• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak Kami
Blog Informasi Terkini Cianjur.Co
  • CIANJUR.CO
  • HOME
  • Berita
  • Travel
  • Kuliner
  • Sosok
No Result
View All Result
  • CIANJUR.CO
  • HOME
  • Berita
  • Travel
  • Kuliner
  • Sosok
No Result
View All Result
Blog Informasi Terkini Cianjur.Co
No Result
View All Result
Home Berita

Sunda Kelapa dalam Catatan Portugis dan Itinerario 1596: Jejak Pelabuhan Tua yang Menghubungkan dengan Dunia Internasional

cianjurblog by cianjurblog
September 13, 2026
in Berita, Sejarah
0
Sunda Kelapa dalam catatan Portugis dan Buku Itinerario

Sunda Kelapa dalam catatan Portugis dan Buku Itinerario. Foto: Ilustrasi

0
SHARES
7
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

CIANJUR.CO – Jauh sebelum Jakarta dikenal sebagai metropolitan dengan gedung-gedung pencakar langit, jaringan jalan yang padat, serta aktivitas ekonomi yang nyaris tidak pernah berhenti, kawasan di sekitar muara Sungai Ciliwung telah memainkan peran penting dalam lalu lintas perdagangan Nusantara. Wilayah tersebut dahulu dikenal dengan nama Sunda Kelapa, sebuah bandar yang menjadi salah satu pintu utama Kerajaan Sunda menuju dunia luar.

Letaknya yang strategis di pesisir utara Jawa membuat Sunda Kelapa tidak sekadar berfungsi sebagai tempat kapal berlabuh. Pelabuhan ini menjadi ruang perjumpaan berbagai bangsa, komoditas, bahasa, kebudayaan, serta kepentingan politik. Kapal-kapal dari berbagai kawasan Asia datang membawa barang dagangan sekaligus membawa berita tentang perubahan dunia.

Memasuki abad ke-16, arti penting Sunda Kelapa semakin kentara. Kedatangan Portugis ke wilayah tersebut membuka babak baru dalam sejarah hubungan antara kerajaan-kerajaan Nusantara dengan bangsa Eropa. Portugis tidak hanya melihat Sunda Kelapa sebagai bandar perdagangan, tetapi juga sebagai simpul strategis dalam jaringan pelayaran yang menghubungkan Malaka, Jawa, Kepulauan Maluku, India, hingga Eropa.

Salah satu catatan penting tentang dunia Asia pada masa itu berasal dari tradisi penulisan perjalanan Eropa. Di antara karya yang kemudian menjadi sangat berpengaruh adalah Itinerario yang diterbitkan pada 1596 oleh Jan Huygen van Linschoten.

Menariknya, Buku Itinerario sering kali dikaitkan dengan informasi Portugis karena sebagian besar pengetahuan yang terkandung di dalamnya bersumber dari lingkungan Portugis di Asia. Namun, secara historis, penulisnya bukan orang Portugis. Linschoten merupakan orang Belanda yang tinggal selama bertahun-tahun di Goa dan memperoleh berbagai informasi mengenai wilayah-wilayah Asia dari sumber Portugis. Universitas Utrecht bahkan menyebut karya tersebut sebagai salah satu kunci penting yang kemudian membantu membuka pengetahuan mengenai dunia Timur bagi bangsa Belanda.

Dari sinilah sejarah Sunda Kelapa dapat dibaca dalam perspektif yang lebih luas: bukan semata-mata sebagai sejarah sebuah pelabuhan, melainkan sebagai bagian dari perubahan geopolitik perdagangan dunia.

Baca juga: Teori Out of Sundaland oleh Stephen Oppenheimer: Asal Usul Peradaban Dunia dari Nusantara

Sunda Kelapa, Bandar Penting di Pesisir Utara Pulau Jawa

Pada masa Kerajaan Sunda, Sunda Kelapa merupakan salah satu pelabuhan terpenting yang berada di wilayah kekuasaan kerajaan tersebut. Sumber-sumber sejarah yang berasal dari berbagai tradisi memperlihatkan bahwa bandar ini telah dikenal jauh sebelum kedatangan bangsa Portugis.

Catatan dari dunia Tiongkok, misalnya, memperlihatkan bahwa kawasan pelabuhan di wilayah Sunda telah dikenal oleh para penulis asing berabad-abad sebelumnya. Sumber yang dikaitkan dengan Chou Ku-fei pada 1178 juga menggambarkan keberadaan pelabuhan Kerajaan Sunda dan kondisi masyarakat di sekitarnya. Catatan tersebut menunjukkan bahwa kawasan pesisir Sunda telah menjadi bagian dari jaringan perdagangan regional jauh sebelum bangsa Eropa tiba di Asia Tenggara.

Sunda Kelapa, Bandar Penting di Pesisir Utara Pulau Jawa
Sunda Kelapa, Bandar Penting di Pesisir Utara Pulau Jawa. Foto: Ilustrasi

Ketika memasuki abad ke-16, posisi Sunda Kelapa semakin strategis. Pelabuhan ini terhubung dengan berbagai kawasan perdagangan di Nusantara. Komoditas seperti lada, beras, hasil pertanian, bahan pangan, serta berbagai produk lainnya bergerak melalui bandar tersebut.

Pentingnya Sunda Kelapa juga tidak dapat dilepaskan dari kondisi geografisnya. Pelabuhan yang berada di sekitar muara Ciliwung memberikan akses menuju wilayah pedalaman Kerajaan Sunda. Dengan demikian, bandar tersebut menjadi semacam titik temu antara aktivitas ekonomi pesisir dan produksi agraris di pedalaman.

Kondisi inilah yang kemudian menarik perhatian para pelaut Eropa.

Kedatangan Portugis pada 1513

Bangsa Portugis merupakan salah satu bangsa Eropa paling awal yang memasuki jaringan perdagangan Asia Tenggara setelah berhasil menguasai Malaka pada 1511. Penguasaan terhadap Malaka memberikan Portugis pijakan strategis untuk mengembangkan jaringan pelayaran menuju kawasan penghasil rempah dan komoditas bernilai tinggi.

Tidak lama setelah itu, pelayaran Portugis mulai menjangkau pantai utara Jawa.

Kedatangan Portugis pada 1513 di Sunda Kelapa
Kedatangan Portugis pada 1513 di Sunda Kelapa. Foto: Ilustrasi

Pada 1513, armada Portugis tiba di Sunda Kelapa. Dalam berbagai catatan sejarah, ekspedisi tersebut dikaitkan dengan empat kapal yang dipimpin de Alvin. Di antara orang yang memiliki hubungan dengan ekspedisi dan kemudian memberikan gambaran berharga mengenai kawasan ini adalah Tomé Pires.

Pires merupakan tokoh penting dalam sejarah dokumentasi perdagangan Asia pada awal abad ke-16. Karyanya, Suma Oriental, menjadi salah satu sumber primer penting untuk memahami kondisi perdagangan di Asia Tenggara pada periode tersebut.

Catatan Pires memperlihatkan betapa strategisnya Sunda Kelapa.

Ia menggambarkan Kalapa sebagai salah satu pelabuhan utama Kerajaan Sunda yang memiliki kondisi perairan baik dan aktivitas perdagangan yang sangat ramai. Kapal dari berbagai wilayah datang dan pergi melalui bandar tersebut. Sumber-sumber mengenai laporan Pires menyebut hubungan perdagangan Sunda Kelapa dengan Sumatra, Malaka, Jawa, Madura, Palembang, Tanjungpura, Makassar dan wilayah lainnya.

Gambaran tersebut memberikan satu kesimpulan penting: Sunda Kelapa bukan pelabuhan lokal yang hanya melayani kebutuhan masyarakat sekitar.

Ia merupakan bagian dari jaringan perdagangan maritim yang memiliki cakupan sangat luas.

Tomé Pires dan Gambaran Kota Pelabuhan Kalapa

Salah satu keistimewaan catatan Tomé Pires adalah kemampuannya memberikan gambaran tentang kondisi sosial-ekonomi sebuah wilayah, bukan hanya nama pelabuhan dan komoditas.

Dalam catatannya, Pires menyebut Kerajaan Sunda memiliki sejumlah pelabuhan. Beberapa nama yang muncul dalam transkripsi Portugis antara lain Bantam untuk Banten, Pomdam untuk Pontang, Chegujde untuk Cigede, Tamgaram untuk Tangerang, Calapa untuk Kalapa, dan Chemano untuk Cimanuk.

Di antara bandar-bandar tersebut, Kalapa digambarkan sebagai salah satu yang paling penting.

Posisi tersebut berkaitan dengan beberapa faktor. Pertama adalah kondisi geografisnya. Kedua adalah akses menuju wilayah pedalaman. Ketiga adalah intensitas perdagangan. Keempat adalah keberadaan jaringan pelayaran yang menghubungkan Sunda dengan berbagai wilayah lain di Nusantara.

Bagi pedagang, pelabuhan semacam itu memiliki nilai strategis karena memungkinkan barang dari pedalaman dikumpulkan sebelum dikirim ke wilayah lain. Sebaliknya, barang dari luar dapat dibawa masuk untuk didistribusikan ke daerah-daerah pedalaman.

Dengan demikian, Sunda Kelapa memiliki fungsi ekonomi yang menyerupai pusat distribusi.

Dari Sunda Kelapa Menuju Ibu Kota Kerajaan Sunda

Hal menarik lain dari laporan Tomé Pires adalah keterangannya mengenai pusat pemerintahan Kerajaan Sunda.

Menurut Pires, raja Sunda tidak tinggal di kawasan pelabuhan, melainkan di sebuah kota yang disebut Dayo atau Dayeuh (sebutan orang sunda). Dari pelabuhan Kalapa menuju pusat kerajaan tersebut diperlukan perjalanan sekitar dua hari.

Informasi ini memperlihatkan adanya hubungan erat antara kota pelabuhan dan pusat pemerintahan.

Sunda Kelapa dapat dipandang sebagai wajah maritim Kerajaan Sunda. Sementara itu, pusat pemerintahan berada di wilayah pedalaman.

Pola semacam ini bukan sesuatu yang aneh dalam sejarah kerajaan-kerajaan Nusantara. Pelabuhan sering kali berfungsi sebagai gerbang ekonomi, sedangkan pusat kekuasaan berada lebih jauh dari pantai untuk kepentingan politik, keamanan, maupun pengelolaan wilayah.

Karena itu, kemajuan Sunda Kelapa tidak dapat dipisahkan dari kemampuan Kerajaan Sunda mengelola jaringan perdagangan dan sumber daya agrarisnya.

Lada dan Daya Tarik Sunda Kelapa bagi Portugis

Salah satu komoditas yang menjadikan kawasan Sunda begitu menarik bagi Portugis adalah lada.

Pada abad ke-16, lada bukan sekadar bumbu dapur. Di pasar internasional, komoditas ini memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Penguasaan terhadap jalur perdagangan lada menjadi salah satu alasan bangsa-bangsa Eropa berlomba mendapatkan akses langsung ke pusat-pusat produksinya.

Portugis telah memahami pentingnya jaringan tersebut setelah menguasai Malaka. Namun, penguasaan Malaka tidak secara otomatis membuat mereka mengendalikan seluruh perdagangan Nusantara.

Sunda Kelapa dan Banten tetap menjadi simpul penting yang berada di luar kendali penuh Portugis.

Hubungan dengan Kerajaan Sunda kemudian menjadi semakin strategis.

Bagi Portugis, kerja sama dengan penguasa Sunda dapat membuka akses terhadap lada dan perdagangan di pesisir barat Jawa. Bagi Kerajaan Sunda, hubungan dengan Portugis dapat menjadi instrumen diplomatik sekaligus ekonomi di tengah meningkatnya kekuatan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa.

Dengan kata lain, hubungan Sunda-Portugis tidak lahir hanya karena kepentingan dagang.

Di baliknya terdapat kalkulasi geopolitik yang jauh lebih kompleks.

Perjanjian Sunda Kelapa 21 Agustus 1522

Beberapa tahun setelah kedatangan awal Portugis, hubungan kedua pihak berkembang menjadi diplomasi formal.

Pada 1522, rombongan Portugis yang dipimpin Henrique Leme datang ke wilayah Kerajaan Sunda. Ia membawa misi untuk membangun hubungan lebih erat dengan penguasa Sunda.

Dalam berbagai sumber, raja Sunda ketika itu dikenal dengan sejumlah bentuk nama yang berbeda akibat proses transliterasi dari bahasa Sunda ke bahasa Portugis. Tokoh tersebut adalah Prabu Surawisesa, yang memerintah Kerajaan Sunda pada 1521–1535.

Pada 21 Agustus 1522 tercapai sebuah perjanjian antara Kerajaan Sunda dan Portugis.

Perjanjian tersebut sering disebut Perjanjian Sunda-Portugis atau Perjanjian Sunda Kelapa.

Isi kesepakatannya berkaitan dengan hubungan persahabatan, perdagangan, serta izin bagi Portugis untuk mendirikan fasilitas perdagangan dan pertahanan di kawasan Sunda Kelapa. Sumber Museum Nasional menyebut bahwa Portugis mendapatkan izin mendirikan kantor dagang berupa benteng di wilayah Kalapa.

Sementara itu, sejumlah sumber sejarah mencatat adanya komitmen Kerajaan Sunda untuk memasok lada dalam jumlah besar kepada Portugis.

Dalam konteks sejarah perdagangan dunia, perjanjian ini sangat penting.

Ia memperlihatkan bahwa kerajaan Nusantara bukan sekadar objek pasif dalam ekspansi Eropa. Penguasa lokal melakukan kalkulasi sendiri, memilih mitra dagang, serta memanfaatkan hubungan internasional untuk kepentingan politik dan ekonomi kerajaan.

Batu Padrao, Monumen Diplomasi Sunda dan Portugis

Salah satu peninggalan paling menarik dari hubungan tersebut adalah padrao.

Dalam tradisi Portugis, padrao merupakan batu penanda yang digunakan untuk memperingati klaim, perjalanan, atau peristiwa penting dalam ekspansi maritim mereka.

Dalam kasus Sunda Kelapa, batu tersebut menjadi simbol hubungan diplomatik antara Portugis dan Kerajaan Sunda.

Museum Nasional mencatat bahwa batu padrao yang berkaitan dengan perjanjian 1522 kemudian ditemukan kembali pada 1918 di kawasan Jalan Cengkeh, Jakarta. Batu tersebut terbuat dari andesit dengan tinggi sekitar 198 sentimeter dan lebar sekitar 67,5 sentimeter.

Penemuan kembali batu tersebut memiliki arti penting karena memberikan bukti material mengenai hubungan diplomatik antara dua kekuatan yang berbeda dunia.

Di satu sisi terdapat kerajaan lokal dengan sistem politik dan kebudayaannya sendiri. Di sisi lain terdapat kekuatan maritim Eropa yang tengah memperluas jaringan perdagangan hingga Asia.

Batu itu menjadi saksi bisu sebuah masa ketika perdagangan, diplomasi dan ekspansi maritim bertemu di muara Ciliwung.

Mengapa Perjanjian Itu Sangat Penting?

Perjanjian 1522 harus dipahami dalam konteks geopolitik Jawa pada awal abad ke-16.

Pada periode tersebut, Kerajaan Sunda menghadapi perubahan besar dalam lanskap politik regional. Banten dan Cirebon mengalami perkembangan kekuatan Islam yang semakin signifikan, sementara Kesultanan Demak juga memiliki pengaruh besar di Jawa.

  • Kerajaan Sunda membutuhkan mitra.
  • Portugis membutuhkan akses perdagangan.
  • Kepentingan keduanya kemudian bertemu.

Bagi Sunda, Portugis dapat menjadi sekutu potensial dalam menghadapi tekanan politik. Bagi Portugis, Sunda menawarkan akses kepada perdagangan lada serta posisi strategis di pesisir Jawa.

Namun, aliansi tersebut tidak pernah berkembang sebagaimana yang direncanakan.

Portugis menghadapi berbagai persoalan di wilayah kekuasaannya. Rencana pembangunan benteng di Sunda Kelapa tidak berjalan sesuai harapan. Pada saat yang sama, kekuatan politik yang menentang kehadiran Portugis bergerak semakin agresif.

Akhirnya, sejarah mengambil arah berbeda.

Jatuhnya Sunda Kelapa pada 1527

Pada 1527, Sunda Kelapa direbut oleh pasukan yang dipimpin Fatahillah atau Falatehan.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencatat bahwa serangan terhadap Sunda Kelapa terjadi pada 22 Juni 1527 dan sejak saat itu nama Sunda Kelapa diganti menjadi Jayakarta. Tanggal tersebut kemudian digunakan sebagai hari jadi Jakarta.

Namun, perlu dicatat bahwa historiografi mengenai tanggal persis perebutan Sunda Kelapa tidak sepenuhnya tunggal. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jakarta juga mencatat adanya pandangan sejarah lain yang menempatkan peristiwa tersebut pada akhir Desember 1526.

Perubahan kekuasaan tersebut secara praktis mengakhiri rencana Portugis untuk membangun benteng di Sunda Kelapa.

Sebuah kesepakatan diplomatik yang dibangun beberapa tahun sebelumnya akhirnya tidak dapat diwujudkan secara penuh.

Sunda Kelapa kemudian memasuki fase baru dalam sejarahnya.

Namanya berubah menjadi Jayakarta.

Dan beberapa dekade kemudian, kota tersebut kembali mengalami perubahan fundamental ketika VOC mengambil alih wilayah Jayakarta dan membangun Batavia.

Lalu, Apa Hubungannya dengan Itinerario 1596?

Di sinilah bagian sejarah yang menarik.

Jika Perjanjian Sunda-Portugis terjadi pada 1522 dan Sunda Kelapa berubah menjadi Jayakarta pada 1527, mengapa nama Sunda Kelapa masih muncul dalam literatur Eropa pada akhir abad ke-16?

Jawabannya berkaitan dengan warisan pengetahuan geografis dan navigasi.

Buku Itinerario diterbitkan pada 1596, hampir tujuh dekade setelah perubahan nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta.

Karya ini ditulis oleh Jan Huygen van Linschoten, seorang Belanda yang tinggal di Goa selama kurang lebih lima tahun. Goa ketika itu merupakan pusat penting Portugis di Asia. Linschoten memiliki kesempatan mengamati langsung aktivitas perdagangan, pelayaran, masyarakat, dan administrasi Portugis.

Dengan demikian, Itinerario bukanlah buku yang ditulis oleh seorang Portugis. Namun, karya tersebut sangat erat dengan pengetahuan Portugis.

Linschoten memperoleh berbagai informasi dari sumber-sumber Portugis, termasuk dokumen dan pengetahuan pelayaran yang sebelumnya dijaga sebagai rahasia. Universitas Utrecht menjelaskan bahwa bagian navigasi dalam karya tersebut memuat informasi yang berasal dari berbagai sumber, sebagian besar Spanyol dan Portugis.

Inilah yang membuat Itinerario sangat berharga bagi sejarah Asia Tenggara.

Itinerario: Buku yang Membuka Rahasia Dunia Timur

Judul lengkap karya Linschoten sangat panjang karena mengikuti tradisi penulisan buku abad ke-16. Secara umum, buku tersebut merupakan catatan perjalanan menuju wilayah Portugis di Timur sekaligus uraian mengenai negeri-negeri, pesisir, pelabuhan, perdagangan, masyarakat, dan komoditas yang dijumpai.

Edisi 1596 diterbitkan di Amsterdam oleh Cornelis Claesz dan menggunakan bahasa Belanda. Karya tersebut bukan sekadar buku perjalanan. Ia juga merupakan semacam ensiklopedia geografis dan ekonomi mengenai dunia Timur.

Pembaca Eropa dapat memperoleh informasi mengenai pelabuhan, jalur pelayaran, komoditas, harga, kondisi politik, masyarakat, hingga kelemahan jaringan Portugis di Asia.

Hal yang lebih penting lagi, karya ini kemudian memberikan keuntungan strategis bagi bangsa Belanda.

Pengetahuan mengenai jalur pelayaran dan perdagangan yang sebelumnya berada di bawah monopoli Portugis menjadi lebih mudah diakses oleh pesaing Eropa.

Universitas Utrecht bahkan menjelaskan bahwa bagian navigasi Reys-geschrift diterbitkan lebih awal pada 1595 sehingga dapat dibawa dalam ekspedisi Belanda pertama menuju Indonesia yang dipimpin Cornelis de Houtman.

Artinya, Itinerario bukan hanya buku.

Ia merupakan salah satu instrumen intelektual yang membantu mengubah peta kekuatan perdagangan Asia.

Sunda Kelapa dalam Perspektif Itinerario

Ketika membaca kemunculan nama-nama pelabuhan dalam tradisi pengetahuan Portugis yang kemudian diteruskan melalui Itinerario, kita harus memahami bahwa istilah geografis pada abad ke-16 tidak selalu mengikuti nomenklatur modern.

Nama sebuah kota atau pelabuhan dapat berubah. Nama tersebut juga dapat ditulis berbeda berdasarkan bahasa penulis.

Kalapa dapat muncul sebagai Calapa, Calapa atau bentuk transliterasi lainnya. Demikian pula nama wilayah Jawa, Banten, Cirebon, Jepara dan berbagai bandar lain memiliki variasi ejaan dalam dokumen Eropa.

Dalam konteks tersebut, penyebutan Simda Calapa atau bentuk serupa perlu dibaca sebagai bagian dari tradisi transliterasi Eropa terhadap nama-nama lokal, bukan langsung dianggap sebagai bentuk ejaan modern.

Itinerario sendiri menggunakan pengetahuan geografis yang dikumpulkan dari dunia Portugis. Sumber tersebut mencakup wilayah yang pada masa itu masih relatif asing bagi pembaca Eropa.

Linschoten menggabungkan pengalaman perjalanan, informasi yang diperoleh di Goa, bahan tertulis, serta pengetahuan pelaut.

Karena itulah, karya tersebut memiliki nilai besar dalam studi sejarah maritim.

Sunda Mayor dan Sunda Minor

Pandangan geografis Eropa pada masa itu juga memperlihatkan bagaimana para penulis asing mengklasifikasikan kepulauan Asia Tenggara.

Dalam sejumlah tradisi kartografi dan penulisan perjalanan Eropa, Sunda ditempatkan sebagai salah satu pulau utama di kawasan tersebut.

Istilah Sunda Major digunakan untuk membedakan Sunda dari wilayah yang disebut Sunda Minor.

Baca juga: Asal-Usul Istilah Sunda Besar dan Sunda Kecil Dalam Peta Sejarah Internasional

Pembagian semacam ini menunjukkan bahwa para pelaut Eropa berusaha memahami dunia kepulauan berdasarkan informasi navigasi yang mereka peroleh.

Dalam konteks catatan tentang pelabuhan, Sunda Kelapa ditempatkan dalam jaringan kota pelabuhan di Jawa bersama Banten, Cirebon dan Jepara.

Hal ini memperkuat gambaran bahwa wilayah Sunda pada masa tersebut tidak merupakan ruang ekonomi yang terisolasi.

Sebaliknya, pulau ini terhubung erat dengan jalur perdagangan internasional.

Pelabuhan yang Menjadi Titik Pertemuan Banyak Bangsa

Sunda Kelapa berkembang karena memiliki hubungan dengan jaringan pelabuhan yang jauh lebih luas.

Pedagang dari Sumatra datang membawa barang dari wilayah barat Nusantara. Kapal dari Malaka membawa komoditas dan informasi dari jaringan perdagangan Semenanjung Melayu. Pedagang Jawa dan Madura berhubungan dengan pelabuhan tersebut melalui jalur pesisir.

Sementara itu, hubungan dengan wilayah Indonesia bagian timur juga memperluas cakrawala perdagangan.

Kondisi semacam ini menjadikan pelabuhan sebagai ruang multikultural.

Di pelabuhan, bahasa bertemu dengan bahasa lain. Mata uang, sistem timbangan, jenis kapal, komoditas dan kebiasaan dagang saling berinteraksi.

Sunda Kelapa dengan demikian dapat dipahami sebagai salah satu embrio kota kosmopolitan di wilayah yang kelak berkembang menjadi Jakarta.

Gambaran Kehidupan Masyarakat Sunda Kelapa

Catatan asing juga memberikan gambaran mengenai kehidupan masyarakat di sekitar pelabuhan.

Keterangan yang dikaitkan dengan sumber-sumber Tiongkok menggambarkan masyarakat yang tinggal di sekitar jalur sungai dan pesisir, dengan kehidupan yang sangat berkaitan dengan pertanian.

Rumah-rumah tradisional menggunakan material lokal seperti kayu, papan, daun rumbia dan bahan-bahan organik lainnya. Struktur bangunan menyesuaikan dengan kondisi lingkungan tropis.

Gambaran semacam ini memperlihatkan kontras menarik.

Di satu sisi terdapat pelabuhan yang ramai oleh aktivitas perdagangan internasional. Di sisi lain, kehidupan masyarakat lokal tetap bertumpu pada pertanian, sungai, dan sumber daya alam.

Inilah karakter kota pelabuhan Nusantara pada masa lalu.

Modernitas perdagangan internasional tidak serta-merta menghapus struktur masyarakat agraris.

Keduanya hidup berdampingan.

Sungai Ciliwung sebagai Urat Nadi

Dalam memahami sejarah Sunda Kelapa, Sungai Ciliwung memiliki posisi yang sangat penting.

Pelabuhan tidak berdiri sebagai entitas terpisah dari wilayah pedalaman. Sungai menjadi jalur penghubung yang memungkinkan aktivitas manusia dan barang bergerak dari wilayah darat menuju pesisir.

Muara sungai menyediakan akses bagi kapal, sementara kawasan di sepanjang aliran sungai menopang aktivitas penduduk.

Karena itu, sejarah Sunda Kelapa sebenarnya merupakan sejarah tentang hubungan antara sungai, pelabuhan, pertanian, perdagangan dan kekuasaan.

Ciliwung bukan sekadar unsur geografis.

Ia merupakan salah satu faktor yang membantu membentuk pertumbuhan kota.

Bahkan ketika Jakarta telah berubah menjadi metropolis modern, jejak hubungan antara kota dan sungai tersebut masih dapat ditelusuri.

Mengapa Sunda Kelapa Begitu Diperebutkan?

Jika seluruh informasi tersebut disatukan, alasan perebutan Sunda Kelapa menjadi lebih mudah dipahami.

Pelabuhan tersebut memiliki setidaknya empat nilai strategis.

1. Nilai geografis.

Posisinya di pantai utara Jawa membuat Sunda Kelapa menjadi titik penting dalam pelayaran menuju wilayah barat dan timur Nusantara.

2. Nilai ekonomi.

Perdagangan lada, beras, hasil pertanian dan komoditas lainnya membuat bandar tersebut memiliki nilai komersial tinggi.

3. Nilai politik.

Sunda Kelapa merupakan pelabuhan utama Kerajaan Sunda dan karenanya memiliki hubungan langsung dengan kekuasaan kerajaan.

4. Nilai geopolitik.

Siapa pun yang mampu mengendalikan bandar tersebut memiliki peluang untuk memengaruhi lalu lintas perdagangan di kawasan barat Pulau Jawa.

Karena itu, kedatangan Portugis bukan sekadar kedatangan pedagang asing.

Kehadiran mereka memiliki konsekuensi politik.

Dari Sunda Kelapa ke Jayakarta, Batavia, hingga Jakarta

Perubahan nama kota menunjukkan betapa dinamisnya sejarah kawasan tersebut.

Pada masa Kerajaan Sunda, wilayah tersebut dikenal sebagai Sunda Kelapa atau Kalapa.

Pada 1527, setelah direbut Fatahillah, kawasan itu dikenal sebagai Jayakarta. Pemerintah Jakarta mencatat perubahan tersebut sebagai salah satu tonggak penting sejarah kota.

Kemudian, ketika VOC mengambil alih Jayakarta, kota tersebut berkembang menjadi Batavia.

Setelah masa kolonial berakhir, nama Jakarta kembali digunakan. Perubahan nama tersebut bukan sekadar pergantian istilah administratif. Setiap nama merepresentasikan sebuah rezim politik dan periode sejarah yang berbeda.

  • Sunda Kelapa merepresentasikan dunia Kerajaan Sunda dan jaringan perdagangan pesisirnya.
  • Jayakarta menandai perubahan kekuasaan pada awal abad ke-16.
  • Batavia merepresentasikan dominasi kolonial Belanda.
  • Sedangkan Jakarta menjadi simbol negara Indonesia modern.

Namun, semuanya berdiri di atas ruang geografis yang sama.

Baca juga: Naskah Sunda Kuno “Sang Hyang Siksa Kandang Karesian” Masuk Dalam Daftar Perlindungan UNESCO

Itinerario dan Awal Mula Dominasi Belanda

Ada ironi besar dalam sejarah Itinerario.

Buku tersebut lahir dari pengetahuan yang diperoleh Linschoten ketika berada di lingkungan Portugis.

Tetapi informasi yang dibawanya kemudian membantu pesaing Portugis, terutama Belanda, memasuki dunia perdagangan Asia.

Universitas Utrecht mencatat bahwa pengetahuan dalam Itinerario membantu membuka informasi tentang jalur pelayaran menuju Asia dan wilayah kepulauan Indonesia.

Tidak lama kemudian, Belanda membangun kekuatan dagangnya sendiri.

VOC didirikan pada 1602.

Dalam beberapa dekade berikutnya, kekuatan Belanda berkembang pesat di Nusantara.

Dengan demikian, sejarah sebuah buku perjalanan ternyata memiliki hubungan dengan perubahan besar dalam geopolitik dunia.

Informasi geografis dapat menjadi kekuatan.

Peta dapat menjadi instrumen politik.

Dan pengetahuan mengenai pelabuhan dapat menentukan arah ekspansi ekonomi.

Membaca Ulang Sunda Kelapa dari Perspektif Global

Sejarah Sunda Kelapa sering kali diceritakan hanya sebagai bagian dari sejarah Jakarta.

Padahal jika dibaca dari catatan Portugis, laporan Tomé Pires, sumber Tiongkok, serta karya seperti Itinerario, cakrawala sejarahnya jauh lebih luas.

Sunda Kelapa merupakan bagian dari jaringan perdagangan yang melibatkan Asia Selatan, Asia Tenggara, Tiongkok, Timur Tengah hingga Eropa.

Para pelaut yang tiba di bandar tersebut membawa bukan hanya barang dagangan.

  • Mereka membawa pengetahuan.
  • Mereka membawa agama.
  • Mereka membawa bahasa.
  • Mereka membawa teknologi.

Dan dalam beberapa kasus, mereka juga membawa ambisi politik.

Karena itu, pelabuhan harus dipahami sebagai ruang pertukaran peradaban.

Baca juga: Sunda Wiwitan Sudah Lama Ada Sebelum Masuknya Hindu-Buddha di Nusantara

Catatan Sejarah yang Tidak Boleh Disederhanakan

Satu hal yang penting dalam membaca sejarah Sunda Kelapa adalah menghindari penyederhanaan.

Misalnya, menyebut Itinerario sebagai “buku orang Portugis” kurang tepat secara akademis.

Penulisnya adalah Jan Huygen van Linschoten, orang Belanda. Buku tersebut diterbitkan di Amsterdam pada 1596 dalam bahasa Belanda.

Namun, menyebutnya sepenuhnya sebagai karya yang tidak berkaitan dengan Portugis juga tidak tepat.

Sebagian besar pengetahuan penting yang diperoleh Linschoten berasal dari pengalamannya di Goa dan sumber-sumber Portugis. Ia bahkan memperoleh informasi navigasi yang sebelumnya dijaga ketat oleh Portugis.

Karena itu, posisi Itinerario yang paling tepat adalah sebagai karya Belanda yang mendokumentasikan dan membocorkan pengetahuan dunia Timur yang sebagian besar berasal dari lingkungan Portugis.

Koreksi kecil ini penting karena membantu pembaca memahami bagaimana pengetahuan sejarah berpindah dari satu bangsa ke bangsa lainnya.

Warisan Sunda Kelapa bagi Jakarta Modern

Hari ini, kawasan Sunda Kelapa masih menjadi salah satu ruang bersejarah penting di Jakarta.

Di tengah perkembangan kota metropolitan, kawasan tersebut menyimpan jejak masa ketika kapal layar menjadi alat utama perdagangan antarpulau.

Pelabuhan Sunda Kelapa mengingatkan bahwa Jakarta bukanlah kota yang muncul secara tiba-tiba pada era modern.

Fondasinya terbentuk melalui proses panjang.

  • Ada kerajaan yang mengembangkan pelabuhan.
  • Ada pedagang yang menghubungkan wilayah pesisir dengan pedalaman.
  • Ada pelaut Asia yang datang membawa komoditas.
  • Ada Portugis yang mencari jalur perdagangan dan lada.
  • Ada Belanda yang memanfaatkan informasi navigasi dan membangun kekuatan kolonial.

Semua lapisan sejarah tersebut kemudian membentuk kota yang sekarang dikenal sebagai Jakarta.

Sunda kelapa dan Kelahiran Jakarta

Sejarah Sunda Kelapa merupakan salah satu fragmen paling penting untuk memahami lahirnya Jakarta sebagai kota perdagangan internasional.

Jauh sebelum menjadi pusat pemerintahan dan ekonomi Indonesia, kawasan ini telah berfungsi sebagai bandar penting Kerajaan Sunda. Catatan Tomé Pires pada awal abad ke-16 menggambarkan Kalapa sebagai pelabuhan yang ramai, tertata, dan memiliki hubungan dagang dengan berbagai kawasan di Nusantara.

Kedatangan Portugis pada 1513 kemudian memperkenalkan babak baru.

Hubungan dagang berkembang menjadi diplomasi, hingga lahir Perjanjian Sunda-Portugis pada 21 Agustus 1522. Kehadiran padrao menjadi bukti material dari hubungan tersebut dan kini menjadi salah satu artefak penting yang disimpan Museum Nasional.

Namun, perjanjian itu tidak mampu mengubah arah sejarah. Pada 1527, Sunda Kelapa jatuh ke tangan Fatahillah dan kemudian dikenal sebagai Jayakarta.

Beberapa dekade setelah perubahan tersebut, dunia Eropa kembali memperoleh informasi mengenai kawasan Asia melalui Itinerario.

Karya yang terbit pada 1596 itu memiliki kedudukan istimewa. Ia bukan karya Portugis, melainkan karya Jan Huygen van Linschoten, seorang Belanda yang memperoleh banyak pengetahuan dari lingkungan Portugis di Goa. Informasi yang dihimpunnya kemudian membantu membuka akses bangsa Belanda terhadap jalur perdagangan dan pelayaran Asia.

Dengan demikian, kisah Sunda Kelapa tidak hanya berbicara tentang sebuah pelabuhan tua.

Ia merupakan kisah tentang perdagangan, diplomasi, navigasi, persaingan kerajaan, ekspansi Eropa, pertukaran pengetahuan, serta perubahan kekuasaan.

Di muara Ciliwung, sejarah lokal dan sejarah dunia pernah bertemu.

Dan dari bandar yang dahulu disebut Sunda Kelapa itulah, salah satu bab terpanjang perjalanan Jakarta sebagai kota dunia mulai terbentuk.

Tags: CiliwungHenrique LemeItinerarioItinerario 1596Jan Huygen van LinschotenJawa abad ke-16JayakartaKalapaKerajaan SundaPadrao Sunda KelapaPajajaranPakuan Pajajaranpelabuhan internasionalpelabuhan kuno Jawapelabuhan Sunda Kelapaperdagangan ladaperdagangan Sunda KelapaPerjanjian Sunda KelapaPerjanjian Sunda PortugisPortugis Sunda KelapaPrasasti PadraoRaja Surawisesasejarah Bataviasejarah Jakartasejarah Jakarta tempo dulusejarah Portugis di Indonesiasejarah Sunda Kelapasunda besarsunda kecilSunda KelapaSunda kelapa dan Kelahiran JakartaSungai CiliwungTom PiresWarisan Sunda Kelapa bagi Jakarta Modern
Previous Post

Mengenal HAARP, Teknologi Amerika yang Ramai Dituduh Jika Ada Bencana Alam

CIANJUR TERKINI

Sunda Kelapa dalam catatan Portugis dan Buku Itinerario

Sunda Kelapa dalam Catatan Portugis dan Itinerario 1596: Jejak Pelabuhan Tua yang Menghubungkan dengan Dunia Internasional

September 13, 2026
Mengenal HAARP, Teknologi Amerika yang Ramai Dituduh Jika Ada Bencana Alam

Mengenal HAARP, Teknologi Amerika yang Ramai Dituduh Jika Ada Bencana Alam

September 12, 2026
Gunung gede menjadi salah satu yang di tutup sementara september ini

13 Gunung di Jawa Barat Ditutup, Gede Pangrango Salah Satunya!

September 8, 2026
Pasien Ditandu 10 Km akibat Jalan Rusak di Cianjur, Pemkab Janji Perbaiki

Pasien Ditandu 10 Km akibat Jalan Rusak di Cianjur, Pemkab Janji Perbaiki

September 8, 2026

CIANJUR.CO adalah website City Directory Kota Cianjur yang merangkum informasi dari berbagai destinasi wisata, penginapan, kuliner, hiburan, area publik, hingga ke gedung pendidikan dan perkantoran. Selain itu juga mengangkat berita ringan yang ada di kota Cianjur.

KONTAK KAMI

Jl. Raya Puncak, Cugenang, Cianjur. Jawa Barat – Indonesia.
0899-862-5050
[email protected]
www.cianjur.co

NAVIGASI

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak Kami
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak Kami

© 2024 Cianjur.Co

No Result
View All Result
  • CIANJUR.CO
  • HOME
  • Berita
  • Travel
  • Kuliner
  • Sosok

© 2024 Cianjur.Co