UPDATE

Scimplify Raih Pendanaan US$25 Juta, Perluas Jaringan Produksi AI

14/10/2026 18:33

CIANJUR.CO - Startup India Scimplify mengumpulkan US$25 juta dalam pendanaan strategis berbentuk ekuitas untuk memperluas pendekatan berbasis kecerdasan buatan (AI) dalam produksi bahan kimia khusus dan material kritis. Perusahaan yang berbasis di Bengaluru itu membidik sejumlah sektor dengan kebutuhan yang berkembang, antara lain semikonduktor, pertahanan, dan energi. Langkah ini berlangsung ketika berbagai industri berupaya mengurangi ketergantungan pada pemasok dari China.

Berdasarkan laporan TechCrunch AI, putaran pendanaan tersebut dipimpin Hitachi Ventures. Dua pelanggan Scimplify, Henkel dan Teknor Apex, masuk sebagai investor baru, sementara Accel India, Bertelsmann India Investments, Omnivore, dan 3one4 Capital turut berpartisipasi sebagai investor lama. Scimplify menyatakan pendanaan ekuitas terbarunya membawa total pendanaan ekuitas perusahaan menjadi US$80 juta.

Nilai perusahaan setelah investasi disebut mencapai US$250 juta oleh seseorang yang mengetahui transaksi tersebut. Angka itu meningkat dari valuasi pascapendanaan sebesar US$150 juta setelah Scimplify menggalang US$40 juta dalam putaran Seri B pada Maret 2025. Namun, perusahaan tidak bersedia mengungkapkan valuasinya dalam putaran terbaru ini.

Menghubungkan penemuan bahan dengan produksi skala komersial

Perkembangan AI dan perangkat komputasi canggih mempercepat penemuan serta penelitian material. Meski demikian, membawa hasil kimia yang menjanjikan menjadi produk yang tersedia secara komersial dalam skala besar masih memerlukan proses yang lambat dan rumit. Produsen harus merancang proses produksi, memastikan fasilitas memenuhi kualifikasi, dan menjaga standar mutu yang ketat. Mereka juga perlu bekerja di tengah rantai pasok yang sumbernya terkonsentrasi di sejumlah kecil negara.

Scimplify berupaya mempersingkat tahapan tersebut. Didirikan pada 2023, perusahaan ini dalam beberapa proyek dapat beranjak dari penerimaan kebutuhan pelanggan hingga pengiriman material jadi hanya dalam dua bulan. Menurut salah satu pendirinya, Sachin Santhosh, pekerjaan semacam itu biasanya memerlukan waktu 12 hingga 18 bulan. Ia menjelaskan hal tersebut dalam wawancara yang diberitakan TechCrunch AI.

Baca juga: Science Corporation Tanam Chip PRIMA pada Pasien Pertama dengan Stargardt

Setelah menerima pesanan, Scimplify mengembangkan proses pembuatan bahan kimia di fasilitas risetnya di Bengaluru dan Hyderabad. Proses yang telah dikembangkan kemudian dialihkan ke pabrik mitra untuk produksi komersial. Dengan cara itu, perusahaan menghubungkan pekerjaan riset dan perancangan proses dengan fasilitas yang dapat memproduksi material untuk pelanggan.

Koordinasi tersebut dibantu Scinode, platform AI milik Scimplify. Sistem ini membantu mengidentifikasi rute produksi dan fasilitas manufaktur yang sesuai, sekaligus melacak persyaratan kualitas serta regulasi. Santhosh mengatakan Scinode menggunakan agen AI khusus untuk fungsi yang berbeda, termasuk riset, manufaktur, dan pengendalian kualitas.

Santhosh menjelaskan bahwa setiap agen bekerja dengan memulai dari kebutuhan pelanggan, kemudian menyesuaikan proses untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Menurutnya, pendekatan itu membantu Scimplify bekerja lebih cepat sekaligus menyimpan konteks pelanggan untuk kebutuhan berikutnya. Tim internal yang terdiri atas ilmuwan dan insinyur tetap mengawasi produksi yang tersebar di jaringan lebih dari 500 fasilitas manufaktur.

Jaringan tersebut digunakan untuk membantu pelanggan menemukan sumber alternatif bagi material yang pasokannya terkonsentrasi di China dan beberapa negara lain. Saat ini, sekitar 90% kegiatan manufaktur Scimplify berlangsung di India. Namun, perusahaan berencana memperluas jaringan produksinya ke Amerika Serikat dan Jepang dalam satu tahun ke depan, seiring upaya menarik lebih banyak pelanggan di kedua pasar itu.

Baca juga: Industrial Next Kembangkan Robot Pabrik yang Bisa Berganti Tugas dalam Hitungan Menit

Pendapatan dan pasar luar India meningkat

Amerika Serikat menjadi salah satu pasar pertumbuhan utama bagi Scimplify. Santhosh menyebut laju pendapatan tahunan perusahaan di negara tersebut meningkat enam kali lipat, dari sekitar US$10 juta setahun sebelumnya menjadi sekitar US$60 juta. Pasar AS kini menyumbang kurang lebih 30% dari bisnis Scimplify.

Secara keseluruhan, pelanggan di luar India telah berkontribusi lebih dari separuh pendapatan perusahaan. Porsinya meningkat tajam dibandingkan sekitar 18 bulan sebelumnya, ketika kontribusi pelanggan luar India masih kurang dari 5%. Untuk mendukung pertumbuhan di AS, Scimplify berencana menggunakan sekitar US$7,5 juta dari pendanaan terbaru untuk memperluas operasinya, termasuk membangun jaringan manufaktur.

Scimplify melayani lebih dari 1.000 pelanggan dan telah mengirim produk ke lebih dari 40 negara. Menurut Santhosh, laju pendapatan tahunan perusahaan kini sekitar US$200 juta, atau tiga kali lipat dibandingkan setahun sebelumnya. Perusahaan menargetkan angka tersebut mencapai US$400 juta dalam satu tahun ke depan.

Santhosh juga mengatakan Scimplify telah mencatatkan EBITDA positif selama dua bulan terakhir dan memperkirakan perusahaan akan mencapai profitabilitas setelah pajak pada bulan ini. Selain dana untuk ekspansi di AS, perusahaan mengalokasikan US$2 juta untuk pengembangan Scinode lebih lanjut.

Baca juga: CEO Cerebras Prediksi Asisten AI Pribadi Segera Hadir di Rumah

Sektor energi, elektronik, dan pertahanan kini menyumbang sekitar 45% hingga 50% pendapatan Scimplify, meningkat dari kurang dari 15% setahun sebelumnya. Santhosh mengaitkan perkembangan itu dengan meningkatnya kebutuhan material untuk elektronik dan infrastruktur energi seiring pertumbuhan AI, serta kebutuhan industri pertahanan yang terdorong oleh perang yang masih berlangsung.

Dalam pengembangan produknya, Scimplify sedang mengerjakan produksi turunan tungsten dari bahan bekas atau scrap. Produk itu ditujukan sebagai pilihan sumber lain bagi pelanggan, mengingat pasokan tungsten sangat terkonsentrasi di China. Perusahaan juga mengembangkan material tanah jarang, kategori lain yang rantai pasok globalnya masih sangat bergantung pada China.

Di antara pelanggan Scimplify terdapat TDK, produsen elektronik asal Jepang; BASF, grup bahan kimia asal Jerman; serta Hitachi. Santhosh menyebut sebuah proyek bersama TDK sebagai contoh kemampuan perusahaan memangkas waktu pengembangan dan pengiriman material khusus. Namun, ia menegaskan bahwa lama pengerjaan berbeda-beda menurut proyek.

Scimplify saat ini mempekerjakan sekitar 340 orang, termasuk kurang lebih 70 ilmuwan. Sebagian besar tenaga kerjanya berada di India, sementara perusahaan juga mempunyai tim lokal di Amerika Serikat, Jepang, Indonesia, dan Uni Emirat Arab.