Olivia Moore: Peluang AI Konsumen Masih Terbuka di Luar Model Langganan
CIANJUR.CO - AI konsumen masih menghadapi tantangan dalam membangun model bisnis yang kuat, tetapi Olivia Moore melihat persoalan tersebut sebagai peluang. Partner Andreessen Horowitz yang mengikuti perkembangan AI konsumen itu menilai industri masih berada pada tahap awal, terutama karena sumber pendapatannya belum banyak melampaui langganan dan biaya penggunaan API.
Seperti diberitakan TechCrunch AI, Moore merilis laporan mengenai 100 aplikasi AI konsumen teratas pada Senin. ChatGPT masih menjadi pemain terbesar dengan jarak yang jauh dari para pesaingnya. Namun, aplikasi yang lebih kecil seperti Suno dan ElevenLabs juga dinilai menunjukkan daya tahan. Laporan itu sekaligus menyoroti sejumlah kategori konsumen yang belum terjamah oleh aplikasi AI dalam daftar tersebut.
Dalam percakapan dengan TechCrunch AI, Moore membahas struktur ekonomi layanan AI konsumen, cara produk-produk itu dapat menghasilkan pendapatan, serta batas yang makin kabur antara pasar konsumen dan perusahaan. Ia menilai peluangnya tidak hanya bergantung pada bertambahnya jumlah orang yang membayar langganan.
Pendapatan AI masih terkonsentrasi
Diskusi mengenai laporan Moore berlangsung ketika OpenAI disebut kembali mengarahkan perhatian ke pasar perusahaan pada tahun ini. Perkembangan itu memunculkan pesimisme mengenai potensi pendapatan AI konsumen. Moore sepakat bahwa OpenAI bergerak lebih dekat ke pasar perusahaan, tetapi ia tidak menganggapnya sebagai perubahan arah yang sepenuhnya meninggalkan konsumen.
Menurut Moore, OpenAI masih meluncurkan banyak produk untuk pengguna konsumen. Karena itu, ia menyebut perubahan tersebut lebih sebagai ekspansi daripada pivot. Ia juga memahami alasan perusahaan memperluas fokusnya. Hingga saat ini, hampir seluruh pendapatan AI berasal dari langganan dan penggunaan token, dua sumber yang lebih terkonsentrasi pada pelanggan perusahaan serta pengguna profesional yang memanfaatkan produk untuk pekerjaan.
Baca juga: TechCrunch Disrupt 2026 Digelar 13–15 Oktober, Diskon Tiket Berakhir Saat Acara Dibuka
Besarnya peluang konsumen juga perlu dilihat bersama tingkat pembayaran saat ini. Laporan State of Markets menyebut hanya 2,2 persen rumah tangga di Amerika Serikat membayar layanan AI. Namun, Moore tidak yakin bahwa kenaikan angka pelanggan berbayar harus menjadi ukuran utama untuk membuat pasar itu menarik.
Ia lebih tertarik pada kemungkinan konsumen memperoleh akses gratis, sementara perusahaan mendapatkan pemasukan dari cara lain, seperti iklan. Dalam pandangannya, pengguna dapat memilih apakah tetap memakai layanan dengan iklan atau membayar untuk menghilangkannya. Moore membandingkan pandangan itu dengan kebiasaan di Silicon Valley, tempat orang berpenghasilan tinggi atau pengguna yang memiliki kartu perusahaan dapat lebih mudah memilih membayar langsung untuk sebuah produk.
Pendekatan tersebut, menurut Moore, dapat memberi konsumen pilihan yang berbeda dari model langganan yang dibayar dari kantong sendiri. Ia tidak menyatakan bahwa iklan otomatis menjadi jawaban bagi semua produk AI, tetapi menempatkan monetisasi konsumen di luar biaya langganan sebagai ruang yang masih dapat dikembangkan.
Biaya model dan perbedaan kebutuhan pengguna
Tantangan lain adalah biaya marginal layanan AI, yang masih jauh lebih tinggi dibandingkan layanan internet klasik seperti Facebook atau Google Search. Moore mengatakan ia melihat adanya perbaikan. Salah satu contoh yang ia sebut adalah ChatGPT Go, paket seharga 8 dolar AS per bulan yang menurut perkiraannya berjalan dengan model yang lebih murah.
Moore menilai tidak semua tugas membutuhkan kecerdasan model terdepan. Untuk sejumlah kebutuhan konsumen, model yang lebih murah dapat mencukupi. Pilihan lainnya adalah perusahaan konsumen membangun produk di atas model sumber terbuka. Ia mengatakan para pendiri perusahaan yang berhubungan dengan Andreessen Horowitz belakangan banyak membicarakan pendekatan tersebut, dan perubahan itu mulai terasa.
Baca juga: Bo Lau Buat Simulasi Meja Elizabeth Holmes dari Dokumen Persidangan
Meski demikian, pengguna yang saat ini menyumbang pendapatan banyak melakukan pemrograman dan otomatisasi teknis. Untuk tugas-tugas itu, mereka mungkin memang memerlukan kecerdasan model terdepan. Moore memperkirakan penggunaan model berbiaya lebih rendah akan lebih sering terlihat ketika semakin banyak perusahaan membuat produk bagi konsumen dan model AI tidak lagi menjadi produk utama yang dijual.
Perbedaan kebutuhan tersebut ikut menjelaskan mengapa layanan yang tampak ditujukan kepada individu bisa memiliki karakter penggunaan profesional. Moore berpendapat bahwa sebagian besar produk yang selama ini disebut AI konsumen sebenarnya lebih tepat disebut AI prosumer, yakni produk yang digunakan konsumen tetapi juga memenuhi kebutuhan kerja dan pembuatan produk.
Produk konsumen yang cepat masuk ke pasar perusahaan
Moore pernah membahas perubahan batas pasar itu dalam artikelnya, The Great Expansion, sekitar setahun sebelumnya. Sebelum AI berkembang, perusahaan seperti Canva dapat memulai dengan berfokus pada konsumen dan membutuhkan waktu enam atau tujuh tahun sebelum menambahkan fitur tim atau paket perusahaan.
Perkembangan perusahaan AI berlangsung lebih cepat. Moore mencontohkan Gamma, ElevenLabs, dan Cursor, yang bermula sebagai produk konsumen lalu dalam kurun 18 bulan menjadi bisnis yang mayoritas pelanggannya berasal dari perusahaan. Pergeseran cepat itu membuat label konsumen tidak selalu menggambarkan siapa yang akhirnya membayar dan bagaimana produk digunakan.
Baca juga: Tiga Peneliti Keselamatan AI OpenAI Bantah Tuduhan Pelanggaran
Dalam daftar pendapatan yang ia bahas, Moore melihat tiga kelompok utama aplikasi yang menjadi sasaran belanja pengguna intensif. Pertama, aplikasi untuk membangun produk, seperti Lovable, Replit, dan Fal. Kedua, produk pemasaran, termasuk pembuat iklan berbasis AI seperti Higgsfield dan HeyGen. Ketiga, pengelolaan pekerjaan umum, dengan contoh Manus, Fireflies AI, dan Granola.
Produk-produk tersebut pada awalnya dapat dibayar oleh konsumen, tetapi menurut Moore tidak sepenuhnya menyerupai layanan konsumen sebagaimana dipahami sebelum AI. Penggunaannya dekat dengan pembuatan produk, pemasaran, atau pekerjaan, sehingga karakter prosumernya menjadi menonjol.
Di sisi lain, laporan tersebut memperlihatkan banyak kategori yang masih kosong dari daftar 100 aplikasi AI konsumen teratas. Moore menyebut aplikasi sosial, kencan, marketplace, ritel, perjalanan, keuangan, dan kesehatan sebagai kategori yang belum memiliki pemain dalam daftar itu. Ia menilai ketiadaan tersebut cukup mengejutkan dan mengatakan perkembangan di kategori-kategori itu perlu terlihat dalam enam bulan berikutnya.
Dengan demikian, peluang yang dilihat Moore mencakup dua sisi: cara baru memperoleh pendapatan dari pengguna konsumen dan ruang produk yang belum terisi. Sementara aplikasi yang menonjol saat ini banyak melayani kebutuhan kerja dan pengguna intensif, laporan tersebut belum mencatat pemain AI di sejumlah bidang kehidupan konsumen lainnya.