CIANJUR.CO – Berjalan kaki sering dianggap sebagai aktivitas ringan yang tidak membutuhkan banyak tenaga. Meski gerakannya tampak sederhana, tubuh harus mengatur langkah secara terus-menerus agar tetap seimbang dan mampu menyesuaikan diri dengan keadaan di sekitar. Proses tersebut membuat otak bekerja selama seseorang berjalan.
Seperti diberitakan detikJabar dengan mengutip Hindustan Times, dokter spesialis saraf di Rumah Sakit Yathart, India, dr Kunal Bahrani, menjelaskan bahwa otak menerima dan mengolah informasi dari mata, telinga, otot, hingga persendian secara bersamaan. Berbagai masukan itu digunakan untuk mengatur gerakan dan menentukan langkah berikutnya.
Otak bukan hanya mengarahkan kaki untuk bergerak. Organ ini juga perlu memperkirakan tempat kaki akan mendarat, mempertahankan keseimbangan, mengatur kecepatan, serta merespons perubahan yang terjadi di jalur. Dr Bahrani menggambarkan rangkaian kerja tersebut dengan mengatakan, “Otak Anda harus menilai di mana kaki Anda harus mendarat, menjaga keseimbangan, menyesuaikan kecepatan, dan bereaksi jika sesuatu tiba-tiba menghalangi jalan Anda.”
Dengan demikian, aktivitas berjalan melibatkan koordinasi antara informasi dari tubuh dan kondisi lingkungan. Setiap perubahan yang perlu ditanggapi membuat otak menyesuaikan gerakan, sementara keseimbangan dan kecepatan tetap perlu dijaga. Proses itu berlangsung di balik kegiatan sehari-hari yang kerap dinilai biasa saja.
Baca juga: Banjir Thailand Picu Ancaman Ular dan Buaya di Permukiman
Menurut dr Bahrani, kebiasaan berjalan kaki juga dapat meningkatkan kebugaran kardiovaskular dan membantu mengontrol tekanan darah, kadar gula darah, serta berat badan. Hal-hal tersebut berhubungan dengan kesehatan otak karena otak membutuhkan aliran darah yang sehat. Menjaga kondisi tersebut turut mendukung kesehatan pembuluh darah yang memasok darah ke otak.
Manfaat berjalan kaki yang dibahas karena itu tidak terbatas pada kerja otak saat mengatur langkah. Aktivitas ini juga berkaitan dengan kebugaran tubuh dan faktor-faktor yang mendukung aliran darah menuju otak. Dr Bahrani menyebut pengendalian tekanan darah, gula darah, dan berat badan sebagai bagian dari hubungan tersebut.
Dalam praktik klinis sehari-hari, dr Bahrani juga melihat pasien yang mengeluhkan kelelahan mental, kesulitan berkonsentrasi, atau merasa tidak setajam sebelumnya sering menjalani hari dengan sedikit sekali gerakan. Namun, ia tidak menyatakan kurang bergerak sebagai satu-satunya penyebab keluhan itu. Gejala tersebut dapat berkaitan dengan berbagai hal, termasuk kurang tidur, stres, pengobatan, atau kondisi medis yang mendasarinya.
Baca juga: Wanita 100 Tahun di Brooklyn Ceritakan Kebiasaan yang Menemaninya Panjang Umur
Ia menjelaskan bahwa bagi orang yang menghabiskan sebagian besar waktunya dengan duduk, meningkatkan aktivitas fisik merupakan salah satu perubahan praktis yang patut dipertimbangkan. Pandangan itu disampaikan berdasarkan pola rutinitas yang ia dengar dari pasien, sembari tetap mengakui bahwa keluhan mental dapat memiliki penyebab yang beragam.
Aktivitas fisik juga disebut berkaitan dengan fungsi kognitif. Berjalan kaki dapat mendukung kemampuan yang digunakan untuk merencanakan, mengatur, mengambil keputusan, serta menghadapi beberapa tuntutan yang muncul secara bersamaan. Dengan kata lain, pembahasan manfaatnya tidak hanya menyentuh kebugaran, tetapi juga sejumlah kemampuan yang diperlukan dalam kegiatan sehari-hari.
Daya ingat menjadi aspek lain yang dijelaskan dr Bahrani. Aktivitas fisik berkaitan dengan perubahan fungsi otak dan area yang berperan dalam belajar serta mengingat, termasuk hipokampus. Meski demikian, hubungan berjalan kaki dengan ingatan tidak berarti semakin banyak seseorang berjalan, otomatis semakin baik kemampuan mengingatnya.
Baca juga: Dua Nelayan Hilang akibat Kapal Terbalik di Pamoekan Ditemukan Meninggal
“Hubungannya tidak sesederhana ‘semakin banyak berjalan kaki berarti semakin baik daya ingat’,” ujar dr Bahrani. Ia menyebut menjaga aktivitas fisik semakin diakui sebagai salah satu bagian dalam memelihara kesehatan otak seiring bertambahnya usia. Karena itu, keterkaitan tersebut perlu dipahami sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan otak, bukan jaminan hasil tertentu pada daya ingat.
Berjalan kaki juga dapat memberi manfaat secara tidak langsung dengan membantu seseorang mengelola stres dan meningkatkan kualitas tidur. Kedua hal itu turut berperan dalam menjaga kemampuan berkonsentrasi. Hubungan ini melengkapi manfaat yang berkaitan dengan kebugaran dan fungsi kognitif, tanpa menghilangkan kemungkinan adanya faktor lain yang memengaruhi kondisi seseorang.
Bagi lansia, kebiasaan berjalan kaki secara rutin dengan memperhatikan keamanan dapat membantu mempertahankan mobilitas dan kemandirian dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Dengan demikian, berjalan kaki dalam materi yang disampaikan dr Bahrani mencakup kerja otak saat bergerak, dukungan bagi kebugaran dan fungsi kognitif, serta upaya menjaga kemampuan lansia untuk tetap bergerak mandiri.





