CEO Flock Sebut Mikrofonnya Hanya Mendeteksi Tembakan, Situs Perusahaan Cantumkan Suara Lain
CIANJUR.CO - CEO sekaligus salah satu pendiri perusahaan pengawasan Flock, Garrett Langley, mengatakan mikrofon untuk mendeteksi tembakan milik perusahaannya hanya mendengarkan suara tembakan. Namun, keterangan di situs Flock menunjukkan sistem audio tersebut juga dapat mengenali sejumlah suara lain, termasuk kembang api, aksi kendaraan, dan kemungkinan kecelakaan mobil.
Perbedaan antara pernyataan Langley dan materi pemasaran perusahaan itu muncul saat ia berbicara di panggung TechCrunch Disrupt. Berdasarkan laporan TechCrunch AI, Langley membela produk bernama Gunshot Detection, yang mendengarkan suara tembakan dan audio sekitar di lingkungan sekitar untuk memberikan “kesadaran lebih awal” terhadap kemungkinan peristiwa yang berkaitan dengan keselamatan publik.
Situs Flock menyatakan sistem audionya dapat menunjukkan lokasi tembakan dengan cepat. Materi yang sama juga menyebut kemampuan mendeteksi aksi kendaraan di jalan sebelum situasi memburuk, serta mengenali kecelakaan parah secara langsung agar bantuan dapat tiba lebih cepat. Perusahaan turut mencantumkan peringatan untuk kecelakaan mobil, kembang api, dan aksi kendaraan sebagai cara memperluas pemantauan di luar suara tembakan.
Fitur Gunshot Detection diumumkan tahun lalu dan langsung menuai keberatan. Saat memperkenalkannya, Flock menyebut teknologi tersebut akan mendengarkan suara “teriakan”. Kelompok privasi mengecam perusahaan karena dinilai mendengarkan suara manusia. Setelah kritik itu, Flock mengubah keterangan di situsnya menjadi “suara manusia yang sedang mengalami kesusahan”.
Baca juga: YouTube Music Hadirkan Label untuk Ungkap Peran AI dalam Lagu
Perusahaan kemudian mengatakan telah menghapus kemampuan untuk mendeteksi “kesusahan” dari layanan yang dicoba oleh para pelanggannya. Dalam wawancara di panggung, Langley menyebut banyak kritik terhadap produknya berangkat dari kesalahpahaman mengenai cara kerja teknologi Flock. Ia juga mengakui perusahaan membuat kesalahan, sembari menyatakan dirinya mendengarkan pelanggan.
Langley menjelaskan bahwa alasan awal pengembangan produk itu adalah tidak semua orang menghubungi layanan darurat ketika mendengar tembakan. Ia menyampaikan hal tersebut kepada pemimpin redaksi TechCrunch, Connie Loizos. Menurutnya, sejumlah pelanggan yang memasang perangkat di tempat parkir kemudian mengusulkan agar mereka mendapat pemberitahuan apabila ada orang yang diculik atau disakiti.
Gagasan pelanggan itu, kata Langley, terdengar masuk akal bagi perusahaan. Flock lalu membuat prototipe dan mengujinya dengan beberapa pelanggan. Namun, setelah uji coba tersebut, sejumlah orang menyampaikan kekhawatiran. Langley menggambarkan tahap itu sebagai percobaan terbatas, bukan penerapan luas, dan mengatakan perusahaan akhirnya menegaskan bahwa sistem hanya akan mendeteksi tembakan.
“Hanya ada beberapa pelanggan yang membuat prototipe bersama kami, dan kami mengatakan, ‘Baik, bagus, ini hanya akan mendeteksi tembakan, sederhana saja,’” ujar Langley. Ia menambahkan bahwa jika senjata api ditembakkan, sistem akan memberi pemberitahuan, sedangkan selain itu tidak akan didengarkan. Ketika ditanya tentang perbedaan pernyataannya dengan materi pemasaran Flock yang menyebut kemampuan mendeteksi suara lain, Langley menjawab, “Itu hanya tembakan.”
Baca juga: Apate.ai Kirim Agen AI Menyamar untuk Mengungkap Jejak Penipu
Juru bicara Flock, Paris Lewbel, memberikan penjelasan berbeda ketika dihubungi TechCrunch. Ia mengatakan teknologi Gunshot Detection terutama digunakan untuk mendeteksi tembakan, tetapi juga mampu mendeteksi kembang api, aksi kendaraan, dan kemungkinan kecelakaan mobil. Menurut Lewbel, komentar Langley dimaksudkan untuk menegaskan bahwa Audio Detection tidak dirancang untuk memantau percakapan atau menganalisis ucapan.
Lewbel juga menyatakan teknologi tersebut saat ini tidak mendeteksi teriakan manusia ataupun suara yang menunjukkan kesusahan. Pernyataan itu membedakan kemampuan mendeteksi sejumlah peristiwa audio yang dicantumkan perusahaan dari pemantauan percakapan atau analisis ucapan, yang menurut juru bicara bukan tujuan teknologinya.
Bagian tanya jawab di situs perusahaan menyebut Gunshot and Audio Detection dapat mendeteksi kembang api, aksi kendaraan, serta peristiwa lain yang mengganggu masyarakat, selain tembakan. Situs itu juga mengatakan pustaka deteksi Flock terus diperluas untuk mencakup ancaman baru yang relevan dengan kebutuhan khusus pelanggan. Dengan demikian, keterangan tertulis perusahaan menjelaskan cakupan sistem yang lebih luas daripada penekanan Langley bahwa produk tersebut hanya mendengarkan tembakan.
Baca juga: Deezer Siapkan Fitur untuk Menyaring Musik Buatan AI
Langley mengatakan jumlah mikrofon Flock sebanding dengan milik ShotSpotter. Menurut laporan Wired yang dikutip dalam pemberitaan tersebut, ShotSpotter memiliki sekitar 25.000 mikrofon pada 2024. Perbandingan itu disampaikan di tengah meningkatnya perhatian terhadap penggunaan teknologi audio Flock dan cakupan perangkatnya.
Perdebatan mengenai produk tersebut berlangsung ketika Flock menghadapi pengawasan yang kian besar dari kelompok pembela privasi, termasuk ACLU, serta warga yang khawatir teknologi perusahaan dapat disalahgunakan. Sebagian orang bahkan merusak kamera pengawas. Ketidaknyamanan publik terhadap pengawasan massal juga terlihat di San Francisco, ketika para demonstran berkumpul di luar lokasi acara untuk menyampaikan penolakan saat Langley naik ke panggung.
Tekanan terhadap Flock tidak hanya muncul dalam bentuk protes. Texas dan Florida telah bergerak untuk mengakhiri hubungan mereka dengan perusahaan, sementara Amazon Ring mengakhiri kemitraannya dengan Flock. Perkembangan itu terjadi saat opini publik terhadap Flock dan perusahaan pembaca pelat nomor lainnya disebut terus bergeser di tengah kekhawatiran atas pengawasan massal.