerlukan dukungan penuh pemerintah daerah.
Rapat koordinasi diikuti kepala dinas kesehatan tingkat provinsi serta kabupaten dan kota dari tujuh wilayah terdampak, yakni Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah. Kepala puskesmas serta kepala unit pelaksana teknis (UPT) Kemenkes turut dilibatkan. Pertemuan tersebut berlangsung setiap hari untuk memperkuat koordinasi pusat-daerah, memetakan kondisi terkini masyarakat di lapangan, dan memastikan bantuan medis tiba pada waktu serta sasaran yang tepat.
Dalam instruksinya, Budi meminta pengiriman 500 ribu masker tambahan untuk setiap provinsi terdampak. Bantuan itu disertai oxygen concentrator (OC) serta obat-obatan dengan jumlah yang disesuaikan terhadap kebutuhan masing-masing daerah. Dengan demikian, pengadaan logistik tidak hanya mencakup masker, tetapi juga perangkat dan pasokan medis yang diperlukan untuk mendukung layanan kesehatan di wilayah terdampak.
Baca juga: Business Matching Pangan Nusa Expo 2026 Catat Potensi Transaksi Rp44 Miliar
“Seluruh Puskesmas di wilayah terdampak wajib membuka layanan rumah oksigen dan menjamin ketersediaan obat-obatan,” tegas Budi. Ia secara khusus menyebut obat untuk penanganan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan diare. Puskesmas menjadi bagian penting dari layanan darurat yang diminta disiapkan, sementara ketersediaan obat harus dijaga sesuai kebutuhan daerah. Instruksi tersebut disampaikan sebagai bagian dari upaya melindungi masyarakat di tengah paparan asap tebal.
Posyandu menjangkau warga dan petugas pemadam
Perhatian khusus juga diarahkan kepada anak-anak, ibu hamil, dan lanjut usia. Kemenkes bersama pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, serta tenaga kesehatan setempat menyiagakan layanan Posyandu dengan penjangkauan dari rumah ke rumah. Layanan ini disiapkan agar kelompok tersebut tetap memperoleh pelayanan kesehatan secara optimal ketika masyarakat diimbau bertahan di dalam rumah.
Selain menjangkau warga, Budi meminta tenaga kesehatan memberikan pertolongan kepada pemadam kebakaran yang sedang bertugas apabila mereka membutuhkan layanan kesehatan di lapangan. Permintaan ini melengkapi penyiapan layanan bagi masyarakat, dengan tenaga kesehatan diharapkan juga dapat merespons kebutuhan para petugas yang menangani kebakaran.
Baca juga: Kemendag Ajak Pelaku Usaha Manfaatkan Perjanjian Dagang ASEAN untuk Ekspor
Untuk memperkuat penanganan krisis bersama dinas kesehatan setempat, Kemenkes kembali menerjunkan tim Pusat Krisis Kesehatan (Puskris). Tim tersebut memantau distribusi bantuan, operasional rumah oksigen, dan kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak. Anggota tim juga turun langsung untuk mengetahui kondisi serta kebutuhan warga. Pemantauan lapangan itu ditujukan agar penanganan berjalan efektif, terpadu, dan sesuai dengan kebutuhan daerah.
Rangkaian langkah tersebut mencakup koordinasi lintas wilayah, pengiriman perlengkapan medis, pengoperasian layanan rumah oksigen di puskesmas, serta penjangkauan kelompok yang memerlukan perhatian khusus. Kementerian Kesehatan RI menyampaikan informasi ini melalui Biro Komunikasi dan Informasi Publik pada 18 Oktober 2026.