CIANJUR.CO – Pemanfaatan kecerdasan buatan di tempat kerja kini menjangkau proses pemberian umpan balik dan penilaian kinerja. Riset terbaru firma pengembangan profesional Highwire menunjukkan banyak manajer memakai AI untuk membantu menyiapkan materi evaluasi karyawan. Namun, keterbukaan mengenai penggunaan teknologi itu masih terbatas, dan pengalaman pekerja terhadap hasilnya tidak seluruhnya positif.
Berdasarkan laporan ZDNET AI, Highwire menyurvei 1.034 karyawan perusahaan mengenai penggunaan AI dalam hubungan antara manajer dan pekerja. Sebanyak 78 persen manajer yang disurvei mengatakan mereka menggunakan AI dalam setahun terakhir untuk membantu menyusun draf, menyunting, merangkum, atau memberikan informasi bagi umpan balik maupun ulasan kinerja.
Mayoritas manajer pengguna AI menyebut teknologi tersebut mempercepat persiapan umpan balik. Akan tetapi, Highwire mengatakan kepada ZDNET AI bahwa survei itu tidak menanyakan hal lain yang mereka rasakan setelah menggunakan AI. Karena itu, temuan tentang kecepatan belum menjelaskan secara menyeluruh bagaimana para manajer menilai mutu hasil atau perubahan lain dalam proses pemberian evaluasi.
Perbedaan cara memakai AI juga menjadi hal penting dalam membaca hasil survei. Teknologi yang hanya digunakan untuk merapikan atau merangkum pengamatan yang sebelumnya ditulis manusia memiliki tingkat campur tangan berbeda dari AI yang diberi data kinerja lalu diminta membuat ulasan secara utuh. Kedua bentuk penggunaan tersebut sama-sama termasuk dalam kategori bantuan AI yang ditanyakan, tetapi tidak menggambarkan proses kerja yang identik.
Baca juga: Microsoft Rilis Surface Laptop Ultra Berbasis Nvidia, Harga Mulai US$2.600
Di sisi karyawan, hanya 16 persen pekerja nonmanajerial yang mengatakan mereka diberi tahu bahwa AI memengaruhi ulasan kinerja mereka. Angka ini memperlihatkan jarak antara banyaknya manajer yang menggunakan alat tersebut dan sedikitnya pekerja yang mengetahui keterlibatan AI dalam evaluasi mereka.
ZDNET AI mengaitkan kemungkinan rendahnya keterbukaan itu dengan kekhawatiran pekerja akan dipandang buruk jika mengakui penggunaan AI. Sebagai konteks, studi Atlassian pada Juni menemukan bahwa mengungkap penggunaan AI di tempat kerja dapat berbalik merugikan pihak yang melakukannya. Temuan itu tidak memastikan alasan setiap manajer tidak menjelaskan pemakaian AI, tetapi menunjukkan adanya kekhawatiran mengenai persepsi di lingkungan kerja.
Pengalaman pekerja terhadap umpan balik beragam
Penilaian karyawan atas umpan balik yang dipengaruhi AI terbagi. Sebanyak 54 persen responden mengatakan umpan balik menjadi lebih spesifik dan dapat ditindaklanjuti. Pada saat yang sama, 34 persen menilai umpan balik terasa lebih umum, sedangkan 32 persen mengatakan hasilnya kurang berguna.
Angka-angka itu menunjukkan bahwa manfaat yang dirasakan sebagian besar responden tidak dialami semua pekerja. Lebih dari separuh melihat peningkatan kekhususan dan kemudahan menindaklanjuti masukan, tetapi sekitar sepertiga menyampaikan penilaian sebaliknya mengenai sifat umum atau kegunaan umpan balik. Kedua kelompok penilaian tersebut menggambarkan sisi berbeda dari pengalaman karyawan dalam proses yang kini melibatkan AI.
Baca juga: Meta Bawa Asisten AI Muse ke iPad Sebulan Setelah Debut di iPhone
Survei Highwire juga menemukan hampir satu dari empat karyawan kini berlatih menghadapi percakapan sulit di tempat kerja dengan bantuan alat AI. Menurut Highwire, kebiasaan itu muncul ketika dukungan langsung dari manajer belum tersedia bagi banyak pekerja. Hanya 44 persen responden mengatakan manajer mereka mendukung latihan untuk percakapan berisiko tinggi atau situasi kerja sulit lainnya.
Angka dukungan tersebut jauh di bawah 85 persen karyawan yang menyatakan latihan penting. Dalam keadaan ketika kebutuhan untuk berlatih dinilai tinggi, tetapi dukungan manajer lebih terbatas, AI menjadi sarana yang digunakan sebagian pekerja untuk mencoba menyiapkan diri. Highwire menggambarkannya sebagai pengisi kekosongan kebutuhan, terutama bagi karyawan yang merasa gugup menghadapi percakapan seperti itu.
AI sebagai sarana latihan percakapan
Gagasan latihan percakapan dengan AI juga tampak dalam produk terbaru perusahaan video AI Synthesia, yaitu Sessions. Fitur tersebut memungkinkan karyawan berlatih berbicara dengan avatar AI milik perusahaan dan menerima penilaian dari “AI coach”. Sistem itu pada dasarnya menawarkan versi otomatis dan berskala dari pelatihan satu lawan satu yang biasanya diberikan manajer kepada pekerja.
Synthesia mengatakan kepada ZDNET AI bahwa fitur Sessions dikembangkan berdasarkan masukan pelanggan perusahaan. Pelanggan korporat ingin memperluas akses karyawan terhadap pendampingan semacam itu tanpa menambah beban kapasitas manusia. Meski demikian, Synthesia menyatakan Sessions bukan pengganti pendampingan atau mentorship.
Baca juga: ChatGPT for Teens Dinilai Berisiko dalam Situasi Krisis
Bagi pelanggan Synthesia, alat seperti Sessions dapat mengisi kekurangan pelatihan yang sebelumnya belum bisa mereka atasi. Namun, data mengenai seberapa efektif pengalaman latihan tersebut bagi karyawan masih belum tersedia. Dengan demikian, keberadaan fitur dan kebutuhan pelanggan menunjukkan penggunaan simulasi berbasis AI di tempat kerja berkembang, tetapi belum dengan sendirinya membuktikan dampaknya terhadap hasil pembelajaran.
ZDNET AI juga mengingatkan bahwa kepentingan Highwire perlu diperhitungkan ketika membaca hasil surveinya. Bisnis perusahaan itu bergantung pada kebutuhan organisasi terhadap pelatihan profesional yang dipimpin manusia dan berinvestasi pada keterampilan interpersonal karyawan. Kepentingan tersebut berbeda dari mendorong manajer menyerahkan tanggung jawab kepada AI, dan Highwire tidak memandang latihan dengan AI sebagai pengganti yang sah untuk persiapan antara karyawan dan manajer.
Di situsnya, Highwire menyatakan, “Highwire melatih keterampilan manusia yang tidak dapat diotomatisasi.” Laporan itu menempatkan pernyataan tersebut sebagai konteks atas posisi perusahaan, bukan sebagai bukti bahwa AI tidak dapat membantu proses umpan balik. Pada akhirnya, temuan survei memperlihatkan penggunaan AI dapat mempercepat pekerjaan dan membantu sebagian karyawan berlatih, sementara pekerja lain merasa umpan balik menjadi lebih umum atau kurang bermanfaat. Sejumlah karyawan mungkin memasukkan ulasan kinerja buatan AI yang tidak membantu ke dalam kategori workslop, istilah yang digunakan dalam laporan untuk menggambarkan tren kerja AI yang dinilai kurang diinginkan.





