UPDATE

Satlyt Kantongi US$8 Juta untuk Jalankan AI di Satelit

14/10/2026 00:07

CIANJUR.CO - Satlyt memperoleh pendanaan awal sebesar US$8 juta untuk mengembangkan perangkat lunak yang memungkinkan model kecerdasan buatan (AI) dan beban komputasi dijalankan pada satelit. Perusahaan rintisan ini tidak membuat wahana antariksa sendiri. Sasaran Rama Afullo, salah satu pendirinya, adalah menghadirkan sistem yang dapat digunakan pada satelit dari berbagai perusahaan dan kelak menghubungkan kemampuan komputasi di antara wahana-wahana tersebut.

Berdasarkan laporan TechCrunch AI, Afullo melihat potensi komputer di ruang angkasa dari pengalaman kerjanya di Google dan SpaceX. Insinyur keturunan Kenya-Amerika itu sebelumnya bekerja di bisnis komputasi awan Google, lalu sempat bergabung dengan jaringan komunikasi Starlink milik SpaceX pada 2024. Di kedua perusahaan, ia pernah mengajukan gagasan komputasi di orbit, tetapi usul tersebut tidak diterima.

“Ketika saya di SpaceX, saya mencoba mengajukan ini secara internal. Mereka mengatakan tidak. Ketika saya di Google, saya mencoba mengajukan ini secara internal. Mereka mengatakan tidak,” kata Afullo kepada TechCrunch. Setelah meninggalkan SpaceX, ia mendirikan Satlyt bersama rekan-rekannya. Perusahaan itu berkantor pusat di Sunnyvale, California, dan Nairobi. Afullo menyampaikan kepada TechCrunch secara eksklusif bahwa Satlyt telah menghimpun pendanaan awal US$8 juta.

Model terbuka untuk satelit berbagai perusahaan

Satlyt mengambil jalur berbeda dari perusahaan yang membangun satelit maupun pusat data orbitalnya sendiri. Dalam laporan TechCrunch AI, SpaceX, Google, serta startup Starcloud dan Cowboy Space Company disebut sebagai pihak yang bergerak di area tersebut. Satlyt justru berfokus pada perangkat lunak untuk menjalankan model AI di satelit, tanpa mengharuskan perusahaan membangun wahana sebagai bagian dari produknya.

Afullo menyamakan pendekatan itu dengan VMware dan Snowflake. Platform dari perusahaan-perusahaan tersebut memungkinkan pengguna menjalankan perangkat lunak kompleks tanpa harus mengurus infrastruktur yang mendasarinya. Satlyt ingin menawarkan fungsi serupa untuk komputasi di orbit, sehingga perangkat lunaknya dapat bekerja pada satelit yang dibangun atau dioperasikan oleh pihak berbeda.

Baca juga: Google Play Izinkan Aplikasi AI Pribadi Berjalan Tanpa Dipublikasikan

Ia menggambarkan perbedaan itu melalui perbandingan perangkat bergerak. “Jika pihak seperti SpaceX yang mengerjakan pusat data orbital adalah iPhone, kami akan membangun Android sebagai ekosistem terbuka yang terintegrasi secara horizontal,” ujarnya. Perumpamaan tersebut merujuk pada ambisi Satlyt menjadi pilihan terbuka yang bisa dipakai lintas perusahaan, bukan sistem tertutup yang hanya terhubung dengan satu penyedia satelit.

Perangkat lunak Satlyt sudah diterbangkan dalam dua misi demonstrasi. Fokus awal perusahaan adalah membantu meningkatkan efisiensi operasi wahana antariksa. Satelit biasanya mengandalkan pengendali penerbangan di Bumi untuk mengatasi persoalan yang muncul. Sementara itu, pengiriman data dari wahana ke Bumi, yang dikenal sebagai downlink, dapat mahal dan lambat. Menurut penjelasan dalam laporan tersebut, kemampuan memproses data atau mengambil keputusan langsung di satelit dapat mengurangi kebutuhan pengiriman data.

Pemrosesan di wahana dapat digunakan untuk membantu menangani anomali atau mengolah pembacaan sensor sebelum informasi dikirim ke Bumi. Salah satu pengujian Satlyt dilakukan pada awal tahun ini, ketika perusahaan menerapkan model AI Gemma dari Google DeepMind di wahana antariksa yang dioperasikan Momentus.

Afullo mengatakan model itu mengurangi ukuran transmisi mengenai kesalahan perangkat lunak di wahana lebih dari 60 persen. Ia memperkirakan efisiensi seperti itu bisa menghemat ratusan ribu dolar untuk setiap satelit per tahun. Klaim penghematan tersebut disampaikan Afullo sebagai potensi manfaat dari pengurangan kebutuhan transmisi.

Peluncuran bersama tiga pelanggan

Pada Kamis, perangkat lunak Satlyt dijadwalkan terbang di wahana yang dibangun TakeMe2Space, startup asal India yang membuat perangkat keras komputasi untuk satelit. Misi itu memiliki tiga pelanggan dengan kebutuhan pengujian berbeda. NASA membayar perusahaan untuk menguji protokol komputasi awan di ruang angkasa.

Baca juga: TechCrunch Disrupt 2026 Hari Pertama: Agenda dan Sorotan

Pelanggan kedua, Stellerian, merupakan startup yang berfokus pada pengawasan ruang angkasa dengan melacak objek di orbit. Perusahaan tersebut hendak menguji beban kerja pemrosesan gambar. TakeMe2Space juga menjadi pelanggan dan akan menggunakan misi itu untuk menunjukkan bahwa satelit buatannya dapat menampung perangkat lunak dari perusahaan lain. Ketiga kebutuhan tersebut menempatkan perangkat lunak Satlyt dalam pengujian protokol komputasi awan, pemrosesan gambar, serta penggunaan aplikasi pihak ketiga pada wahana.

Peluncuran yang sama dijadwalkan berlangsung dengan roket SpaceX dan membawa prototipe pertama Project Suncatcher, upaya Google untuk membangun pusat data di ruang angkasa. Perkembangan itu berlangsung setelah SpaceX, tempat Afullo pernah mengajukan gagasannya, kini berfokus pada pusat data orbital. Namun, Satlyt tidak harus membangun pusat data berdaya tinggi agar pendekatannya dapat digunakan.

Jumlah GPU berdaya tinggi yang berada di orbit saat ini masih sedikit. Untuk sementara, peluang yang paling mungkin bagi Satlyt adalah jenis pekerjaan yang sedang dikembangkan, termasuk pemrosesan data dan peningkatan efisiensi operasi satelit. Perusahaan berencana melangkah lebih jauh dengan menguji sistem komputasi bersama yang membentang di dua satelit berbeda. Satlyt memperkirakan upaya itu akan dicoba tahun depan.

Jika pengujian tersebut berhasil, perusahaan akan dapat membangun komputasi awan di orbit yang melibatkan lebih dari satu wahana, lalu menawarkan layanan sebagai penyedia pihak ketiga bagi pembuat satelit. Afullo merangkum sasaran layanannya dengan mengatakan, “Cara memikirkannya adalah kami mengubah satelit Anda menjadi layanan terkelola yang menghasilkan pendapatan.” Dengan model itu, perangkat lunak Satlyt bukan hanya menjalankan tugas komputasi, tetapi juga ditujukan untuk membantu pemilik satelit menawarkan layanan terkelola.

Baca juga: SpaceXSI Gabungkan X Premium, Grok, dan Cursor dalam Satu Langganan

Investor tidak bergantung pada pusat data raksasa

Putaran pendanaan awal Satlyt dipimpin Non Sibi Ventures yang berbasis di Houston. Bernard Harris, mitra di perusahaan investasi tersebut dan mantan astronaut NASA yang bertugas selama lebih dari 20 tahun, membantu menguatkan keyakinan perusahaan terhadap peluang bisnis berbasis ruang angkasa yang ditawarkan Satlyt.

Non Sibi menilai peluang Satlyt tidak sepenuhnya bergantung pada realisasi pusat data orbital berskala besar. Model pusat data seperti itu menghadapi ketidakpastian ekonomi dan hambatan peluncuran. Kent Lucas, mitra Non Sibi, mengatakan kepada TechCrunch, “Kami tidak membutuhkan pusat data di luar angkasa agar Rama bisa sangat sukses, bukan?” Menurutnya, pertumbuhan Satlyt dapat didorong oleh jumlah satelit yang diluncurkan.

Afullo berharap perangkat lunak Satlyt dapat digunakan pada 20 persen satelit pada akhir dekade ini. Ia memperkirakan pada saat itu hampir setiap pembuat wahana antariksa akan memasang GPU dan prosesor canggih serupa pada satelit mereka. “Jika Anda meluncurkan satelit tanpa memasang GPU, setidaknya Anda merugikan diri sendiri,” katanya.

Satlyt termasuk di antara puluhan startup yang diseleksi TechCrunch untuk tampil di Disrupt sebagai bagian dari kompetisi Battlefield. Acara tersebut berlangsung pada pekan yang sama di pusat kota San Francisco dan dimulai pada Selasa.