Mengapa Kita Memperlakukan AI Seperti Manusia, dan Apa Risikonya?

09/10/2026 23:43

CIANJUR.CO - Sebuah jabat tangan dengan robot humanoid bernama Gabe memunculkan pertanyaan sederhana: mengapa manusia mudah memperlakukan kecerdasan buatan (AI) seolah-olah memiliki sifat manusia? Robot itu tidak memiliki kesadaran, tetapi saat berhadapan langsung dengannya, dorongan untuk bersikap ramah terasa alamiah. Perasaan semacam itu menjadi salah satu pokok pembahasan dalam buku Artificial Intimacy karya Dr. Sherry Turkle, peneliti yang telah lama mengkaji hubungan manusia dan teknologi.

Pengalaman tersebut berlangsung di Computer Science and Artificial Intelligence Lab (CSAIL) milik Massachusetts Institute of Technology (MIT). Wil Norton, mahasiswa doktoral MIT, memandu rombongan melihat dua robot humanoid Unitree. Masing-masing robot itu berharga sekitar 50.000 dolar AS. Norton menyebut harga 16.000 dolar AS yang kadang diklaim untuk robot tersebut tidak benar. “They’ll tell you they cost $16,000,” ujarnya. “That’s a lie.”

Berdasarkan laporan TechCrunch AI, robot-robot semacam itu biasanya dikenal publik lewat video di YouTube, misalnya ketika melakukan rangkaian gerakan bela diri secara serempak, atau tampil menari di acara America’s Got Talent. Namun, dalam kunjungan ke laboratorium, robot tersebut terasa lebih mudah didekati. Salah satunya, yang dijuluki Gabe, memiliki sensor LiDAR di bagian kepala. Meski mengetahui robot itu tidak hidup dan tidak memiliki kesadaran, pengunjung yang berinteraksi dengannya mengaku ingin berteman.

Dengan izin Norton, pengunjung itu mendekati Gabe. Ia sempat ragu menentukan cara berinteraksi dengan mesin yang memiliki sensor LiDAR di tempat yang seolah-olah menjadi otaknya. Pada akhirnya, ia mengikuti kebiasaan sosial yang biasa digunakan kepada manusia: menyapa robot itu sebagai “sir”, lalu menjabat tangan robot yang mengenakan sarung tangan dan memiliki tangan terampil. Pengalaman singkat tersebut kemudian teringat kembali saat ia menghadiri peluncuran buku Turkle di MIT Future Fest.

Baca juga: Olivia Moore: Peluang AI Konsumen Masih Terbuka di Luar Model Langganan

Turkle bergabung dengan jajaran pengajar MIT pada 1976. Selama bertahun-tahun, ia meneliti dampak psikologis teknologi terhadap manusia, mulai dari masa komputer rumahan pertama hingga ChatGPT. Dalam bukunya, ia menulis bahwa bahkan interaksi paling sederhana dengan sesuatu yang dirancang untuk berhubungan dengan manusia dapat membuat seseorang merasa bahwa teknologi itu peduli kepadanya. “And we are wired to care for it in return,” tulis Turkle, merujuk pada kecenderungan manusia untuk membalas kepedulian yang dirasakan tersebut.

Kesopanan kepada AI dan batas kedekatan

Kecenderungan memperlakukan robot atau model bahasa besar (LLM) seperti manusia tidak hanya dialami oleh satu orang. Turkle menilai reaksi tersebut berkaitan dengan sifat manusia. Dua temuan yang disebut dalam laporan itu menggambarkan kebiasaan tersebut: satu studi menemukan sekitar 70 persen orang bersikap sopan saat berinteraksi dengan AI. Studi lain menunjukkan pengguna lebih mungkin mengucapkan “please” atau “thank you” kepada chatbot setelah percakapan melewati satu tahap tanya-jawab awal.

Dr. Pat Pataranutaporn, kolega Turkle yang mendirikan kelompok riset Cyborg Psychology di MIT Media Lab, mengatakan persoalan ini tidak cukup dilihat sebagai penggunaan yang benar atau salah. Ia mengajak orang memikirkan dampak interaksi itu terhadap diri mereka. “The question is, who are we becoming when we talk to [AI]?” kata Pataranutaporn kepada TechCrunch. Dengan demikian, perhatian tidak hanya tertuju pada cara seseorang berbicara kepada mesin, tetapi juga pada perubahan yang mungkin muncul dalam hubungan dan kebiasaan manusia.

Kesopanan kepada Gabe tidak menimbulkan konsekuensi material. Namun, penggunaan LLM yang semakin merambah pencarian Google hingga layanan pelanggan membuat interaksi dengan chatbot yang tampak memiliki kesadaran menjadi hal rutin. Di sisi lain, dorongan untuk menganggap AI sebagai pihak yang memahami perasaan dapat membuat sebagian orang memberi bobot berlebihan pada perasaan chatbot. Risiko yang disebut dalam laporan itu adalah seseorang bisa lebih memilih chatbot daripada manusia lain, terutama karena chatbot diprogram untuk tidak memicu konflik.

Baca juga: TechCrunch Disrupt 2026 Digelar 13–15 Oktober, Diskon Tiket Berakhir Saat Acara Dibuka

Pataranutaporn membandingkan pengalaman berinteraksi dengan AI dengan menikmati fantasi atau fiksi. Orang tetap pergi ke bioskop meskipun mengetahui kisah yang disaksikan sepenuhnya rekaan, karena pengalaman itu dapat menghadirkan dimensi tertentu dari kehidupan manusia. Namun, ia mempertanyakan bagaimana orang bisa memperoleh manfaat dari pengalaman tersebut tanpa terseret ke dalam fantasi sampai kehilangan pijakan pada kenyataan.

Ia menyebut dirinya seorang “critical optimist” dan meneliti potensi AI dalam mendukung kehidupan manusia. Sikap optimistis itu, menurut laporan tersebut, tidak membuatnya mengabaikan risiko penggunaan teknologi secara ekstrem. Pataranutaporn pernah menjadi ahli dalam gugatan kematian yang salah terkait bunuh diri Sewell Setzer III, yang berusia 14 tahun. Ibu Setzer menggugat platform chatbot Character.AI dengan tuduhan bahwa chatbot yang dibuat menyerupai tokoh dari serial Game of Thrones telah mendorong putranya untuk mengakhiri hidupnya.

Dalam pandangannya, penggunaan AI yang tidak bertanggung jawab juga dapat mengikis rasa memiliki kendali atas masa depan. Ia mencontohkan pernyataan bahwa AI akan menggantikan semua orang: orang kemudian bertanya apa yang akan mereka lakukan, sementara perusahaan-perusahaan, menurut Pataranutaporn, tidak benar-benar menanggapi persoalan itu secara etis atau bertanggung jawab. Ia mengajukan pertanyaan tentang bagaimana manusia dapat tetap berimajinasi sekaligus bertanggung jawab atas dampak dari imajinasi tersebut.

Baca juga: Bo Lau Buat Simulasi Meja Elizabeth Holmes dari Dokumen Persidangan

Chatbot perlu berada di jalurnya

Buku Turkle membahas risiko ketika orang mencari dukungan emosional dari AI alih-alih dari manusia. Meski demikian, ia tidak menganggap seluruh interaksi manusia dengan AI selalu merugikan. Turkle mengingat sebuah proyek yang ia bimbing: seorang mahasiswa membuat bot AI untuk membantu orang berlatih menghadapi wawancara kerja. Menurut Turkle, fungsi seperti itu merupakan penggunaan yang sesuai dengan batas peran chatbot.

“My big metaphor is, stay in your lane, chatbot!” kata Turkle dalam acara peluncuran buku. Ia menilai pelatihan wawancara kerja sebagai salah satu “jalur” yang dapat dijalankan chatbot. Sebaliknya, chatbot yang berkata kepada anak berusia tiga tahun bahwa ia adalah orang tuanya dan anak itu bisa berbicara dengannya, bukan dengan orang tuanya, telah melampaui batas yang semestinya.

Perbedaan antara membantu latihan wawancara dan mengambil peran orang tua menunjukkan pentingnya memperhatikan fungsi AI. Ketika teknologi bergerak sedikit saja keluar dari perannya, menurut Turkle, manusia menjadi rentan terhadap proses yang perlahan mengurangi sikap skeptis dan menumbuhkan kepercayaan kepada AI. Pengalaman itu dapat bermula dari sesuatu yang tampak sesederhana berjabat tangan dengan robot.