Ben Affleck Viral karena Pengetahuannya tentang Teknologi AI

09/10/2026 01:23

CIANJUR.CO - Ben Affleck tengah menjadi perbincangan setelah sejumlah cuplikan wawancaranya mengenai kecerdasan buatan (AI) tersebar luas. Aktor tersebut berbicara tentang jaringan saraf, machine learning, transformer, hingga proses penggunaan teknologi itu dalam pembuatan film. Penjelasannya yang teknis membuat banyak penonton terkejut, mengingat ia lebih dikenal sebagai bintang Hollywood.

Berdasarkan laporan TechCrunch AI, pembicaraan itu muncul dalam beberapa video wawancara terbaru Affleck. Salah satu yang paling banyak dibagikan berasal dari serial GQ, “One More Question”, yang tayang pekan ini. Dalam wawancara bersama Zach Baron, Affleck menceritakan ketertarikannya pada komputer sejak muda dan bagaimana minat itu berkembang seiring perubahan teknologi produksi film.

Affleck mengatakan ia mulai menaruh perhatian lebih besar ketika film analog beralih ke format digital. Perubahan tersebut membuatnya tertarik pada alur kerja efek visual, yang menurutnya telah menggunakan machine learning selama bertahun-tahun. Ia bahkan menyebut dapat menulis skrip Python sederhana, meski mengakui kemampuannya tidak istimewa.

Dalam menjelaskan topik itu kepada Baron, Affleck tidak hanya menyebut istilah teknis, tetapi juga berusaha menerangkannya satu per satu. Ia membahas convolutional neural networks sebagai pendahulu teknologi transformer. Menurut penjelasannya, transformer memungkinkan lebih banyak komputasi dilakukan secara bersamaan.

Baca juga: Arena Raih Pendanaan US$200 Juta, Valuasi Tembus US$3,1 Miliar

Ia juga menguraikan tensor sebagai representasi numerik dari gambar visual. Dalam penjelasan tersebut, angka-angka dapat mencakup nomor batch dan frame, serta nilai merah, hijau, dan biru pada setiap piksel dalam tiap frame. Affleck menyampaikan uraian itu dengan nada santai, bahkan menutupnya dengan komentar, “Itu sesederhana itu, kan?” Laporan tersebut mencatat bahwa bagian inilah yang ikut membuat cuplikan wawancara ramai dibagikan.

Affleck kemudian menjelaskan fungsi jaringan saraf dalam mengenali pola, termasuk untuk deteksi tepi atau ekstraksi fitur. Ia menggambarkan proses tersebut sebagai cara mengidentifikasi bagian gambar, misalnya mengetahui letak ambang jendela. Informasi itu dapat membantu proses menghapus gambar layar hijau dan menggantinya dengan latar lain.

Ketertarikannya tidak hanya berhenti pada pemahaman teori. Affleck mengaku pernah menggunakan posisinya sebagai bintang Hollywood untuk melihat perkembangan teknologi AI yang belum banyak diketahui publik. Dalam salah satu cuplikan terpisah, ia menyebut pernah mengunjungi OpenAI. Pengalaman tersebut, menurut penuturannya, membantunya memahami cara terlibat lebih langsung dalam bidang AI.

Dalam wawancara GQ, ia juga membahas potensi AI untuk membantu proses pembuatan film tanpa mengambil alih peran pembuatnya. Gagasan itu kemudian berkaitan dengan usaha rintisan AI di bidang perfilman yang ia kembangkan dan jual kepada Netflix pada tahun ini. Nilai penjualan yang dilaporkan mencapai 587 juta dolar AS, tetapi Affleck menyatakan angka tersebut “tidak benar” karena ia tidak memiliki seluruh perusahaan.

Baca juga: Google Hadirkan Agen AI Gemini untuk Dunia Usaha

Affleck menerangkan bahwa ia memilih membangun dataset sendiri agar teknologi dapat diterapkan dengan cara yang etis dan bekerja berdampingan dengan para seniman. Ia menilai hubungan jangka panjang di komunitas perfilman, termasuk soal kemiripan atau likeness, perlu diperhatikan ketika teknologi dikembangkan. Karena itu, ia mengumpulkan dana dan melakukan pengambilan gambar selama sekitar delapan bulan dengan banyak kamera serta peralatan.

Dataset yang dibuat, menurut Affleck, ditujukan sebagai pelatihan tahap akhir bagi model terbuka untuk menjalankan tugas-tugas tertentu. Ia menjelaskan bahwa kode pelatihan dan kode inferensi dibuat saling terkait dan diarahkan pada pekerjaan spesifik yang dapat menghasilkan nilai. Dengan demikian, pengembangan sistem AI tersebut tidak semata-mata menggunakan materi yang sudah tersedia, tetapi memanfaatkan dataset yang disusun untuk kebutuhan tertentu.

Dalam cuplikan lain yang juga viral, Affleck berbicara dengan Lucas Shaw dari Bloomberg di konferensi Screentime 2026 di Los Angeles. Ia menjelaskan cara menyempurnakan model AI dengan mengambil model sumber terbuka, membuka bobotnya, lalu melatihnya agar memenuhi standar sinematik tertentu. Dalam pendekatan itu, kru film dapat mempertahankan pekerjaan yang menjadi milik mereka sekaligus memperoleh manfaat dari pembelajaran model yang dibuat khusus untuk film yang sedang dikerjakan.

Baca juga: Bukti Matematika OpenAI Dinilai Belum Memenuhi Standar Peneliti

Materi yang menyertai cuplikan tersebut menyebut Affleck sebagai pendiri InterPositive pada 2022, sebuah perusahaan beranggotakan 16 orang. Ia juga diperkenalkan sebagai CEO Artists Equity. Affleck mengatakan teknik penyempurnaan model itu digunakan dalam filmnya, “Animals”, untuk membantu proses pascaproduksi. Keterangan ini memperlihatkan salah satu penerapan AI yang ia bicarakan: membantu tahapan tertentu dalam produksi, bukan menggantikan seluruh proses kreatif.

Affleck turut menanggapi kekhawatiran tentang dampak AI dan kemungkinan teknologi itu mengancam manusia. Ia mengatakan hal yang lebih ia cemaskan adalah anak-anaknya di sekolah, kenaikan 30 persen jumlah nilai A yang diberikan di perguruan tinggi selama tiga tahun terakhir, learned helplessness, serta penggunaan AI secara bertanggung jawab.

“Saya tidak khawatir tentang Skynet, dan saya tidak berpikir AI akan mengambil alih bisnis film dengan cara yang berarti. Saya pikir AI akan menjadi tambahan,” kata Affleck. Pernyataan itu merangkum pandangannya bahwa teknologi dapat berperan sebagai alat pendukung. Kekhawatirannya lebih tertuju pada dampak penggunaan sehari-hari dan tanggung jawab manusia, bukan pada gambaran AI yang mengambil alih industri perfilman.