UPDATE

Ambi Raih Pendanaan US$26 Juta untuk Aplikasi AI yang Selalu Mendengarkan

12/10/2026 19:51

CIANJUR.CO - Ambi, startup yang dibangun Peter Mo, mantan eksekutif Plaud, mengembangkan aplikasi kecerdasan buatan yang dapat menangkap percakapan dan konteks aktivitas pengguna secara terus-menerus. Perusahaan menyebut pendekatan ini dapat membantu AI memberikan informasi dan saran secara lebih relevan. Namun, kemampuan mendengarkan sepanjang hari juga memunculkan persoalan privasi dan keamanan data.

Seperti diberitakan TechCrunch AI, Ambi mengumumkan telah menghimpun pendanaan US$26 juta melalui beberapa putaran. Pendanaan tersebut dipimpin Luminous Ventures, investor yang sebelumnya mendukung perusahaan seperti Meituan dan Unitree Robotics, bersama Original Design Manufacturer (ODM) Huaqin. Pengumuman pendanaan itu disampaikan pada Senin.

Ambi kini merilis aplikasi untuk iPhone, Mac, dan Apple Watch. Fungsinya mencakup pencatatan rapat, tetapi pengguna juga dapat mengatur aplikasi agar mendengarkan dan mengumpulkan konteks sepanjang hari. Dengan demikian, penggunaan yang ditawarkan tidak terbatas pada percakapan dalam rapat terjadwal.

Gagasan di balik produk ini berangkat dari janji umum AI: semakin banyak informasi yang dimiliki sistem mengenai seseorang, semakin baik pula kemampuannya membantu pekerjaan dan memberikan saran. Untuk memperoleh konteks tersebut, sejumlah aplikasi dan perangkat dirancang mengamati, mendengarkan, atau merekam aktivitas pengguna secara berkelanjutan. Ambi berupaya menerapkan pendekatan serupa untuk menghadirkan kecerdasan dan wawasan secara langsung.

Baca juga: TechCrunch Disrupt 2026 Digelar 13-15 Oktober di San Francisco

Risiko privasi dan keamanan menjadi bagian dari perdebatan atas teknologi yang mengumpulkan data secara terus-menerus. Meski kekhawatiran itu ada, sejumlah startup tetap membangun produk personalisasi dengan keyakinan bahwa pasar untuk bantuan yang disesuaikan bagi tiap pengguna cukup besar. Ambi termasuk perusahaan yang bergerak di area tersebut, dengan fitur yang memungkinkan sistem mengakses konteks aktivitas harian.

Dari pencatatan rapat ke bantuan saat bekerja

Perusahaan pencatat rapat selama ini berusaha mengotomatisasi pekerjaan setelah panggilan selesai. Sistem mereka merangkum percakapan, mencatat butir tindakan, lalu menggunakan koneksi ke berbagai perangkat lunak untuk membantu menindaklanjuti hasil rapat. Ambi ingin melangkah lebih jauh: agen AI-nya dirancang mulai membantu ketika pertemuan masih berlangsung, bukan hanya setelah percakapan berakhir.

Menurut perusahaan, agen tersebut dapat menawarkan saran secara proaktif atau menampilkan pengetahuan yang relevan selama rapat. Rekomendasi itu dapat didasarkan pada kalender, pertemuan, basis pengetahuan, serta data dari web. Ambi juga menyebut pengguna bisa memulai suatu tugas pada satu perangkat dan melanjutkannya di perangkat lain.

Mo menjelaskan bahwa interaksi dengan kecerdasan saat ini masih terbatas karena sering kali kemampuan tersebut berada di layar. Ia membandingkannya dengan perangkat keras seperti Plaud, yang menurutnya mengharuskan pengguna menunggu rekaman dipindahkan ke ponsel, diunggah ke cloud, lalu diproses sebelum hasilnya tersedia. “Itulah sebabnya kami membangun Ambi agar AI bisa digunakan kapan saja dan di mana saja,” kata Mo, salah satu pendiri sekaligus CEO perusahaan, kepada TechCrunch AI.

Baca juga: Amazon Hentikan NDA dalam Negosiasi Data Center, Apakah Cukup?

Ambi juga berencana memperluas jenis konteks yang dapat dihimpun. Aplikasi desktop yang akan datang dirancang untuk mengamati pekerjaan pengguna dan menyimpan bagian-bagian penting ke dalam memorinya. Informasi itu nantinya digunakan untuk menghasilkan saran yang lebih personal. TechCrunch AI menyebut Littlebird dan Minimi sebagai aplikasi yang telah melakukan hal serupa.

Selain aplikasi, startup tersebut merencanakan perangkat keras sendiri. Perangkat yang belum diluncurkan itu akan dilengkapi layar, pengeras suara, kamera, dan mikrofon. Komponen tersebut ditujukan untuk menangkap konteks sekaligus menampilkan informasi kepada pengguna. Perusahaan belum merinci lebih jauh bagaimana perangkat tersebut akan digunakan.

Pengungkapan perekaman menjadi perhatian

Peluncuran Ambi berlangsung di tengah kekhawatiran bahwa sejumlah perangkat AI tidak memiliki penanda yang cukup jelas untuk memberi tahu orang-orang di sekitar pengguna bahwa data sedang direkam. TechCrunch AI menyatakan belum jelas apakah aplikasi Ambi maupun perangkat keras yang direncanakan akan memiliki indikator memadai untuk memperingatkan pihak ketiga ketika percakapan mereka direkam, terutama jika pengguna tidak menjelaskan bahwa teknologi Ambi sedang dipakai.

Persoalan persetujuan bukan hal yang hanya muncul pada Ambi. Beberapa penyedia pencatat rapat pernah digugat karena teknologinya merekam percakapan dan data orang lain tanpa persetujuan mereka. Selain itu, peluncuran fitur Voice Intelligence dari Apple, yang mentranskripsikan ucapan secara terus-menerus, turut memicu kekhawatiran mengenai privasi.

Baca juga: Google Buka Situs SynthID untuk Memeriksa Media Buatan AI

Mo mengatakan pengguna dapat mematikan pengumpulan data ambient pada aplikasi maupun perangkat Ambi kapan saja. Fitur tersebut juga dalam keadaan nonaktif secara default. Perusahaan menyatakan tidak menyimpan rekaman pengguna dan mengenkripsi data, tetapi tidak menjelaskan jenis enkripsi yang digunakan. Meski ada pengaturan tersebut, pengguna tetap bertanggung jawab memberi tahu orang lain bahwa perekaman ambient sedang berlangsung.

Mo menyebut pengungkapan penggunaan fitur tersebut sebagai persoalan yang belum terselesaikan di tingkat industri. “Kami harus memberi tahu pengguna bahwa mereka harus memberi tahu orang lain tentang ambient capture,” ujarnya. Ia mengatakan Ambi telah berupaya menempatkan informasi mengenai pengungkapan itu di berbagai tempat, tetapi perusahaan tidak dapat menyelesaikan masalah jika pengguna berusaha menyembunyikan perekaman.

Saat ini Ambi memiliki lebih dari 50 staf yang bekerja di kantor-kantor perusahaan di San Francisco, Beijing, Shanghai, dan Shenzhen. Startup tersebut juga sedang merekrut untuk fungsi go-to-market serta insinyur AI yang akan mengerjakan model pengenalan ucapan.