Electric Plant Kembangkan AI untuk Membaca Sinyal Listrik Tanaman
CIANJUR.CO - Gagasan bahwa tanaman dapat menyampaikan kebutuhannya melalui sinyal listrik mendorong Justin Mast membangun sebuah perusahaan teknologi. Bersama Lee von Kraus, seorang neurosaintis yang pernah bekerja dengan DARPA, Mast mendirikan Electric Plant. Perusahaan itu mengembangkan model kecerdasan buatan bernama Bombadil untuk menafsirkan perubahan listrik halus yang mengalir melalui batang tanaman dan menyampaikan informasi tersebut kepada para penanam.
Menurut laporan TechCrunch AI, ketertarikan Mast berawal ketika ia membaca literatur ilmiah tentang tanaman hias yang dipasangkan dengan dudukan bermotor. Dalam penelitian tersebut, sinyal listrik mengalir melalui jaringan hidup tanaman saat tanaman membutuhkan lebih banyak cahaya. Papan kendali mendeteksi arus itu, lalu menggerakkan tanaman mendekati sumber cahaya.
Pengalaman membaca penelitian itu menjadi pintu masuk Mast untuk mendalami hubungan antara sinyal listrik dan kebutuhan tanaman. Ia mengatakan kepada TechCrunch, “Saya seperti, apa-apaan ini?” Penemuan tersebut kemudian membawanya menelusuri lebih jauh penelitian tentang cara tanaman merespons lingkungannya.
Electric Plant telah mengumpulkan data selama tiga tahun terakhir untuk membangun Bombadil. Model tersebut dirancang membaca sinyal listrik yang samar di batang, kemudian mengubahnya menjadi informasi mengenai kebutuhan tanaman. Para pendiri berharap teknologi ini kelak dapat membantu manusia “berbicara” dengan tanaman. Namun, menurut Mast, perhatian perusahaan saat ini lebih banyak diarahkan untuk mendengarkan. “Kami lebih banyak mendengarkan daripada berbicara, tetapi mendengarkan adalah langkah pertama,” ujarnya. Mast merupakan salah satu pendiri sekaligus CEO Electric Plant.
Baca juga: Figma Perluas Dukungan MCP, Dylan Field Sebut Protokol Belum Sempurna
Membaca kebutuhan tanaman secara lebih langsung
Kebutuhan tanaman, menurut Mast, belum sepenuhnya terlihat oleh petani dan penanam, bahkan di rumah kaca yang paling terkendali. Selama ini, petani, penanam, dan pengelola hutan mengandalkan perangkat yang relatif kasar untuk merespons kebutuhan air, nutrisi, atau cahaya. Sejumlah alat yang digunakan mencakup probe tanah, spektroskop genggam, dan citra satelit. Mast menilai perangkat-perangkat itu dapat bekerja, tetapi masih belum cukup untuk menunjukkan keadaan di dalam tanaman secara langsung.
“Teknologi itu canggih, tetapi kemampuannya untuk mengetahui bagian dalam tanaman tidak terlalu canggih,” kata Mast. Ia menjelaskan bahwa sebagian besar perangkat tersebut masih tertinggal dari kebutuhan tanaman yang berubah secara real time. Karena itu, Electric Plant ingin membaca perubahan yang terjadi di dalam tanaman, alih-alih hanya mengandalkan pengukuran lingkungan atau tanda kebutuhan yang sudah tampak.
Dalam tahap pengembangan, Electric Plant tetap memanfaatkan perangkat yang telah tersedia untuk melatih Bombadil. Model itu kini mampu menafsirkan sinyal listrik dari sekitar 125 spesies tanaman. Mast mengatakan perusahaan memulai dari perangkat yang ada, tetapi memperkirakan kemampuan modelnya akan melampaui banyak peralatan tersebut. Ia menyebut Bombadil sebagai model yang dibangun untuk memahami sinyal listrik biologis pada beragam jenis tanaman.
Perusahaan juga menyebut sensornya jauh lebih murah dibandingkan alat yang sudah digunakan, yang umumnya berharga ribuan dolar. Mast menyatakan sensor Electric Plant berharga “puluhan dolar”. Perbedaan biaya itu menjadi salah satu ciri perangkat yang tengah disiapkan untuk dipasarkan, bersama kemampuan mengirimkan pembacaan sinyal dari tanaman kepada pengguna.
Baca juga: AS Perintahkan Instansi Sipil Hapus DeepSeek dari Sistem Pemerintah
Sensor dipasang pada jaringan hidup tanaman
Sensor Electric Plant berukuran kira-kira seperti iPhone biasa yang dilipat memanjang. Perangkat itu dipasang pada tanaman menggunakan sekrup baja tahan karat. Sekrup perlu menembus kambium, yakni lapisan jaringan hidup tepat di bawah kulit batang, agar sensor dapat terhubung dengan perubahan mikrovolt yang berlangsung di dalam tanaman. Data yang dikumpulkan kemudian dikirim ke stasiun pangkalan melalui jaringan nirkabel berdaya rendah.
Mast mengatakan perusahaan hanya membutuhkan sekitar dua sensor per hektare untuk memperoleh hasil yang akurat. Data dari perangkat itu diproses oleh Bombadil di cloud, lalu hasil interpretasinya dikirim kembali kepada pelanggan. Informasi tersebut dapat digunakan, misalnya, untuk menyesuaikan jadwal penyiraman atau pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman yang terbaca.
Mast mengklaim sistem itu berpotensi meningkatkan hasil panen sekaligus mengurangi penggunaan air sebesar 20 persen atau lebih. Klaim tersebut berkaitan dengan kemungkinan penyesuaian perawatan berdasarkan hasil pembacaan sensor, bukan sekadar jadwal umum. Namun, ia tidak mengungkap siapa saja pelanggan awal Electric Plant.
Baca juga: Eka Robotics Raih Valuasi US$1,45 Miliar dengan Model AI Fisik
Perangkat dan model itu tengah dibawa menuju pasar setelah Electric Plant baru-baru ini memperoleh pendanaan awal sebesar 11,2 juta dolar AS. Putaran pendanaan tersebut dipimpin Onto Ventures dan Climactic, dengan partisipasi Ponderosa, Endeavor Catalyst, Ludlow, Michigan Rise, The Fund, Schox VC, serta Dug Song.
Walau nama pelanggan pertamanya belum dibuka, penerapan teknologi ini dapat dibayangkan untuk sektor pertanian dan kehutanan. Cakupan spesies yang telah dimasukkan ke dalam Bombadil juga beragam. Mast menyebut lebih dari seratus spesies pertama dalam model itu mencakup pakis, redwood, tomat, dan dahlia.
Keragaman tersebut menjadi bagian penting dari pendekatan Electric Plant terhadap sinyal listrik biologis. Mast menyebut Bombadil sebagai model paling beragam yang pernah dibuat untuk sinyal listrik biologis. Ia juga mengatakan belum ada sesuatu yang setara dengan pendekatan itu di dunia hewan. Perusahaan kini mengembangkan teknologi yang berangkat dari pengukuran sinyal tanaman, dengan tujuan menyampaikan kebutuhan tanaman kepada orang yang merawat atau membudidayakannya.