Mark Wahlberg Terbuka pada AI di Film, Asal Cerita Tetap Utama

16/10/2026 21:49

CIANJUR.CO - Aktor, sutradara, pengusaha, dan investor malaikat Mark Wahlberg menilai kecerdasan buatan dapat memiliki tempat dalam pembuatan film. Namun, ia memberi batasan: teknologi itu sebaiknya membantu pekerjaan kreatif yang sudah dilakukan, bukan menggantikan aktor atau proses penceritaan. Pandangan tersebut disampaikan ketika Hollywood masih terbelah mengenai penggunaan AI di industri perfilman.

Dalam acara TechCrunch Disrupt, Wahlberg berbicara tentang peran AI dalam produksi film sekaligus kemungkinan penggunaan kemiripan dirinya secara digital pada masa depan. Berdasarkan laporan TechCrunch AI, ia menyatakan terbuka terhadap teknologi tersebut selama penerapannya diarahkan untuk mendukung aspek tertentu dari karya. Ia tidak mendukung gagasan bahwa AI begitu saja mengambil alih seluruh proses kreatif.

Salah satu proyek yang mungkin memanfaatkan teknologi itu adalah film biografi Pete Rose mendatang. Wahlberg akan memerankan tokoh utama dalam film tersebut. Ia mengatakan tim produksi sedang membicarakan penggunaan AI untuk membantu menciptakan latar stadion, dengan mempertimbangkan bahwa film itu tergolong cukup mahal.

Baca juga: Veritas Perluas Chip Antipemalsuan ke Perhiasan dan Botol Parfum

“Ini film yang cukup mahal, tetapi kami membicarakan pemanfaatan [AI] untuk memperkuat latar stadion,” kata Wahlberg. Ia kemudian membedakan pemakaian seperti itu dari proses yang menyerahkan pembuatan film sepenuhnya kepada sistem AI. Menurutnya, memasukkan sebuah ide ke ChatGPT, memperoleh naskah, lalu membuat film tanpa aktor sungguhan bukan penggunaan yang ia dukung.

Sebaliknya, Wahlberg mengatakan ia mendukung AI jika teknologi tersebut membantu meningkatkan pekerjaan yang sedang berlangsung. “Kalau bisa digunakan untuk memperkuat apa yang sedang kamu kerjakan, saya mendukungnya,” ujarnya. Dengan demikian, contoh penggunaan yang ia sebutkan berkaitan dengan dukungan pada latar stadion, sementara keterlibatan manusia dan aktor tetap menjadi bagian penting dari pembuatan film.

Wahlberg juga menempatkan penceritaan sebagai inti yang lebih penting daripada efek visual semata. Ia pernah bermain dalam film-film besar yang digerakkan oleh efek, tetapi mengatakan kini dirinya tidak terlalu bersemangat terhadap film yang hanya mengandalkan efek dibandingkan film dengan cerita nyata. Pernyataan itu menyertai dukungannya terhadap pemanfaatan teknologi, bukan penolakan terhadap efek atau AI secara menyeluruh.

Baca juga: Dashboard CAIS Ukur Perkiraan Dampak PHK Terkait AI di AS

Untuk menjelaskan pengalamannya, ia menyebut Jurassic Park pertama dan Perfect Storm. Wahlberg merasa berada pada masa ketika teknologi gambar hasil komputer menghadirkan momen-momen mutakhir. Ia secara khusus mengingat gelombang setinggi 100 kaki yang muncul dalam trailer Perfect Storm. Baginya, contoh tersebut menggambarkan perkembangan teknologi efek yang menonjol pada saat itu, meski ia kini lebih mengutamakan penceritaan daripada efek sebagai daya tarik utama.

Pembicaraan di TechCrunch Disrupt juga beralih ke kemungkinan pembuatan replika AI seorang aktor. Connie Loizos, pemimpin redaksi TechCrunch, menanyakan apakah Wahlberg pernah mengunjungi CAA Vault. Fasilitas Creative Artists Agency itu menggunakan teknologi pemindaian untuk merekam tubuh, wajah, gerakan, dan suara aktor, yang dapat menjadi bahan untuk membuat replika AI.

Wahlberg menjawab bahwa ia belum pernah mengunjungi CAA Vault, tetapi tertarik pada kemungkinan pemindaian tersebut. Ia membayangkan, jika perkembangan industri bergerak ke arah itu, anak-anak atau cucunya kelak dapat mengendalikan kemiripan dan citra dirinya. Ia juga berharap mereka dapat menempatkannya dalam film-film yang baik. Ia menyebut akan menarik untuk melihat bagaimana teknologi dan penggunaannya berkembang.

Baca juga: CEO Replit Sebut Masa Depan Kerja Menuju Perusahaan “Self-Driving”

Keterbukaannya mencakup pula serial animasi Ted yang akan datang. Wahlberg mengatakan ia tidak keberatan jika serial itu berlanjut selama puluhan tahun dengan versi AI dari kemiripan dirinya. Kemungkinan itu, menurutnya, bisa menjadi menarik jika suatu saat ia tidak lagi mampu mengerjakannya atau sudah tidak ada, sementara orang-orang masih ingin menyaksikan kelanjutan serial tersebut.

Wahlberg menghubungkan pandangan itu dengan hal-hal dari masa kecilnya yang ia harap tetap ada dan menjadi bagian dari hidupnya. Ia juga mengatakan orang berpeluang memiliki banyak pilihan untuk menonton apa pun yang mereka inginkan. Jika memang ada penonton bagi kelanjutan karya menggunakan kemiripan AI dirinya, ia menilai mereka semestinya dapat memperoleh tontonan yang ingin mereka saksikan. Pernyataannya tetap berupa keterbukaan terhadap kemungkinan, bukan keterangan bahwa replika dirinya telah dibuat atau digunakan.