CIANJUR.CO – Reflection AI resmi memperkenalkan Beam, model kecerdasan buatan terbuka pertama dari perusahaan rintisan tersebut. Perusahaan yang berusia dua tahun itu mengklaim Beam dapat menyamai kemampuan model terbuka terkemuka dari China dalam tolok ukur penalaran tingkat lanjut, tetapi dengan kebutuhan komputasi yang jauh lebih rendah. Klaim itu menempatkan Beam di tengah persaingan untuk menghadirkan alternatif Barat bagi DeepSeek, Qwen, dan Z.ai.
Berdasarkan laporan TechCrunch AI, Beam merupakan model khusus teks dengan arsitektur mixture-of-experts. Reflection menyebut model itu dilatih menggunakan reinforcement learning berkomputasi tinggi agar mampu menangani penalaran, pemrograman, serta tugas agentik. Perusahaan mengatakan Beam dapat menjalankan kemampuan tersebut dengan biaya token dan waktu komputasi inferensi yang hanya sebagian dari kebutuhan model pesaing.
Pengumuman resmi ini mengonfirmasi laporan Axios pada akhir pekan sebelumnya bahwa Reflection hampir meluncurkan model tersebut. Informasi yang lebih lengkap kemudian disampaikan perusahaan melalui tulisan blog panjang pada Senin. Namun, klaim kinerja yang disampaikan Reflection belum diverifikasi secara independen.
Ukuran model dan klaim kinerja
Beam memiliki total 501 miliar parameter, dengan 23 miliar parameter aktif. Model ini menjalani prapelatihan menggunakan 23,8 triliun token dan mempunyai jendela konteks sepanjang 1 juta token. Angka tersebut menggambarkan skala model sekaligus kapasitas konteks yang disebut Reflection untuk Beam.
Baca juga: Instinct Hadir di Grup Chat, Teman Tanpa Akun Tetap Bisa Ikut
Sebagai pembanding, GLM-5.2 dari Z.ai memiliki sekitar 744 miliar parameter secara keseluruhan dan 40 miliar parameter aktif. Reflection menyatakan Beam memperoleh skor setara GLM-5.2 pada tolok ukur penalaran tingkat lanjut, serta mengungguli model terbuka Barat terkemuka saat ini. Perusahaan mengklaim hasil itu dicapai dengan “3-4x less inference compute”, atau kebutuhan komputasi inferensi tiga hingga empat kali lebih rendah.
Reflection menyebut Beam sebagai “workhorse model” untuk perusahaan, sektor publik, dan pengembang. Sebutan itu mencerminkan sasaran pemakaian yang diusung perusahaan, bukan hasil verifikasi independen atas kinerja model. Perbedaan kebutuhan komputasi menjadi bagian penting dari klaim tersebut karena Reflection membandingkan kemampuan penalaran Beam dengan model lain sekaligus menekankan biaya dan waktu inferensi.
Perusahaan memosisikan diri di antara beberapa kelompok pesaing. Selain laboratorium AI tertutup seperti Anthropic dan OpenAI, Reflection menghadapi model terbuka populer dari pengembang China serta pemain Barat seperti Mistral, Meta, dan Cohere. Pesaing langsungnya di Amerika Serikat mungkin Inkling, model terbuka dari Thinking Machines Lab milik Mira Murati yang dirilis pada Juli.
Menurut hasil pembandingan yang dipublikasikan Reflection sendiri, Beam mencetak nilai lebih tinggi daripada Inkling dalam empat pengujian pemrograman yang hasilnya dilaporkan oleh kedua pihak. Perbandingan itu memiliki batas yang perlu diperhatikan: Inkling merupakan model multimodal, sedangkan Beam hanya memproses teks. Karena karakteristik kedua model berbeda, hasil pada empat pengujian tersebut tidak menghapus perbedaan cakupan kemampuan mereka.
Baca juga: TikTok Hadirkan Asisten Belanja AI dan Checkout Satu Klik
Pendanaan, komputasi, dan sasaran pengguna
Reflection didirikan pada 2024 oleh dua mantan peneliti Google DeepMind. Menurut PitchBook, perusahaan telah mengumpulkan pendanaan sekitar 4,7 miliar dolar AS dari sejumlah investor, termasuk Nvidia, Sequoia Capital, dan Lightspeed Venture Partners. Putaran pendanaan terakhir menilai perusahaan pada valuasi prauang sebesar 25 miliar dolar AS.
Selain pendanaan, Reflection juga mengamankan akses terhadap sumber daya komputasi untuk melatih model frontier. Perusahaan menandatangani kesepakatan dengan SpaceX dan Nebius pada musim panas, dengan nilai gabungan lebih dari 7 miliar dolar AS. Kesepakatan itu ditujukan untuk mendapatkan akses ke chip Nvidia GB300 hingga 2029.
Kapasitas komputasi menjadi bagian dari upaya Reflection membangun model yang dapat menarik pelanggan dari layanan tertutup Anthropic dan OpenAI, serta model terbuka yang lebih murah dari laboratorium China. Dalam kerangka itu, Beam bukan satu-satunya fokus perusahaan: Reflection juga mengarahkan model ini dan model mendatang kepada perusahaan serta negara berdaulat.
Baca juga: Hot Girl Hotline Tawarkan Nasihat Relasi Berbasis AI untuk Perempuan Muda
Perusahaan menawarkan gagasan “AI factories”, yakni produk yang memungkinkan institusi membangun sistem AI lokal yang disesuaikan dengan melatih model Reflection menggunakan data milik mereka sendiri. Dengan pendekatan ini, institusi dapat memakai data proprietari untuk membentuk sistem yang sesuai kebutuhan mereka. CEO Nvidia Jensen Huang, yang perusahaannya menjadi salah satu pendukung Reflection, telah lama mengampanyekan gagasan AI factory dan penguatan ekosistem AI terbuka. Visi tersebut juga sejalan dengan kepentingan Nvidia karena sistem semacam itu akan menggunakan GPU perusahaan tersebut.
Axios melaporkan bahwa hedge fund dan perusahaan perdagangan termasuk pihak yang berminat membangun sistem seperti itu. Reflection juga telah mulai menguji konsep kemitraan sovereign AI factory bersama Shinsegae Group di Korea Selatan. Uji coba tersebut menjadi contoh penerapan awal gagasan yang ditawarkan perusahaan, sementara sasaran lebih luasnya mencakup institusi dan negara berdaulat.
Reflection menyatakan bobot Beam beserta rincian teknis lengkapnya akan dirilis bulan ini. Pada peluncuran, distribusi direncanakan melalui hyperscaler dan neocloud, disertai integrasi ke berbagai pustaka sumber terbuka. Rencana distribusi itu akan membuka akses terhadap bobot model dan detail teknis yang saat ini belum tersedia. Reflection tidak memberikan tanggapan sebelum tenggat waktu permintaan informasi TechCrunch.





