CIANJUR.CO – Pemerintah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman banjir dan tanah longsor menjelang masuknya musim hujan. Upaya yang disiapkan mengutamakan mitigasi berdasarkan pemetaan risiko, sehingga pemerintah dapat mengenali wilayah rawan dan menyiapkan penanganan sebelum bencana terjadi.
Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar mengatakan penanggulangan perlu dilakukan sebelum kejadian berlangsung di lapangan. “Langkah penanggulangan bencana perlu dilakukan sebelum terjadi kejadian di lapangan sehingga potensi korban dan kerugian dapat ditekan,” kata Dian di Kuningan, Selasa.
Berdasarkan laporan ANTARA Jabar, Dian menilai kesiapan tersebut membutuhkan informasi yang cepat mengenai potensi ancaman. Informasi tidak cukup hanya tersedia, tetapi juga perlu terhubung dengan proses pengambilan keputusan dan tindakan. Dengan alur itu, ketika kondisi yang membahayakan mulai terdeteksi, pemerintah dapat segera menentukan langkah yang diperlukan.
Baca juga: Tim Gabungan Tertibkan Parkir Liar untuk Atasi Macet di Garut
Untuk menyatukan persiapan, pemerintah daerah telah menggelar rapat koordinasi menghadapi peningkatan risiko bencana hidrometeorologi. Dian menyebut rapat tersebut sebagai bagian dari upaya menyelaraskan langkah. “Kami pun sudah melaksanakan rapat koordinasi untuk menyatukan langkah menghadapi peningkatan risiko bencana hidrometeorologi,” ujarnya.
Pengalaman menghadapi kekeringan meteorologis juga menjadi pelajaran bagi Pemkab Kuningan dalam memperkuat antisipasi. Dian mengingatkan, penanganan semestinya tidak baru dilakukan setelah masyarakat merasakan dampak. Ia memberi contoh penyaluran air menggunakan kendaraan tangki kepada warga yang mengalami kekurangan air. Bantuan itu merupakan respons terhadap kondisi yang sudah terjadi, sehingga pola penanganan perlu diarahkan menjadi pencegahan saat menghadapi ancaman berikutnya.
Perkiraan waktu musim hujan menjadi salah satu dasar yang disampaikan dalam pembahasan kesiapsiagaan. Menurut Dian, berdasarkan data, wilayah Jawa Barat diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada November 2026 dan mencapai periode puncak pada Februari 2027. Perkiraan tersebut disampaikan bersamaan dengan peningkatan perhatian terhadap potensi banjir dan tanah longsor menjelang musim hujan.
Baca juga: Pendakian TWA Gunung Papandayan Masih Dibatasi Usai Fenomena Blue Fire
Selain ancaman yang berkaitan dengan hujan, Kuningan juga menghadapi risiko kebakaran hutan dan lahan atau karhutla. Dian menyebut luas wilayah yang terdampak karhutla mencapai sekitar 58,96 hektare. Ia meminta pengalaman menghadapi kekeringan dan karhutla digunakan untuk memperbaiki sistem mitigasi, agar kesiapan pemerintah daerah mencakup berbagai jenis ancaman bencana.
Persiapan yang disampaikan Dian meliputi penyiapan posko kesiapsiagaan serta pemantauan kondisi wilayah secara berkesinambungan. Ia menekankan bahwa pemetaan diperlukan untuk mengetahui lokasi rawan, kebutuhan penanganan, dan dukungan sarana maupun prasarana yang harus tersedia. Dengan mengenali kebutuhan tersebut, pemerintah dapat menyiapkan dukungan sesuai kondisi wilayah yang berisiko, bukan hanya mengandalkan respons setelah dampak terjadi.
Baca juga: Disdikpora Cianjur Catat Kekurangan Sekitar 1.400 Guru SD dan SMP
Di sisi lain, informasi mengenai risiko bencana perlu disampaikan untuk membangun kewaspadaan masyarakat, bukan memicu kepanikan. Dian menegaskan bahwa kesiapsiagaan tidak berarti bencana pasti terjadi. Namun, persiapan memungkinkan langkah penanganan sudah diketahui ketika ancaman datang. “Kesiapsiagaan bukan berarti bencana pasti terjadi. Namun, ketika ancaman datang, kita sudah memiliki langkah yang harus dilakukan sehingga dampaknya dapat ditekan,” kata dia.
Rangkaian upaya tersebut menghubungkan pemetaan risiko, informasi cepat, koordinasi, dan kesiapan tindakan. Pengalaman kekeringan serta karhutla menjadi bahan untuk memperbaiki mitigasi, sementara posko dan pemantauan berkesinambungan disiapkan sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi ancaman yang mungkin muncul.





