UPDATE

Sugiono Tekankan Empat Peran Kemenag dalam Transformasi Bangsa

13/10/2026 20:35

CIANJUR.CO - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Sugiono menegaskan Kementerian Agama (Kemenag) memiliki peran strategis dalam mendukung transformasi bangsa yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto. Peran itu mencakup empat pilar: menjaga kerukunan umat beragama, membangun karakter bangsa, mentransformasi pendidikan keagamaan, serta memperkuat tata kelola kementerian.

Penegasan tersebut disampaikan Sugiono dalam Breakfast Meeting Kementerian Agama yang digelar secara daring pada Selasa (13/10/2026). Berdasarkan laporan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI, forum rutin tersebut diikuti jaringan Kemenag dari seluruh Indonesia. Kehadiran Sugiono dalam pertemuan itu menjadi yang pertama bagi seorang Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi lintas kementerian.

Sugiono mengaitkan peran Kemenag dengan cita-cita pembangunan jangka panjang. Indonesia, menurutnya, berpotensi menjadi kekuatan ekonomi terbesar keempat di dunia pada 2050. Untuk mencapai potensi itu, transformasi bangsa perlu disertai pembangunan manusia Indonesia yang unggul. Upaya tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai sektor, termasuk agama dan pendidikan keagamaan.

Dalam konteks itu, jangkauan jaringan Kemenag di seluruh wilayah Indonesia dinilai sebagai modal strategis. Jaringan tersebut dapat membantu menyinergikan program pemerintah sekaligus memperkuat pembangunan manusia. Sugiono menyebut tanggung jawab Kemenag tidak hanya terkait kehidupan keagamaan, tetapi juga mencakup pendidikan, pembentukan karakter, dan tata kelola di lingkungan kementerian.

“Kementerian Agama berperan penting setidaknya dalam empat hal,” ujar Sugiono, merujuk pada kerukunan dan toleransi, karakter bangsa yang positif dan optimistis, transformasi sumber daya manusia melalui pendidikan, serta tata kelola Kemenag. Keempatnya menjadi landasan yang saling terkait dalam mendukung agenda transformasi bangsa.

Kerukunan dan pembentukan karakter

Pilar pertama berkaitan dengan kerukunan umat beragama. Sugiono menegaskan keberagaman perlu menjadi kekuatan yang mempersatukan bangsa. Ia mengapresiasi peningkatan indeks kerukunan umat beragama, tetapi mengingatkan bahwa ukuran kerukunan tidak cukup hanya dilihat dari tidak adanya konflik. Hubungan yang rukun juga perlu tampak dalam kebersamaan antarkelompok masyarakat.

Baca juga: Kemenko PMK Dorong Layanan Kesehatan dan Perlindungan bagi Lansia

Karena itu, Sugiono meminta Kemenag berada di garis depan dalam menjaga kebinekaan. Keberagaman, menurut arahan tersebut, perlu dirawat sebagai kekuatan untuk mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang harmonis. Ia mengatakan nilai indikator kerukunan masih dapat dan harus ditingkatkan, dengan kebersamaan sebagai bagian penting dari maknanya.

“Kerukunan tidak cukup diukur dari ketiadaan konflik semata, namun juga harus membangun kebersamaan di tengah peradaban,” kata Sugiono. Pernyataan itu menempatkan peningkatan indikator kerukunan bukan sekadar capaian angka, melainkan pengingat agar hubungan di antara kelompok masyarakat terus diperkuat.

Pilar kedua adalah pembangunan karakter bangsa yang positif, optimistis, berintegritas, bertanggung jawab, dan disiplin. Sugiono menekankan pembentukan karakter perlu dimulai dari keluarga. Ketahanan keluarga disebut sebagai fondasi untuk menyiapkan generasi penerus yang unggul. Dalam pandangannya, pembangunan manusia tidak hanya berlangsung melalui pendidikan formal, tetapi juga melalui lingkungan keluarga yang mendukung perkembangan anak.

Ia menyebut tugas Kemenag dalam membangun karakter sebagai tugas yang berat sekaligus mulia. “Membangun karakter bangsa untuk menjadi fondasi utama, mencetak manusia Indonesia yang unggul,” tegasnya. Untuk mendukung pembentukan keluarga, Sugiono menyoroti peran Kantor Urusan Agama (KUA) dalam memberikan bimbingan pranikah dan pendampingan pascanikah.

Melalui bimbingan dan pendampingan tersebut, pasangan diharapkan memperoleh bekal untuk membangun relasi yang sehat, mengelola konflik, serta menjalankan pengasuhan anak. Peran KUA itu menjadi bagian dari perhatian terhadap ketahanan keluarga, yang oleh Sugiono ditempatkan sebagai dasar dalam menyiapkan generasi penerus.

Baca juga: Kemenkes dan Inggris Luncurkan Tangguh+ untuk Perkuat Transformasi Kesehatan

Pendidikan, revitalisasi madrasah, dan tata kelola

Pilar ketiga menyangkut transformasi pendidikan keagamaan. Kemenag dinilai memiliki modal besar melalui jaringan madrasah dan pesantren. Sugiono secara khusus menyoroti sistem pendidikan pesantren yang menyediakan lingkungan pembelajaran dan pembinaan selama 24 jam setiap hari. Potensi tersebut perlu dioptimalkan agar peserta didik tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga menguasai sains dan teknologi.

Ia menginginkan pendidikan keagamaan memadukan kedalaman ilmu agama dengan penguasaan sains, teknologi, matematika, dan kemampuan dasar lainnya. Dengan demikian, lulusan madrasah dan pesantren diharapkan memiliki kompetensi yang seimbang antara pendidikan agama dan ilmu pengetahuan umum, termasuk sains, teknologi, teknik, dan matematika atau STEM.

Penguasaan kompetensi tersebut dipandang sebagai bekal bagi lulusan untuk mengembangkan potensi, beradaptasi dengan perkembangan zaman, dan berkontribusi dalam pembangunan bangsa. Sugiono juga mengingatkan bahwa Presiden Prabowo telah menginstruksikan percepatan revitalisasi madrasah sebagai program prioritas nasional.

Jajaran Kemenag diminta mencermati penyelesaian infrastruktur madrasah agar pekerjaan yang masih berlangsung dapat dituntaskan pada 2026. Selain pembangunan infrastruktur, kebutuhan dan kesejahteraan guru madrasah juga diminta menjadi perhatian utama. Kedua hal tersebut menjadi bagian dari perhatian dalam mendorong transformasi pendidikan keagamaan.

Pilar keempat adalah penguatan tata kelola Kemenag untuk menjaga kepercayaan masyarakat. Sugiono menekankan nilai agama harus tercermin dalam integritas dan profesionalisme, serta dalam penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan berorientasi kepada kepentingan rakyat. Ia menyebut tata kelola yang baik sebagai kunci dan menegaskan perlunya menjauhkan penyelenggaraan kementerian dari korupsi serta penyalahgunaan wewenang.

Baca juga: Mendag dan Menko Pangan Tinjau Tiga Koperasi Merah Putih di Sukoharjo

“Nilai-nilai agama harus tercermin dalam integritas, profesionalisme dan tata kelola pemerintahan yang baik,” ujar Sugiono. Ia juga menekankan bahwa penyelenggaraan pemerintahan harus benar-benar bekerja untuk kepentingan rakyat. Dengan demikian, nilai yang disampaikan dalam kehidupan keagamaan perlu terlihat dalam praktik tata kelola Kemenag.

Sugiono turut mengingatkan agar Breakfast Meeting dan forum koordinasi lain tidak berhenti pada diskusi atau catatan rapat. Persoalan yang dibicarakan perlu ditindaklanjuti sampai menghasilkan penyelesaian yang manfaatnya dirasakan masyarakat. Ia menegaskan catatan rapat harus dikerjakan, pekerjaan yang sudah dimulai perlu dituntaskan, dan hasilnya harus memberi manfaat luas.

Menko PMK Sugiono berharap sinergi Kemenko PMK dan Kemenag semakin kuat dalam mengawal program prioritas Presiden Prabowo. Penguatan kerukunan, pembangunan karakter, transformasi pendidikan, dan perbaikan tata kelola diharapkan berkontribusi nyata bagi pembangunan manusia Indonesia yang unggul.

Breakfast Meeting tersebut turut dihadiri Menteri Agama Nasaruddin Umar, Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i, Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Kamaruddin Amin, serta pejabat eselon I, staf ahli, staf khusus, tenaga ahli, dan tim penasihat ahli Menteri Agama. Jajaran Kementerian Agama di seluruh Indonesia juga mengikuti kegiatan secara daring.