UPDATE

Gudea Pakai AI untuk Mendeteksi Krisis Media Sosial Sebelum Membesar

15/10/2026 07:03

CIANJUR.CO - Sebuah unggahan yang tampak sepele di media sosial dapat berkembang menjadi kontroversi besar. Informasi keliru yang dihasilkan kecerdasan buatan, ujaran kebencian, maupun rumor yang merugikan dapat menyebar luas sebelum organisasi terkait memahami siapa yang mendorong percakapan dan bagaimana narasi itu bergerak.

Perusahaan Gudea berupaya membantu organisasi mengenali gejala tersebut lebih awal dengan teknologi kecerdasan buatan (AI). Berdasarkan laporan TechCrunch AI, perusahaan yang menyebut dirinya sebagai “pelacak badai bagi internet” ini memantau bagaimana cerita dan rumor bergerak di ruang daring, dengan tujuan memberi organisasi gambaran sebelum percakapan berkembang menjadi krisis.

Gudea membedakan pendekatannya dari layanan pemantauan media sosial tradisional. Layanan yang lebih lama umumnya mencatat ukuran seperti jumlah penyebutan, tagar, dan impresi. Gudea ingin menambahkan konteks: siapa yang menggerakkan percakapan, bagaimana informasi berpindah, seberapa cepat sebuah cerita memperoleh perhatian, serta ke mana narasi itu berpotensi bergerak.

Untuk menghasilkan gambaran tersebut, AI Gudea menganalisis perilaku, hubungan antarpihak, dan jalur penyebaran informasi. Pemantauan dilakukan terhadap lebih dari 500 situs dan platform arus utama maupun pinggiran. Di antaranya terdapat X, Reddit, dan TikTok. Dengan demikian, sistemnya tidak hanya menghitung unggahan atau mencatat kenaikan penyebutan, tetapi berupaya menelusuri hubungan yang membentuk penyebaran informasi.

Informasi kontekstual itu ditujukan untuk membantu pengambil keputusan menilai apakah mereka perlu merespons dan menentukan cara yang sesuai. Kenaikan jumlah penyebutan, misalnya, belum dengan sendirinya menjelaskan siapa yang memulai percakapan atau bagaimana suatu cerita menjangkau lebih banyak orang. Gudea ingin menyediakan latar di balik perubahan angka tersebut agar organisasi dapat menimbang situasi secara lebih menyeluruh.

Baca juga: CEO Flock Sebut Mikrofonnya Hanya Mendeteksi Tembakan, Situs Perusahaan Cantumkan Suara Lain

Berawal dari inisiatif setelah pemilu 2020

Gudea memaparkan misinya pada Rabu sore di panggung Startup Battlefield dalam acara TechCrunch Disrupt 2026. Perusahaan itu menyampaikan bahwa organisasi perlu mengambil langkah lebih proaktif untuk melindungi reputasi dan merek, bukan hanya mengandalkan perangkat yang memberi hitungan dasar setelah percakapan berkembang.

CEO sekaligus pendiri Gudea, Keith Presley, menilai sejumlah industri besar belum memahami langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga reputasi mereka sejak awal. Ia mengatakan banyak kepala komunikasi, media, dan pemasaran masih menggunakan perangkat lama yang dirancang untuk menghitung tagar atau impresi, bukan menjelaskan dinamika di balik percakapan.

Gudea didirikan pada 2023 oleh Presley bersama Jonathan Sperber dan James Thomin. Presley memiliki pengalaman lebih dari 15 tahun di bidang kampanye politik dan pertahanan, termasuk membangun infrastruktur untuk kampanye kepresidenan Andrew Yang. Sperber menjabat sebagai chief strategy officer dan memiliki latar belakang dalam penelitian disinformasi. Sementara itu, Thomin, chief technology officer perusahaan, meraih gelar Ph.D. di bidang teknik kimia dan telah bekerja sekitar dua dekade dalam AI serta pembelajaran mesin.

Presley menggambarkan perjalanan tim menuju pendirian perusahaan sebagai sesuatu yang tidak biasa. “Kami termasuk startup aneh yang pendirinya sebenarnya tidak pernah ingin membuat perusahaan,” ujarnya. Sebelum Gudea terbentuk, tim tersebut bekerja melalui George Washington Initiative, sebuah organisasi nirlaba yang didirikan setelah pemilu 2020.

Baca juga: YouTube Music Hadirkan Label untuk Ungkap Peran AI dalam Lagu

Inisiatif itu mengadaptasi strategi dan taktik yang digunakan komunitas intelijen di luar negeri untuk mengganggu jaringan daring yang terkait dengan kelompok seperti Al Qaeda dan ISIS. Tim kemudian menerapkan pendekatan tersebut pada kampanye informasi di dalam negeri. Sasaran awalnya adalah mengenali lingkungan daring tempat kampanye informasi terbentuk, lalu mengganggu jalur yang memungkinkan narasi menjangkau khalayak lebih luas.

Dalam pekerjaan itu, tim menemukan keterbatasan perangkat yang tersedia: alat-alat tersebut tidak memperlihatkan bagaimana informasi sesungguhnya bergerak di antara orang, kelompok, dan platform. Kesenjangan itulah yang kemudian menjadi peluang bagi Gudea. Perusahaan mengembangkan pendekatan untuk memetakan pergerakan informasi, bukan hanya menampilkan jumlah aktivitas yang terlihat.

Klien dan pengembangan teknologi

Tiga tahun setelah didirikan, Gudea memiliki hampir 40 klien. Menurut Presley, pelanggan perusahaan mencakup sebuah perusahaan telekomunikasi Fortune 50, sebuah peritel Fortune 50, salah satu laboratorium AI terbesar di dunia, salah satu grup musik terbesar di dunia, agensi hubungan masyarakat dan komunikasi krisis, serta lembaga pemerintah.

Presley menilai kebutuhan terhadap teknologi Gudea meningkat seiring berkembangnya AI generatif. Perangkat AI telah memangkas biaya dan upaya untuk membuat konten serta mengoordinasikan kampanye daring. Aktivitas yang sebelumnya membutuhkan organisasi lebih besar, menurutnya, kini semakin dapat dilakukan seorang individu dengan laptop dan akses ke perangkat lunak yang tepat.

Baca juga: Apate.ai Kirim Agen AI Menyamar untuk Mengungkap Jejak Penipu

Ia juga membandingkan jumlah aktivitas tidak autentik yang ditemukan tim dari waktu ke waktu. “Ketika kami pertama kali mulai pada 2021, lalu sebagai perusahaan pada 2023, mungkin satu dari empat hal yang kami lihat memiliki aktivitas tidak autentik,” kata Presley. “Sekarang mungkin sembilan dari sepuluh hal yang kami lihat memiliki aktivitas tidak autentik.” Pernyataan itu merujuk pada pengamatan tim terhadap hal-hal yang mereka pantau, bukan klaim bahwa seluruh percakapan daring memiliki pola serupa.

Ke depan, Gudea ingin memperkuat kemampuannya memahami asal sebuah narasi dan cara penyebarannya. Salah satu inisiatif utama yang direncanakan adalah geolokasi narasi. Teknologi yang dijadwalkan hadir tahun depan itu ditujukan agar pengguna dapat mengetahui lokasi berlangsungnya percakapan dengan tingkat ketelitian lebih tinggi, hingga skala blok kota, menurut Presley.

Perusahaan juga ingin memberi pelanggan akses lebih besar terhadap perangkat di balik analisisnya. Salah satu contoh penggunaan yang disampaikan adalah menjalankan rencana kampanye iklan melalui model AI Gudea sebelum kampanye diluncurkan. Dengan cara itu, perusahaan dapat memperoleh gambaran lebih baik mengenai kemungkinan strategi tersebut menghasilkan dampak negatif atau tidak.

Rencana pengembangan itu muncul setelah Gudea mengumumkan pendanaan tahap awal sebesar US$7 juta pada pekan sebelum laporan TechCrunch AI diterbitkan. Putaran tersebut dipimpin bersama oleh Mudita Venture Partners dan Silicon Road Ventures. Investasi itu membawa total pendanaan startup tersebut menjadi sekitar US$15 juta.