Dashboard CAIS Ukur Perkiraan Dampak PHK Terkait AI di AS

16/10/2026 20:41

CIANJUR.CO - Perkembangan kecerdasan buatan (AI) memunculkan kekhawatiran mengenai perekonomian dan ketersediaan pekerjaan, terutama setelah beberapa tahun perusahaan-perusahaan besar melakukan pemutusan kerja. Sebagian kecemasan, menurut laporan ZDNET AI, dinilai dapat dipengaruhi laboratorium dan CEO yang membesar-besarkan relevansi mereka. Namun, sejumlah perusahaan memang secara terbuka menyebut percepatan AI sebagai alasan pemangkasan tenaga kerja.

Untuk memperlihatkan salah satu sisi finansial dari perubahan itu, Center for AI Safety (CAIS) mengelola Wage Loss Dashboard. Alat tersebut melacak pemutusan kerja yang dikaitkan dengan AI sekaligus memperkirakan dampaknya terhadap pendapatan keluarga. Dasbor menampilkan peta pemangkasan sejak Januari 2026, dengan pilihan untuk melihat angka nasional atau data tiap negara bagian. Pembaruan yang disebut dalam laporan telah memasukkan data September.

Hasil perhitungan dasbor menunjukkan sedikit lebih dari 117.000 pemutusan kerja di Amerika Serikat pada 2026 dikaitkan dengan AI. Jumlah itu setara dengan perkiraan kehilangan upah tahunan sebesar US$8,5 miliar. Angka tersebut bukan pengukuran langsung atas upah yang sudah hilang, melainkan estimasi yang diperoleh dengan mengalikan pemutusan kerja terkait AI dengan rata-rata upah tahunan.

CAIS menyatakan bahwa estimasi upah itu dimaksudkan untuk mulai menunjukkan arti pemangkasan pekerjaan bagi rumah tangga dan perekonomian lokal. Selain jumlah nasional, dasbor menyajikan perkiraan rata-rata kehilangan upah per orang dan membandingkannya dengan pengeluaran sehari-hari, misalnya biaya untuk satu tangki bensin.

Angka negara bagian merupakan estimasi

Untuk Amerika Serikat secara keseluruhan, perkiraan kehilangan upah mencapai US$25 per orang per tahun. Nilai tersebut berbeda antarnegara bagian. California, misalnya, mencatat perkiraan US$56 per orang, seiring sedikit lebih dari 27.000 pemutusan kerja yang dikaitkan dengan AI. Alaska mencatat 138 pemutusan kerja dan perkiraan US$14 per orang.

CAIS menekankan bahwa angka California dan Alaska bukan jumlah pasti orang yang kehilangan pekerjaan akibat AI di kedua negara bagian itu. Dalam penjelasan dashboard, lembaga tersebut menyebut estimasi dibuat dengan menghitung pemutusan kerja terkait AI untuk masing-masing negara bagian, mengubahnya menjadi perkiraan kehilangan upah tahunan, lalu membaginya dengan jumlah penduduk negara bagian.

Baca juga: CEO Replit Sebut Masa Depan Kerja Menuju Perusahaan “Self-Driving”

Metode itu menggunakan porsi nasional pemutusan kerja yang mencantumkan AI pada setiap bulan dan menerapkannya pada pemutusan kerja yang diumumkan di masing-masing negara bagian. Karena itu, perkiraan negara bagian bukan data pemutusan kerja terkait AI yang diamati secara langsung di wilayah tersebut.

Wage Loss Dashboard menggabungkan beberapa sumber data. Laporan bulanan Challenger, Gray, and Christmas menghimpun pengumuman pemutusan kerja di seluruh Amerika Serikat berdasarkan negara bagian, serta angka nasional pemutusan kerja yang dikreditkan kepada AI. CAIS juga memakai data Bureau of Labor Statistics tentang rata-rata upah tahunan di tiap negara bagian dan estimasi populasi dari US Census Bureau.

Dampak ekonomi tidak berhenti pada pekerja

Data tahun sebelumnya memberi gambaran mengenai skala pemangkasan yang diumumkan perusahaan. Pada 2025, laporan Challenger, Gray, and Christmas mengidentifikasi lebih dari 54.000 pemutusan kerja yang secara terbuka dikaitkan perusahaan dengan AI. Jumlah itu setara dengan satu dari setiap 20 pemutusan kerja pada tahun tersebut.

CAIS berpandangan bahwa menghitung pekerjaan yang hilang saja belum sepenuhnya memperlihatkan konsekuensi finansial bagi orang yang terdampak. Dalam keterangan mengenai proyek tersebut, lembaga itu menyebut pemberitaan tentang kehilangan pekerjaan akibat AI sudah signifikan, tetapi pengaruhnya terhadap keuangan rata-rata orang sulit dihitung. Dasbor itu bertujuan membantu memperjelas biaya moneter AI bagi keluarga dan komunitas di Amerika Serikat.

Menurut CAIS, konsekuensi pemangkasan dapat terasa lebih luas melalui toko bahan makanan, usaha kecil, biaya sewa, dan pengeluaran lokal lain. Para peneliti di balik proyek itu menjelaskan bahwa kehilangan pendapatan seorang pekerja berarti bisnis yang biasa menerima belanjanya juga dapat kehilangan pemasukan. Jika hal serupa terjadi pada ribuan pekerja lintas industri, dampak ekonominya menjadi lebih besar.

Baca juga: Strategi Influencer Bawa Cal AI Raup Lebih dari US$30 Juta

CAIS juga menilai pemutusan kerja yang dikaitkan dengan AI tidak tersebar merata. Negara bagian dengan sektor teknologi dan media yang besar mengalami dampak lebih tinggi. Namun, dashboard tidak memasukkan pekerjaan baru yang tercipta berkat AI, peningkatan produktivitas, pekerja yang kembali bekerja, maupun efek ekonomi sekunder.

Salah satu keterbatasan itu berkaitan dengan belum adanya kesepakatan para ahli mengenai apakah AI akan mendorong pertumbuhan ekonomi, seberapa besar pengaruhnya, atau apakah dampak tersebut akan melampaui pekerjaan yang tergeser. Pengaitan sebuah pemutusan kerja dengan AI pun tidak selalu dapat dibuktikan secara pasti. Data yang dipakai mencakup pemangkasan yang oleh perusahaan sendiri disebut berkaitan dengan AI, sementara definisi tunggal dan keterbukaan lengkap perusahaan tidak tersedia.

Alliance for Secure AI menjelaskan bahwa metodologinya tidak mengharuskan eksekutif menyatakan secara harfiah bahwa perusahaan mengganti satu tim dengan AI. Lembaga itu menyebut standar yang dipakai sebagai moderat dan sengaja dirancang untuk menangkap pola luas pengurangan tenaga kerja yang dibenarkan dengan alasan AI, sambil mengecualikan pemangkasan yang jelas tidak berkaitan.

Pelacak lain, Jobloss.ai, dikelola Alliance for Secure AI dan menyusun data kehilangan pekerjaan menurut perusahaan, tanggal, serta seberapa jelas perusahaan mengaitkan pemangkasan dengan AI. Karena data semacam ini sulit dilacak, Jobloss.ai hanya mencatat pemangkasan sedikitnya 100 pekerjaan dalam satu kejadian yang disertai penyebutan AI atau istilah terkait seperti “otomatisasi” dan “produktivitas”.

CAIS menyatakan Wage Loss Dashboard bukan dibuat untuk mempermalukan industri atau perusahaan atas pilihan adopsi AI. Tujuannya adalah membuat biaya penerapan teknologi tersebut terlihat agar pekerja, komunitas, dan pembuat kebijakan dapat merespons dengan informasi, bukan dugaan.

Baca juga: Meta Rilis Muse Spark Open, Model AI yang Berjalan di Mac

Dashboard juga mengukur kemampuan agen AI

Di luar data upah, dasbor memuat bagian tentang kemampuan AI menyelesaikan tugas lepas jarak jauh. Bagian ini menggunakan Remote Labor Index (RLI), tolok ukur yang dikembangkan bersama CAIS untuk menguji agen pada tugas lepas nyata, termasuk pengembangan web dan produksi video. Hasilnya digunakan untuk menunjukkan perubahan kemampuan agen dari waktu ke waktu.

Para peneliti menyebut agen AI terbaik mampu menyelesaikan 2,5 persen proyek dengan kualitas profesional ketika RLI diluncurkan. Delapan bulan kemudian, angkanya naik menjadi 15,8 persen. Saat ini, AI dapat mengotomatiskan sepenuhnya hampir 16 persen tugas jarak jauh, dengan persentase tersebut berlipat ganda setiap 3,7 bulan. Claude Fable 5 berada di urutan teratas, disusul GPT-5.5 dari OpenAI.

Namun, ukuran tersebut tidak berarti AI sudah mengambil proyek-proyek itu dari pekerja lepas manusia. RLI menguji kemampuan model, bukan mengukur pekerjaan yang benar-benar sedang diambil alih. CAIS menyoroti pertemuan antara pemutusan kerja yang dikaitkan dengan AI dan agen yang semakin mampu mengerjakan tugas.

Di sejumlah negara bagian, termasuk California yang memiliki sektor teknologi besar, undang-undang terbaru berupaya memastikan keputusan pemecatan dan tindakan disipliner lainnya tidak sepenuhnya diotomatisasi oleh sistem AI. Aturan tersebut tidak secara eksplisit melarang perusahaan memilih sistem AI alih-alih merekrut manusia dalam situasi tertentu.