Kekeringan di Takokak Cianjur, 500 Hektare Sawah Terdampak

20/10/2026 21:41

CIANJUR.CO - Kemarau panjang membuat kegiatan pertanian di Desa Waringinsari, Kecamatan Takokak, Kabupaten Cianjur, lumpuh. Krisis air berdampak pada sekitar 500 hektare sawah milik warga, sementara hampir 100 kepala keluarga (KK) memilih meninggalkan kampung untuk mencari penghidupan di luar daerah, termasuk ke Pulau Kalimantan.

Berdasarkan laporan iNews Cianjur, Kepala Desa Waringinsari Nadir Muharam Abdurahman mengatakan lahan pertanian yang selama ini menjadi sumber mata pencaharian utama warga kini tidak lagi produktif. Ketersediaan air yang tidak memadai membuat petani kesulitan mengolah sawah, sehingga mereka kehilangan sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Situasi itu mendorong sebagian warga mencari pekerjaan sementara di luar kampung. Nadir menjelaskan, sawah yang tidak bisa ditanami membuat keluarga harus mencari cara lain untuk mencukupi kebutuhan. “Karena sawah tidak bisa ditanami, sementara kebutuhan banyak, akhirnya mereka terpaksa sementara bekerja ke luar pulau. Kebanyakan mereka bekerja ke Kalimantan,” ujar Nadir kepada wartawan, Selasa (20/10/2026).

Baca juga: Bagong Mogok, Gerakan Sosial dari Cianjur yang Melawan Keterbatasan

Dampak paling berat, menurut Nadir, dirasakan warga Kampung Bobojong, Kampung Sinar Pusaka, dan Kampung Cibuluh. Dari ketiga kampung itu, hampir 100 KK memilih bekerja ke luar daerah karena tidak lagi dapat mengandalkan hasil pertanian. Perpindahan tersebut berkaitan langsung dengan terhentinya kegiatan di sawah, yang sebelumnya menjadi tumpuan penghidupan mereka.

Sejumlah lahan persawahan bahkan dilaporkan hampir setahun tidak produktif karena terbatasnya pasokan air. Kondisi tiap lahan tidak sepenuhnya sama. Sebagian kecil sawah yang masih memiliki sumber air mulai dimanfaatkan untuk menanam cabai, sedangkan mayoritas lahan lain terpaksa dibiarkan terbengkalai karena keadaan belum memungkinkan untuk ditanami.

Dengan demikian, persoalan kekeringan di Waringinsari tidak hanya menyangkut hasil panen. Ketika sawah tidak dapat menghasilkan, warga kehilangan pendapatan dari pertanian dan terdorong mencari pekerjaan di luar daerah demi mempertahankan keberlangsungan hidup keluarga. Krisis air juga dirasakan dalam pemenuhan kebutuhan rumah tangga, bukan hanya untuk mengairi lahan.

Baca juga: Yan Diomande Pecahkan Rekor Jude Bellingham di Real Madrid

Nadir menyebut warga kesulitan mendapatkan air bersih untuk keperluan sehari-hari. Upaya mendatangkan bantuan air, kata dia, terkendala jarak dan akses jalan menuju wilayah terdampak yang belum memadai. Ia menegaskan, “Jangankan untuk mengairi sawah, air untuk kebutuhan sehari-hari pun kekurangan.” Hingga saat itu, menurut Nadir, warga belum mendapat pasokan air bersih. Ia juga menyampaikan bahwa jarak yang jauh dan kondisi jalan menjadi kendala ketika bantuan air hendak diminta.

Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Cianjur, Samudra Wira Purnama, mengatakan status siaga darurat kekeringan di Jawa Barat diperpanjang hingga Oktober 2026. Perpanjangan dilakukan karena curah hujan masih rendah dan keadaan cuaca belum sepenuhnya memperlihatkan peralihan menuju musim hujan. Sebelumnya, masa siaga berlaku selama Juli hingga September 2026.

Samudra mengatakan fenomena El Niño turut memengaruhi kondisi tersebut. Mengacu pada prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dampak El Niño diperkirakan masih berlangsung hingga 2027. Keadaan itu berpotensi memperpanjang periode kekeringan di sejumlah wilayah, meski sumber tersebut tidak merinci wilayah mana saja yang akan terdampak.

Baca juga: Pemkab Cianjur Alokasikan Lebih dari Rp400 Miliar untuk Infrastruktur 2027

Hujan yang sempat turun di Cianjur pada awal Oktober belum cukup untuk memulihkan ketersediaan air. Menurut Samudra, hujan berlangsung selama empat hari berturut-turut, tetapi durasinya hanya sekitar 15 menit dan belum merata di seluruh wilayah. Ia juga menyatakan intensitas curah hujan masih rendah, sehingga hujan tersebut belum mengubah kondisi pasokan air secara memadai.

Atas dasar belum adanya peningkatan curah hujan yang signifikan, masa siaga darurat yang semula berakhir pada September diperpanjang satu bulan, hingga Oktober. BPBD berharap peralihan menuju musim hujan yang diperkirakan mulai berlangsung pada November 2026 dapat segera terjadi. Hujan diharapkan membantu memulihkan ketersediaan air, terutama di wilayah yang mengalami kekeringan berkepanjangan seperti Waringinsari.