CIANJUR CITY DIRECTORY

Desa Sarampad, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur

desa Sarampad kecamatan Cugenang - Kabupaten Cianjur

CIANJUR.CO - Desa Sarampad merupakan salah satu desa yang terletak di wilayah administratif Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Lokasinya berada di kawasan pegunungan yang sejuk dan asri, menjadikan desa ini salah satu tempat yang nyaman untuk dihuni maupun dijadikan destinasi wisata alam maupun pertanian.

pertanian padi di desa sarampad

Letak Geografis dan Batas Wilayah

Secara geografis, Desa Sarampad terletak di kawasan timur laut Kecamatan Cugenang dan memiliki kontur tanah yang dominan berupa perbukitan dan lereng gunung. Posisi desa ini membuatnya berada pada jalur yang cukup strategis untuk aktivitas pertanian, peternakan, serta kegiatan ekonomi mikro.

Batas Wilayah Desa Sarampad:

  • Sebelah Utara: Desa Sukamulya dan Desa Mangunkerta

  • Sebelah Selatan: Desa Talaga dan Cirumput

  • Sebelah Timur: Desa Gasol

  • Sebelah Barat: Pegunungan Gede

Letak desa ini yang berada tidak jauh dari kawasan Gunung Gede dan Gunung Pangrango menjadikannya bagian dari zona penyangga kawasan konservasi dan ekowisata di Cianjur.

Luas Wilayah dan Ketinggian (Mdpl)

Berdasarkan data dari sumber resmi pemerintah daerah dan BPS, Desa Sarampad memiliki luas wilayah sekitar 874 hektar atau setara dengan 8,74 km². Wilayah ini terbagi ke dalam beberapa dusun dan RT/RW yang tersebar di berbagai ketinggian.

Ketinggian desa ini berada di kisaran 800–1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl), yang menjadikannya memiliki iklim pegunungan yang sejuk. Suasana alam yang masih alami menjadikan Desa Sarampad cocok untuk pertanian hortikultura dan sebagai lokasi agrowisata.

desa sarampad cugenang hamparan kebun

Suhu dan Iklim

Karena berada di dataran tinggi, suhu rata-rata di Desa Sarampad berkisar antara 19°C hingga 25°C sepanjang tahun. Suhu yang sejuk ini sangat mendukung bagi pertumbuhan tanaman seperti teh, kopi, sayur-sayuran, dan buah-buahan dataran tinggi.

Musim penghujan biasanya berlangsung dari bulan November hingga Maret, dengan curah hujan yang tinggi. Sementara musim kemarau cenderung kering dengan suhu yang masih relatif nyaman.

Demografi dan Jumlah Penduduk

Menurut data kependudukan terakhir dari Kecamatan Cugenang, jumlah penduduk di Desa Sarampad mencapai sekitar 4.500 jiwa, yang terdiri dari:

  • Laki-laki: 2.270 jiwa

  • Perempuan: 2.230 jiwa

Mayoritas penduduk bekerja di sektor pertanian, perkebunan, dan perdagangan kecil. Sisanya bekerja di bidang jasa, transportasi, dan sebagian kecil bekerja sebagai PNS, guru, maupun pelaku usaha UMKM.

hamparan sawah desa sarampad

Makna dan Sejarah Nama "Sarampad" Menurut Istilah Sunda

Nama "Sarampad" dipercaya berasal dari kata dalam Bahasa Sunda, yaitu gabungan dari dua unsur kata:

  • "Saram" atau "Sarampet": dalam beberapa tutur lisan Sunda kuno, kata ini bisa berarti kumpul atau berhimpun secara tidak teratur.

  • "Pad" atau "Padepokan/Padukuhan": dalam konteks Sunda kuno, kata ini merujuk pada tempat bermukim, kampung, atau wilayah dataran yang ditinggali masyarakat.

Makna Filosofis Nama Sarampad

Jika ditelaah lebih jauh, Sarampad secara filosofis bisa diartikan sebagai "tempat berkumpulnya berbagai elemen", baik itu manusia, air, maupun jalur alam.

Beberapa tafsir menurut penuturan masyarakat adat dan tokoh setempat antara lain:

  1. Tempat berkumpulnya empat sumber air:
    Dalam versi ini, kata "sarampad" diyakini berasal dari kata "sarempad" (sérempad) yang berarti empat arah atau empat jalur aliran air (cai). Hal ini merujuk pada kondisi geografis desa yang berada di tengah pertemuan beberapa mata air dan aliran sungai kecil dari perbukitan sekitar Gunung Gede dan Pangrango.

  2. Gabungan dari kata "Sareung Pad":
    Penafsiran lain menyebutkan bahwa "Sarampad" berasal dari gabungan kata "sareung" (bersama) dan "pad" (padumukan atau tempat tinggal), sehingga dapat dimaknai sebagai "permukiman yang didiami bersama-sama" atau tempat berkumpulnya berbagai keluarga/lembur.

  3. Sarampet-Pad (Lereng Pemukiman):
    Dalam Bahasa Sunda arkais, sarampet juga bisa bermakna lereng atau tempat miring. Maka Sarampad bisa pula diartikan sebagai padumukan di daerah miring/lereng, sesuai dengan kontur geografis desa yang berada di kaki pegunungan.

Berdasarkan istilah Sunda, Sarampad dapat diartikan sebagai padumukan atau kampung yang terletak di wilayah pertemuan air dan jalur lereng gunung, sekaligus tempat tinggal bersama warga yang hidup bergotong royong. Nama ini bukan sekadar identitas geografis, tapi juga mengandung makna kultural dan filosofis tentang kebersamaan, alam, dan spiritualitas masyarakat Sunda.

Seiring berkembangnya penggunaan dalam istilah bahasa sunda, kata "sarampad" saat ini juga bisa di artikan dengan istilah "sesuatu yang berantakan, tidak teratur, atau tidak rapi", merujuk kepada bagaimana dulunya kata ini digunakan secara kias yang menggambarkan pertemuan aliran air dari berbagai arah.

Awal Mula dan Pemukiman Awal

Menurut penuturan tokoh masyarakat dan cerita turun-temurun, kawasan Sarampad dulunya merupakan daerah hutan belantara yang digunakan oleh masyarakat adat sebagai lahan berburu dan ladang berpindah (huma). Sekitar awal abad ke-19, beberapa kelompok masyarakat mulai bermukim secara tetap dan membuka lahan pertanian. Pemukiman awal ini berawal dari wilayah Kampung Ciburial dan Kampung Nyalindung, yang kini menjadi bagian inti dari wilayah administrasi desa.

Pada masa kolonial Belanda, Desa Sarampad menjadi salah satu jalur perlintasan logistik menuju perkebunan dan kawasan hutan produksi di kaki Gunung Gede-Pangrango. Meskipun tidak menjadi pusat administrasi penting, desa ini memiliki peran tersendiri sebagai lumbung pertanian rakyat.

Perkembangan di Era Kemerdekaan

Pasca kemerdekaan Republik Indonesia, Desa Sarampad secara administratif masuk dalam wilayah Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur. Sejak itu, desa ini terus berkembang melalui program-program pembangunan pemerintah seperti Transmigrasi Lokal, Program Inpres Desa Tertinggal (IDT), dan Bantuan Dana Desa.

Pada era Orde Baru, Sarampad mulai membentuk struktur kelembagaan desa secara resmi, lengkap dengan perangkat desa, dusun, RT dan RW. Infrastruktur dasar mulai dibangun secara bertahap seperti jalan desa, balai warga, sekolah dasar, dan irigasi pertanian.

Sejarah Bencana Alam dan Rehabilitasi

Salah satu bagian penting dalam sejarah Desa Sarampad adalah peristiwa gempa bumi Cianjur pada tahun 2022. Sebagian wilayah desa, khususnya di lereng perbukitan, terdampak cukup signifikan akibat gempa dan longsor. Banyak rumah warga yang mengalami kerusakan dan beberapa lahan pertanian menjadi tidak produktif.

Namun, semangat gotong royong masyarakat Sarampad terbukti kuat. Dalam waktu singkat, warga bersama pemerintah desa, relawan, dan lembaga kemanusiaan bahu-membahu membangun kembali desa mereka. Kini, pasca rehabilitasi, Desa Sarampad mulai menunjukkan kebangkitan dan semangat baru dalam membangun kemandirian ekonomi dan sosial.

Potensi Pertanian dan Perkebunan

Salah satu potensi terbesar Desa Sarampad terletak pada sektor pertanian dan perkebunan. Tanah yang subur dan suhu yang sejuk mendukung tumbuhnya berbagai komoditas unggulan seperti:

  • Sayuran: kubis, wortel, tomat, cabe

  • Buah-buahan: stroberi, jeruk, pisang

  • Perkebunan: kopi arabika, teh, dan cengkeh

Pertanian di Sarampad mayoritas masih menggunakan metode konvensional, namun sebagian petani muda mulai mengadopsi sistem pertanian organik dan hidroponik.

Infrastruktur dan Fasilitas Umum

Walaupun merupakan desa yang berada di daerah pegunungan, Desa Sarampad telah memiliki akses infrastruktur yang cukup baik. Beberapa fasilitas umum yang tersedia meliputi:

  • Jalan desa beraspal dan jalan usaha tani

  • Sekolah dasar dan taman kanak-kanak

  • Puskesmas Pembantu (Pustu)

  • Masjid dan musholla

  • Balai desa sebagai pusat layanan publik

  • Akses internet desa

Pemerintah desa juga aktif dalam mengembangkan Program Pemberdayaan Masyarakat dan pelatihan-pelatihan berbasis kewirausahaan lokal.

Potensi Wisata dan Budaya Lokal

Desa Sarampad juga memiliki potensi wisata berbasis alam dan budaya. Beberapa titik yang mulai dikenal wisatawan lokal antara lain:

  • Perkebunan kopi Sarampad yang mulai dikembangkan untuk edukasi dan agrowisata.

  • Curug kecil di lereng desa yang masih alami dan sering dikunjungi warga lokal.

  • Situs budaya dan tradisi seperti kesenian Sunda, pertunjukan wayang golek mini, dan tradisi hajat bumi.

Pendidikan dan Sosial Kemasyarakatan

Desa Sarampad memiliki beberapa sekolah dasar dan satu Madrasah Diniyah, yang menjadi pusat pendidikan dasar anak-anak di desa ini. Kegiatan sosial juga sangat aktif, mulai dari pengajian rutin, kelompok tani, karang taruna, hingga majelis taklim ibu-ibu.

Partisipasi masyarakat dalam kegiatan desa cukup tinggi, termasuk dalam program gotong royong dan pelestarian lingkungan.

Tantangan dan Peluang Pengembangan

Seperti desa lainnya di kawasan pegunungan, Sarampad juga menghadapi beberapa tantangan seperti:

  • Ancaman longsor saat musim hujan

  • Akses transportasi yang terbatas untuk kendaraan besar

  • Kurangnya promosi potensi desa ke luar daerah

Namun, dengan dukungan pemerintah kabupaten dan partisipasi warga, Desa Sarampad memiliki peluang besar untuk:

  • Menjadi desa wisata berbasis alam dan edukasi pertanian

  • Mengembangkan produk UMKM seperti kopi kemasan, olahan stroberi, keripik lokal

  • Meningkatkan kualitas SDM melalui pelatihan digital dan kewirausahaan

Program Pemerintah Desa dan Kolaborasi

Pemerintah Desa Sarampad aktif menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk:

  • Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Cianjur

  • Program P3MD dan Dana Desa

  • Lembaga swadaya masyarakat (LSM)

  • Kampus dan lembaga pelatihan

Beberapa program yang sedang berjalan antara lain:

  • Pengembangan wisata edukatif berbasis pertanian

  • Digitalisasi pelayanan desa

  • Program peningkatan kualitas air bersih dan sanitasi

Desa Sarampad merupakan desa yang menyimpan potensi besar dari segi alam, sosial, hingga ekonomi. Bagi sobat Cianjur yang tertarik dengan kehidupan desa yang asri, potensi wisata, atau ingin menanamkan investasi pada sektor pertanian dan agrowisata, maka Sarampad layak dijadikan destinasi selanjutnya.