Google Rilis AI Edge Foresight, Aplikasi Catatan Rapat Offline
CIANJUR.CO - Google memperkenalkan AI Edge Foresight, aplikasi pencatat rapat berbasis kecerdasan buatan untuk Mac yang dapat digunakan tanpa koneksi internet. Aplikasi ini dirancang untuk merekam percakapan, membuat catatan, serta membantu pengguna mencari informasi dari rapat dan dokumen yang mereka masukkan. Peluncuran tersebut menempatkan Google di tengah persaingan aplikasi pencatat rapat berbasis AI, termasuk Granola.
Berdasarkan laporan TechCrunch AI, AI Edge Foresight dikembangkan oleh tim yang sama dengan alat dikte bertenaga AI yang dirilis Google pada April sebelumnya. Alat terdahulu itu menggunakan model lokal. Kini, tim tersebut menghadirkan produk yang berfokus pada rapat, dengan kemampuan bekerja sepenuhnya secara offline dan memproses informasi di perangkat pengguna.
Aplikasi Mac ini menggunakan model EmbeddingGemma 2 yang memiliki 740 juta parameter. Fungsinya mencakup pengambilan catatan rapat di berbagai aplikasi, termasuk untuk pertemuan tatap muka. Karena pemrosesan dapat berlangsung secara lokal, penggunaan aplikasi tidak bergantung pada sambungan internet untuk menjalankan fungsi utamanya.
Baca juga: TechCrunch Disrupt 2026 Digelar Lima Hari Lagi, Tiket Diskon Masih Tersedia
Dari sisi tampilan, AI Edge Foresight memiliki pendekatan yang serupa dengan Granola. Layar dibagi menjadi dua bagian: pengguna dapat menuliskan catatan singkat secara manual di satu sisi, sementara catatan yang dihasilkan AI ditampilkan di sisi lainnya. Pengguna juga bisa tetap membuat catatan sendiri ketika percakapan sedang ditranskripsikan.
Selain catatan yang dihasilkan otomatis, aplikasi menyediakan transkrip rapat yang dapat dilihat kembali. Pengguna juga dapat berinteraksi dengan asisten yang ditenagai Gemma 4 untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan. Dengan demikian, materi rapat tidak hanya disajikan sebagai catatan, tetapi juga dapat ditelusuri melalui percakapan dengan asisten.
AI Edge Foresight turut memungkinkan pengguna mengunggah dokumen untuk membangun basis pengetahuan. Format yang didukung mencakup PDF, Google Docs, dokumen Microsoft Office, teks biasa, Markdown, serta bookmark web. Informasi dari dokumen tersebut dapat digunakan bersama catatan rapat sebagai bahan untuk menjawab pertanyaan.
Baca juga: 78 Persen Manajer Gunakan AI untuk Menyiapkan Ulasan Kinerja
Jika suatu pembahasan dalam rapat berkaitan dengan data yang tersimpan di basis pengetahuan, aplikasi dapat menjawab pertanyaan secara langsung atau real time. Fitur ini menghubungkan isi percakapan dengan dokumen yang sudah dimasukkan pengguna, sehingga jawaban dapat merujuk pada kedua jenis materi tersebut.
Dalam halaman tanya jawabnya, Google menyebut AI Edge Foresight dioptimalkan untuk Apple Silicon dan dapat beroperasi sepenuhnya tanpa internet. Kemampuan itu memungkinkan pengguna tetap mengakses catatan rapat saat bepergian atau berada di lokasi yang tidak memiliki koneksi. Informasi tersebut menegaskan bahwa penggunaan offline merupakan bagian penting dari rancangan aplikasi, bukan sekadar fitur tambahan.
TechCrunch AI mencatat, alat dikte Google yang dirilis lebih dahulu bersifat eksperimental dan tidak mencapai penggunaan arus utama. Kehadiran pencatat rapat baru ini, menurut laporan tersebut, bisa menjadi cara untuk menunjukkan kemampuan model offline seri Gemma. Namun, kemungkinan itu disampaikan sebagai penilaian, bukan keterangan resmi Google mengenai tujuan peluncuran.
Baca juga: Microsoft Rilis Surface Laptop Ultra Berbasis Nvidia, Harga Mulai US$2.600
Google juga berpotensi merilis versi konsumen pencatat rapat yang bekerja lintas aplikasi panggilan video melalui aplikasi Gemini dengan mengandalkan model cloud. Kemungkinan tersebut berbeda dari AI Edge Foresight yang saat ini dijelaskan sebagai aplikasi Mac dengan kemampuan pemrosesan di perangkat.
Pasar pencatat rapat berbasis AI telah dipenuhi berbagai produk, tetapi perusahaan lain masih terus masuk. Dalam beberapa bulan terakhir, perusahaan dikte Wispr dan perusahaan penjadwalan Calendly meluncurkan pencatat rapat masing-masing. Sementara itu, startup produktivitas Superhuman, yang sebelumnya bernama Grammarly, mengakuisisi Fathom, pencatat rapat yang didukung Y Combinator, pada bulan sebelumnya.