Warga Cugenang Pasang Pagar Bambu di Tebing Longsor

11/10/2026 21:39

CIANJUR.CO - Warga memasang pagar bambu di tebing yang longsor di Jalan Raya Puncak, Kecamatan Cugenang, Cianjur. Pembatas itu dibuat setelah warga kesal karena sejumlah orang buang air besar di saluran air yang mereka gunakan, sementara pengendara juga kerap berhenti dan nongkrong di kawasan tersebut. Tebing itu merupakan zona bahaya yang pernah longsor saat gempa Cianjur pada 2022.

Berdasarkan laporan detikJabar, pagar kini membentang di sepanjang tebing yang terdampak longsor. Tebing tersebut memiliki panjang sekitar 50 meter dan longsor setelah gempa berkekuatan magnitudo 5,6 mengguncang Cianjur. Peristiwa gempa itu menelan puluhan korban jiwa. Pagar bambu dipasang mengikuti kawasan tebing, bukan hanya pada bagian saluran air.

Pembatas itu sedikit menjorok ke badan jalan. Pemasangan tersebut membuat tidak ada lagi ruang bagi kendaraan untuk terparkir di sepanjang tebing. Dengan demikian, pagar yang dibuat warga membatasi akses untuk berhenti di tepi jalan sekaligus menutup area saluran air yang menjadi salah satu sumber masalah.

Baca juga: Gempa M 4,1 Guncang Sukabumi, Getaran Terasa hingga Cianjur

Camat Cugenang Ali Akbar mengatakan pagar dipasang warga beberapa hari sebelum ia memberikan keterangan pada Minggu (11/10/2026). Bambu yang dipakai berasal dari kebun warga. “Dipagari oleh warga, menggunakan bambu yang diambil dari kebun-kebun warga,” kata Ali, seperti dikutip detikJabar.

Ali menjelaskan, pengendara kerap berhenti di lokasi tersebut pada malam hari. Menurut dia, sebagian orang kemudian buang air besar di saluran air. Padahal, saluran itu digunakan warga untuk mencuci. Perbedaan antara fungsi saluran bagi warga dan kebiasaan orang yang singgah menjadi alasan warga memasang pagar.

Baca juga: Asep Guntara Apresiasi Pelatihan TMT Kemnaker di Tiga Kecamatan Cianjur

“Saluran air itu digunakan warga untuk mencuci. Tapi malah banyak yang buang air besar di sana,” ujar Ali. Ia mengatakan warga geram dengan keadaan tersebut dan akhirnya memagari lokasi menggunakan bambu. Keterangan Ali itu menjelaskan bahwa tindakan warga tidak hanya berkaitan dengan keberadaan kendaraan yang berhenti, tetapi juga penggunaan saluran air yang dianggap mengganggu kepentingan warga.

Selain sering berhenti pada malam hari, pengendara yang melintas juga kerap menjadikan area itu tempat beristirahat hingga nongkrong. Ali mengingatkan bahwa lokasi tersebut berada di zona bahaya. Tebing itu pernah longsor saat gempa dan peristiwa tersebut menelan banyak korban jiwa.

Baca juga: Mutasi Polri, Kapolres Cianjur dan Cimahi Berganti

Karena itu, pagar diteruskan dari sekitar saluran air hingga sepanjang tebing yang longsor. Ali mengatakan pembatas dipasang agar tidak ada lagi orang yang singgah dan berkumpul di lokasi berbahaya itu. Pemasangan pagar bambu sekaligus mencakup area yang sebelumnya menjadi tempat pengendara berhenti maupun bagian tebing yang pernah terdampak longsor.