Mendag Ajak Anak Muda Mulai Usaha Lewat Waralaba Lokal
CIANJUR.CO - Menteri Perdagangan Budi Santoso mengajak generasi muda menjajaki bisnis waralaba sebagai salah satu pilihan untuk memulai usaha. Model tersebut dinilai dapat membantu pelaku pemula karena sistem bisnisnya sudah tersedia dan dapat langsung dijalankan. Pengembangan waralaba lokal juga berpeluang mendorong pertumbuhan ekonomi serta membuka jalan bagi bisnis Indonesia untuk menjangkau pasar internasional.
Ajakan itu disampaikan Mendag Busan saat membuka Franchise & License Expo Indonesia (FLEI) ke-27, Jumat (9/10). Acara berlangsung di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), Pantai Indah Kapuk (PIK 2), Kosambi, Tangerang. Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Iqbal Shoffan Shofwan, turut mendampingi Mendag dalam kegiatan tersebut.
Berdasarkan laporan Kementerian Perdagangan RI, Budi menjelaskan bahwa waralaba dapat menjadi sarana bagi calon pengusaha untuk belajar mengelola bisnis melalui alur usaha yang telah teruji. Karena sistemnya sudah dibangun, pelaku pemula tidak harus memulai dengan menyusun seluruh proses usaha dari awal. “Generasi muda yang ingin memulai usaha dapat memilih bisnis waralaba karena sistem bisnisnya sudah tersedia dan tinggal dijalankan,” ujar Mendag Busan.
Menurut Budi, Indonesia memiliki beragam produk lokal yang dapat dikembangkan melalui skema waralaba. Sejumlah usaha kuliner, dari bakso hingga soto, telah menggunakan model tersebut. Ia menilai promosi waralaba lokal perlu terus diperkuat supaya semakin dikenal masyarakat dan dapat bersaing dengan waralaba asing. Dengan demikian, pengembangan usaha bukan hanya menyasar penambahan bisnis di dalam negeri, tetapi juga membuka peluang untuk memperluas jangkauannya.
Baca juga: Menkes Bidik Investasi Kesehatan, Peluang Ekonomi Disebut Bisa Tumbuh di Atas 8 Persen
Peluang waralaba, kata Mendag, tidak berhenti di pasar domestik. Kementerian Perdagangan mendorong ekspansi bisnis kuliner Indonesia ke luar negeri melalui program Rasa Rempah Indonesia atau S’RASA, yang dijalankan bersama sejumlah kementerian terkait. Dukungan untuk upaya tersebut melibatkan 46 perwakilan perdagangan RI yang tersebar di 33 negara, termasuk atase perdagangan dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC).
Perwakilan perdagangan itu, menurut Budi, turut mendapat tugas untuk mengembangkan potensi waralaba Indonesia di negara tujuan ekspor. “Perwadag RI yang tersebar di 33 negara turut kami tugaskan untuk mengembangkan potensi waralaba Indonesia di pasar-pasar negara tujuan ekspor kita,” jelasnya. Penugasan tersebut menjadi bagian dari dorongan agar peluang usaha lokal dapat diperkenalkan di luar negeri, sejalan dengan pengembangan bisnis kuliner Indonesia.
Selain mendorong ekspansi, Mendag mengajak pelaku waralaba dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memanfaatkan fasilitas ekspor Kemendag. Salah satu jalurnya adalah penjajakan bisnis atau business matching. Melalui kegiatan itu, pelaku usaha dapat mempresentasikan produk kepada perwakilan perdagangan, yang selanjutnya membantu mencarikan calon pembeli atau buyer di pasar internasional.
Baca juga: Kemenko PMK Dorong Kewirausahaan Pemuda untuk Perkuat Ketenagakerjaan Layak
Data yang disampaikan Budi menunjukkan Kemendag menyelenggarakan 622 sesi business matching sepanjang 2025, dengan nilai transaksi ekspor mencapai USD 134,87 juta. Pada Januari hingga Agustus 2026, jumlah sesi tercatat 711 dengan nilai transaksi USD 346,99 juta. Angka periode delapan bulan tersebut menunjukkan jumlah sesi dan nilai transaksi yang lebih tinggi dibandingkan capaian sepanjang 2025, sebagaimana dipaparkan Mendag.
Pelaku usaha juga diajak memanfaatkan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 untuk memperluas jaringan bisnis dan menjajaki peluang ekspor. Pameran tersebut dijadwalkan berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten. Salah satu fitur yang disiapkan ialah zona khusus kopi, teh, dan kakao atau Zona KoTeKa, yang ditujukan untuk mempromosikan produk pertanian unggulan Indonesia kepada pembeli internasional.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI), Levita Ginting Supit, menyampaikan bahwa keberhasilan industri waralaba tidak cukup dilihat dari bertambahnya jumlah merek atau gerai. Kontribusi dalam menciptakan wirausaha baru, membuka lapangan kerja, dan memperluas keterlibatan UMKM dalam rantai pasok juga menjadi ukuran penting, menurut Levita.
Baca juga: Kemenko PMK Paparkan Kesiapan Manajemen Talenta kepada BKN
Untuk mendukung hal itu, WALI berkomitmen memperkuat kolaborasi dengan pemerintah dalam membangun ekosistem waralaba nasional yang berdaya saing. Levita menyebut organisasi tersebut siap menjadi mitra strategis dan konstruktif bagi pemerintah. Ia juga menekankan pentingnya sistem yang baik, keterbukaan, kepastian hukum, serta komitmen untuk tumbuh bersama sebagai landasan kepercayaan dalam bisnis waralaba.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pengembangan Ekspor Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Juan Permata Adoe, menekankan perlunya kolaborasi pemerintah dan dunia usaha untuk meningkatkan daya saing serta memperluas akses ke pasar ekspor. Ia mengapresiasi peran Kemendag dalam membuka peluang perdagangan internasional, termasuk melalui perundingan perjanjian perdagangan Indonesia-Uni Eropa (I-EU CEPA).
Juan berharap dukungan pemerintah terhadap pengembangan dunia usaha terus berlanjut. Menurutnya, sinergi diperlukan agar pertumbuhan ekonomi mendorong peningkatan kapasitas UMKM sekaligus memperkuat daya saing bisnis Indonesia secara keseluruhan. “Kami berharap dukungan pemerintah terus berlanjut agar ekonomi dan bisnis Indonesia dapat naik kelas,” ujar Juan. Ia menegaskan, upaya tersebut diharapkan tidak hanya membawa UMKM naik kelas, tetapi juga membuat dunia usaha secara luas mampu bersaing di tingkat global.