Amazon Hentikan NDA dalam Negosiasi Data Center, Apakah Cukup?
CIANJUR.CO - Amazon menyatakan tidak akan lagi menggunakan perjanjian kerahasiaan atau nondisclosure agreement (NDA) ketika bernegosiasi dengan pemerintah lokal mengenai pembangunan pusat data. Kebijakan tersebut mengikuti langkah serupa yang lebih dahulu diumumkan Microsoft. Penghapusan NDA menjadi perhatian karena perundingan proyek pusat data selama ini kerap berlangsung tanpa informasi terbuka mengenai pihak yang akan memakai fasilitas tersebut.
Dalam episode terbaru podcast Equity dari TechCrunch, Sean O’Kane, Rebecca Bellan, dan Anthony Ha membahas pengumuman Amazon serta dampak kebijakan itu di tengah meningkatnya penolakan terhadap pusat data. Berdasarkan laporan TechCrunch AI, pengumuman tersebut disisipkan dalam sebuah tulisan blog Amazon yang lebih panjang. Tulisan itu berupaya menjelaskan bahwa pusat data dapat memberikan manfaat bagi komunitas, sementara keputusan untuk berhenti memakai NDA menjadi salah satu bagian dari narasi tersebut.
Perbincangan para jurnalis itu juga mencakup moratorium pembangunan pusat data yang diberlakukan di sejumlah tempat. Bellan mempertanyakan seberapa besar pengaruh kebijakan penghentian sementara tersebut, mengingat banyak moratorium hanya berlaku satu atau dua tahun, sementara pusat data yang direncanakan belum akan beroperasi dalam waktu dekat. O’Kane, sebaliknya, menilai pelaku yang ingin membangun fasilitas itu tampak khawatir terhadap perlawanan masyarakat.
Perundingan rahasia menjadi sumber ketidakpercayaan
O’Kane menilai keputusan Amazon penting karena kerahasiaan dalam perundingan merupakan salah satu pangkal masalah yang dihadapi industri teknologi, terutama dalam urusan kecerdasan buatan dan pusat data. Ia mengatakan bahwa masyarakat memiliki berbagai pertanyaan mengenai dampak fasilitas tersebut terhadap nilai properti, tagihan listrik, serta penggunaan air di wilayah sekitar. Perdebatan juga menyangkut apakah kekhawatiran itu merupakan masalah nyata atau dinilai terlalu besar.
Menurut O’Kane, persoalan menjadi lebih rumit ketika proyek dinegosiasikan secara tertutup. Dalam sejumlah kasus, masyarakat mungkin mengetahui bahwa sebuah proyek pusat data sedang dibahas, tetapi tidak mengetahui perusahaan mana yang kelak akan menggunakan atau menempati fasilitas itu. Ketika informasi dasar semacam itu tidak jelas, warga sulit memahami apa yang sebenarnya sedang direncanakan dan bagaimana dampaknya bagi komunitas mereka.
O’Kane menghubungkan pola tersebut dengan pengalaman industri teknologi sebelumnya. Ia mengingat masa ketika Uber berkembang pesat pada pertengahan 2010-an dan menggunakan cara serupa dalam berhubungan dengan pemerintah lokal. Saat bekerja di The Verge, ia mengingat sebuah laporan yang ditulis pekerja lepas mengenai sebuah kota di luar Orlando. Dalam kasus itu, Uber bernegosiasi untuk memperoleh subsidi pajak guna membiayai perjalanan masyarakat yang menggunakan transportasi umum setelah naik Uber.
Baca juga: Google Buka Situs SynthID untuk Memeriksa Media Buatan AI
Perundingan mengenai subsidi tersebut berlangsung secara rahasia. Bagi O’Kane, dampaknya bukan hanya kekecewaan karena prosesnya tidak terbuka. Kerahasiaan juga membuat Uber terlihat semakin nyaman meminta berbagai hal lain. Ia menggunakan pengalaman tersebut untuk menekankan bahwa keterbukaan dalam kesepakatan antara perusahaan teknologi dan pemerintah setempat penting agar publik dapat mengetahui apa yang diminta dan dibicarakan.
O’Kane menyambut baik keputusan Amazon untuk berhenti memakai NDA, tetapi belum memastikan apakah kebijakan itu akan membawa hasil positif. Ia juga mengingatkan bahwa masyarakat saat ini telah memiliki sikap yang cukup mengakar dalam perdebatan mengenai pusat data. Karena itu, perubahan cara bernegosiasi tidak serta-merta menghapus perbedaan pandangan yang sudah muncul.
Moratorium belum tentu menghentikan proyek
Bellan mengatakan sejumlah orang yang sehari-hari menangani pusat data menyebut moratorium yang disahkan di berbagai tempat umumnya hanya berjalan selama satu atau dua tahun. Ia menyebut adanya moratorium yang baru-baru ini diberlakukan di San Francisco dan menilai hal tersebut ironis. Namun, masa penangguhan itu perlu dibandingkan dengan jadwal proyek: pusat data yang sedang direncanakan diperkirakan baru akan beroperasi dalam dua, tiga, empat, bahkan lima tahun.
Menurut Bellan, pembangunan dapat tertunda karena berbagai hal, termasuk proses zonasi dan pendanaan. Dengan demikian, moratorium singkat belum tentu langsung menahan fasilitas yang memang belum dijadwalkan beroperasi dalam waktu dekat. Meski begitu, ia tidak menutup kemungkinan bahwa penolakan yang terus berlangsung dapat memberi dampak. Pertanyaannya, menurut dia, adalah seberapa besar pengaruh tekanan politik tersebut terhadap pembangunan pusat data.
Ha mencontohkan moratorium yang paling ia kenal, yakni kebijakan di New York. Ia mengatakan kebijakan itu berlangsung selama satu tahun dan berlaku terhadap izin untuk proyek-proyek besar. Namun, Ha menjelaskan bahwa secara teknis moratorium tersebut berjalan sampai negara bagian menyelesaikan proses tinjauan lingkungan, yang diperkirakan memakan waktu satu tahun. Rincian ini menunjukkan bahwa batas waktu moratorium terkait dengan proses yang sedang berjalan, bukan semata-mata larangan tanpa tahapan lanjutan.
Baca juga: Pendapatan Tahunan OpenAI Disebut Mendekati US$50 Miliar
Ha juga mengatakan moratorium sering dibingkai sebagai kebutuhan untuk mengkaji persoalan terlebih dahulu, bukan sebagai pernyataan bahwa pusat data buruk dan harus dihentikan. Cara penyampaian seperti itu memberi ruang bagi pemerintah atau pihak terkait untuk meninjau proyek, kemudian pada masa berikutnya menyatakan bahwa pembangunan dinilai baik. Dengan kata lain, alasan penangguhan yang disampaikan saat ini tidak selalu menunjukkan keputusan akhir mengenai apakah proyek akan ditolak.
Meski dampak moratorium terhadap jadwal pembangunan belum pasti, Ha melihat tanda bahwa perusahaan dan pihak yang mendorong proyek memperhatikan perlawanan masyarakat. Ia menunjuk unggahan media sosial yang ia sebut tidak terkendali dari Donald Trump dan David Sacks sebagai salah satu petunjuk kekhawatiran tersebut. Namun, Ha mengatakan waktu yang akan menentukan seberapa lama dan seberapa kuat penolakan komunitas bertahan.
Penghapusan NDA dipandang sebagai langkah awal
Ha juga mengingatkan bahwa Microsoft telah membuat pengumuman serupa pada awal tahun. Menurutnya, menghilangkan NDA saja tidak otomatis membuat orang yang menentang pusat data berubah pikiran dan langsung mendukung pembangunan. Akan tetapi, keterbukaan dapat menjadi awal percakapan yang sebelumnya sulit dilakukan ketika masyarakat tidak mengetahui apa yang sedang dibicarakan perusahaan dan pemerintah.
Ia menggambarkan persoalan awalnya sebagai ketidaktahuan publik mengenai proyek yang dirundingkan secara tertutup. Dalam pandangannya, sebelum warga dapat menilai atau menyetujui sebuah pembangunan, mereka perlu mengetahui lebih dahulu apa yang akan dilakukan. Karena itu, penghentian NDA dinilai sebagai langkah pertama yang masuk akal, tetapi bukan jaminan bahwa keberatan masyarakat akan selesai.
O’Kane memperluas persoalan tersebut menjadi tantangan komunikasi bagi industri teknologi secara keseluruhan. Ia mengatakan masalah serupa terasa semakin kuat pada masa ketika perusahaan memilih berkomunikasi langsung dan menyatakan media tidak lagi diperlukan. O’Kane mengakui bahwa ia bekerja di media, tetapi menegaskan bahwa kritiknya bertumpu pada kesulitan industri menjelaskan manfaat teknologi kepada masyarakat.
Baca juga: TypeSafe AI Raih Pendanaan US$870 Juta, Valuasi Jev Capai US$7,5 Miliar
Menurut O’Kane, perusahaan teknologi kerap frustrasi karena banyak orang tidak dapat membayangkan bagaimana kecerdasan buatan dan pusat data akan berguna bagi mereka. Namun, ia menilai hal itu bukan hanya karena masyarakat belum melihat kegunaannya. Dalam sejumlah keadaan, kemampuan teknologinya sendiri belum tersedia, sementara penjelasan dari industri juga tidak disampaikan dengan baik. Kombinasi kedua hal itu membuat klaim manfaat sulit dipahami.
Ia mencontohkan Tesla, yang sebelumnya mengusung gagasan “sustainable abundance” dan kemudian menyebut misi tersebut sebagai “amazing abundance”. O’Kane mengatakan telah menulis tentang satu tahun berlalu sejak Tesla banyak berbicara mengenai gagasan itu. Menurutnya, perusahaan tersebut belum memiliki definisi yang jelas, padahal Tesla pernah merilis dokumen PDF beberapa halaman untuk memaparkannya. Bahkan penggemar Tesla mengkritik Elon Musk dan perusahaan itu karena penjelasannya dinilai tidak spesifik dan terasa seperti tulisan yang dihasilkan model bahasa besar.
Perusahaan tetap perlu menjelaskan manfaatnya
Ha mengaitkan perdebatan pusat data dengan narasi yang selama ini menyertai perkembangan kecerdasan buatan. Ia mengatakan sempat muncul kesan bahwa masa depan berbasis AI tidak dapat dihindari dan masyarakat harus ikut serta agar tidak tertinggal. Menurutnya, perkembangan itu memang terus melaju dalam banyak hal, tetapi hambatan yang muncul di sejumlah titik memperlihatkan bahwa perusahaan tidak cukup hanya menyatakan masa depan tersebut pasti terjadi.
Bagi Ha, perusahaan perlu mengemukakan alasan dan manfaat yang dapat dipahami, bukan sekadar meminta masyarakat menerima pembangunan. Ia juga menilai persoalan Tesla bukan hanya karena perusahaan belum merumuskan arti “abundance” secara memadai. Hal yang mengejutkannya adalah janji tersebut sejak awal disampaikan sebagai tujuan besar. Menurut Ha, hal itu mencerminkan hubungan yang semakin tidak biasa antara Tesla, para pendukungnya, dan Elon Musk.
Ia mengatakan perhatian terhadap Tesla tidak lagi hanya berkisar pada apakah perusahaan akan menjual banyak mobil. Sebagian orang juga ditawari sebuah visi untuk membentuk ulang masyarakat. Dalam konteks pusat data dan AI, perdebatan serupa menempatkan komunikasi, transparansi, serta kemampuan perusahaan untuk menerangkan manfaat sebagai bagian dari penerimaan publik. Penghentian NDA oleh Amazon membuka ruang bagi informasi yang lebih terbuka dalam negosiasi, tetapi pertanyaan mengenai dampak proyek dan alasan pembangunannya tetap menjadi bagian dari perdebatan.