UPDATE

Blackstone Nilai Kekhawatiran Utang Infrastruktur AI Berlebihan

22/10/2026 05:57

CIANJUR.CO - Blackstone menilai kekhawatiran bahwa utang untuk membangun infrastruktur kecerdasan buatan (AI) dapat memicu krisis kredit luas masih berlebihan. Jas Khaira, pemimpin inisiatif AI perusahaan investasi tersebut, mengatakan gejolak pasar belakangan memang nyata, tetapi pembiayaan sektor ini tidak serta-merta menyerupai kondisi perbankan yang rapuh seperti pada krisis 2008.

Dalam penampilannya di panggung TechCrunch Disrupt pekan lalu, Khaira menjelaskan strategi Blackstone yang menempatkan perusahaan itu di tengah lonjakan investasi AI. Berdasarkan laporan TechCrunch AI, Blackstone bergerak dari pembiayaan pusat data hingga investasi pada model AI mutakhir dan aplikasi. Perusahaan mengelola aset senilai 1,3 triliun dolar AS, dan menilai besarnya kebutuhan modal dalam pengembangan AI membuka peran penting bagi penyedia pembiayaan berskala besar.

Blackstone meluncurkan Blackstone N1 (BXN1) pada awal tahun ini sebagai pusat koordinasi inisiatif AI. Berbasis di San Francisco, kelompok tersebut dipimpin Khaira, yang pindah dari New York untuk berada di pusat perkembangan AI. Kehadiran BXN1 menghubungkan strategi investasi perusahaan di berbagai bagian rantai infrastruktur dan penerapan teknologi tersebut.

Khaira membandingkan kebutuhan modal AI dengan siklus teknologi sebelumnya, seperti ponsel dan perangkat lunak sebagai layanan (SaaS). Pada masa itu, perusahaan dapat mencapai skala besar dengan modal yang lebih moderat. Peralihan menuju AI, sebaliknya, menuntut investasi sangat besar. Blackstone berupaya membedakan diri dari pemodal ventura tradisional melalui pembiayaan komputasi dan pilihan struktur modal yang dapat mencakup utang maupun ekuitas.

“Kami adalah pemilik komputasi terbesar di luar para hyperscaler saat ini,” kata Khaira, merujuk pada investasi di neocloud dan pusat data serta penggunaan kapasitas komputasi untuk mendukung perusahaan. Neocloud merupakan penyedia layanan awan yang menyewakan infrastruktur GPU untuk AI. Dengan kapasitas tersebut, Blackstone tidak hanya memberikan dana, tetapi juga berinvestasi pada aset komputasi yang dibutuhkan perusahaan untuk menjalankan model AI.

Baca juga: TechCrunch Founder Summit 2026 Digelar 4 November di Boston

Pembiayaan neocloud dan agunan GPU

BXN1 terlibat dalam beberapa transaksi terkait komputasi. Di antaranya adalah Crux AI, neocloud yang diluncurkan bersama Google untuk mengomersialkan TPU kustom milik Google. Blackstone berkomitmen menanamkan 5 miliar dolar AS sebagai investor. Perusahaan itu juga mendukung Etched, perusahaan rintisan cip yang telah berusia empat tahun dan perkembangan pesatnya menarik perhatian investor.

Blackstone mengembangkan pola pembiayaan yang memungkinkan pemberian pinjaman besar kepada neocloud yang didukung modal ventura. Dalam menilai pinjaman, perusahaan memperhitungkan kontrak pelanggan yang telah disepakati dan GPU yang dijaminkan sebagai agunan. Pendekatan ini menjadi dasar transaksi pertama dengan CoreWeave pada 2023, tidak lama setelah permintaan terhadap layanan neocloud tersebut melonjak seusai peluncuran ChatGPT.

Menurut Khaira, saat itu CoreWeave hanya memiliki pendapatan 30 juta dolar AS dan profitabilitas yang minim, tetapi mengajukan pinjaman 2,3 miliar dolar AS kepada Blackstone. CoreWeave meminjam dengan menjadikan koleksi besar GPU Nvidia sebagai agunan. Nvidia juga merupakan investor di perusahaan tersebut. Blackstone turut mempertimbangkan kontrak CoreWeave dengan pelanggan besar, termasuk Microsoft, dalam menilai pembiayaan.

Transaksi itu kemudian menjadi model bagi Blackstone dan lembaga kredit lain untuk menyalurkan pinjaman lanjutan bernilai miliaran dolar kepada CoreWeave dan neocloud pesaingnya. Khaira mengatakan kualitas pelanggan menjadi salah satu pertimbangan utama. Jika perusahaan memiliki pelanggan berperingkat investasi seperti Microsoft atau Meta, risiko pinjaman akan dihitung dengan merujuk pada kualitas pelanggan tersebut.

Blackstone kemudian memperluas pembiayaan ke penyedia lain. Pada awal tahun ini, perusahaan itu bersama Coatue memimpin fasilitas kredit senilai 10 miliar dolar AS untuk Firmus, penyedia GPU asal Australia. Namun, besarnya utang yang terkumpul di kalangan operator neocloud mulai menimbulkan kekhawatiran. Utang CoreWeave sendiri telah membengkak menjadi sekitar 50 miliar dolar AS.

Baca juga: Meta Sebut Muse Tembus 10 Juta Pengguna, Belanja Jadi Aktivitas Utama

Dalam wawancara CNBC baru-baru ini, pendiri Altimeter Capital Brad Gerstner menilai GPU saja tidak lagi menjadi agunan yang memadai bagi CoreWeave untuk memperoleh utang murah, berbeda dengan kondisi sebelumnya. Pernyataan itu muncul di tengah perhatian pasar terhadap nilai aset yang dijaminkan serta besarnya beban pinjaman perusahaan-perusahaan infrastruktur AI.

Biaya pinjaman naik, tetapi permintaan komputasi berlanjut

Khaira mengaitkan kegelisahan pasar kredit dengan beberapa faktor. Suku bunga naik pada September, sementara inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan memberi sinyal bahwa biaya pinjaman dapat terus meningkat. Penawaran utang untuk infrastruktur AI yang terus bertambah juga ikut memengaruhi situasi. Ia mengatakan spread kredit meningkat, sehingga pemberi pinjaman mengenakan premi lebih tinggi di atas suku bunga dasar yang sudah naik.

Menurut Khaira, biaya utang bagi perusahaan besar seperti Meta dan Microsoft juga melebar. Dengan demikian, kenaikan biaya pendanaan tidak hanya dirasakan neocloud, meskipun perusahaan teknologi raksasa tersebut memiliki neraca besar dan pendapatan yang solid. Perubahan harga kredit itu turut terasa di pasar saham dan rencana pendanaan perusahaan.

Saham CoreWeave turun lebih dari 20 persen dalam beberapa hari terakhir. Firmus juga membatalkan rencana penawaran umum perdana di Bursa Efek Australia dengan target valuasi sekitar 30 miliar dolar AS. Khaira mengatakan pasar belum menerima valuasi tersebut, sehingga transaksi itu tidak terlaksana. Ia menilai investor kini sedang menentukan harga yang tepat bagi neocloud dan bisnis sejenis ketika suku bunga bergerak naik.

Baca juga: Recursive Rilis Flint, Model Coding Laptop yang Dikembangkan dengan Bantuan AI

Meski tekanan pembiayaan meningkat, kebutuhan komputasi perusahaan AI tetap tinggi dan mendorong pembangunan pusat data. Khaira menolak anggapan bahwa penumpukan utang infrastruktur AI otomatis akan berubah menjadi krisis kredit luas atau menjatuhkan perekonomian. “Ini tidak terasa seperti situasi ketika bank-bank pada 2008 memiliki kredit yang rapuh,” ujarnya.

Ia menambahkan, sebagian besar pusat data dibangun untuk hyperscaler. Karena itu, menurut Khaira, pembiayaan utang untuk fasilitas tersebut pada akhirnya didukung oleh perusahaan-perusahaan yang paling layak kredit di dunia. Pernyataan itu menjadi dasar pandangannya bahwa kondisi pembiayaan AI saat ini tidak sama dengan risiko yang muncul dari lembaga keuangan dengan kualitas kredit lemah.

Selain mendanai pusat data, Blackstone juga mendorong penerapan AI di perusahaan. Tahun ini, Blackstone membentuk usaha patungan senilai 1,5 miliar dolar AS bernama Ode with Anthropic bersama Anthropic dan Hellman & Friedman. Ode menyediakan insinyur yang bekerja langsung dengan perusahaan untuk membantu adopsi AI dan integrasinya ke dalam kegiatan operasional, dimulai dari 280 perusahaan portofolio Blackstone.

Ketika ditanya mengenai hasil nyata penerapan AI di perusahaan milik Blackstone, Khaira mengakui bahwa imbal hasil investasi sudah terlihat, tetapi belum merata. Ia menggambarkan adopsi teknologi dapat bergerak seperti pola “gerigi gergaji”. Bagi pihak yang meragukan investasi tersebut, pola itu dapat terlihat sebagai kelebihan pasokan komputasi sebelum pemanfaatan AI menyusul. Khaira menyampaikan bahwa perbedaan laju penerapan itu menjadi bagian dari gambaran manfaat AI yang belum seragam di seluruh perusahaan.