CIANJUR.CO – Bangunan putih bergaya Art Deco di kawasan Jalan Dr. Setiabudi, Bandung, itu telah melewati sejumlah perubahan penting. Dikenal sebagai Villa Isola ketika dibangun, bangunan tersebut kini bernama Gedung Bumi Siliwangi dan menjadi Gedung Rektorat Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Perjalanannya tidak hanya berkaitan dengan sejarah arsitektur, tetapi juga dengan masa kolonial, perang, dan perkembangan pendidikan tinggi.
Berdasarkan laporan detikJabar, Villa Isola bermula sebagai kediaman pribadi Dominique Willem Berretty, tokoh media yang mendirikan kantor berita ANETA di Hindia Belanda. Berretty dikenal sebagai pengusaha media yang kaya dan berpengaruh pada masanya. Ia memilih kawasan Bandung Utara yang ketika itu masih relatif jauh dari keramaian pusat kota, di Jalan Setiabudi menuju Lembang.
Pembangunannya dimulai pada Oktober 1932 dan rampung sekitar Maret 1933. Pekerjaan tersebut ditangani biro arsitektur AIA dengan C.P. Wolff Schoemaker sebagai arsitek. Biaya yang dikeluarkan mencapai sekitar 500.000 gulden, nilai yang sangat besar pada masa itu. Sejak awal, lokasi dan rancangan bangunan tersebut membuat Villa Isola menonjol di antara bangunan di sekitarnya.
Rancangan Art Deco dan makna nama Isola
Schoemaker merancang bangunan dengan karakter Art Deco, antara lain melalui bentuk geometris, garis melengkung, dan komposisi yang tampak simetris. Rancangannya juga memperlihatkan perpaduan gagasan modern dengan unsur arsitektur serta filosofi lokal. Perhatian terhadap orientasi bangunan menjadi salah satu bagian dari pendekatan tersebut.
Baca juga: Pasar Antik Cikapundung Menarik Gen Z, Pedagang Beradaptasi
Sisi bangunan yang menghadap utara dan selatan dirancang dengan mempertimbangkan orientasi kosmik, lingkungan sekitar, dan pemanfaatan cahaya matahari. Dengan demikian, Villa Isola tidak hanya menampilkan bentuk modern, tetapi juga memperhitungkan hubungannya dengan lingkungan. Dari bangunan itu, pemandangan Bandung dan pegunungan di sekitarnya dapat dinikmati. Taman dan kolam yang mengelilinginya turut memperkuat kesan megah.
Nama Isola juga terkait dengan tulisan yang berada di bagian dalam bangunan, yakni “M’Isolo E Vivo”. Frasa berbahasa Italia itu kurang lebih berarti “saya mengasingkan diri dan bertahan hidup”. Maknanya berkaitan dengan cara Berretty memandang rumahnya yang berada jauh dari keramaian kota. Pada masa itu, letak Villa Isola yang relatif terpencil dianggap sesuai dengan gagasan tersebut.
Dari kediaman pribadi menjadi hotel
Villa Isola tidak lama dinikmati Berretty sebagai rumah pribadi. Pada 1934, ia meninggal dalam kecelakaan pesawat ketika berada dalam perjalanan dari Amsterdam menuju Batavia. Setelah itu, fungsi bangunan berubah. Pada 1935, Villa Isola dijadikan Hotel Isola, cabang Grand Hotel Savoy Homann. Tempat tersebut kemudian digunakan untuk menginap sekaligus menerima tamu.
Baca juga: Pedal Puff Girls, Komunitas Gowes Perempuan Bandung yang Mengayuh Bersama
Dokumentasi Museum Pendidikan Nasional UPI menunjukkan adanya kunjungan tokoh penting ke Hotel Isola pada masa itu. Catatan tersebut menggambarkan bahwa bangunan yang semula menjadi rumah seorang pengusaha media kemudian berperan sebagai tempat menerima tamu. Perubahan itu menjadi bagian awal dari rangkaian pergantian fungsi Villa Isola sebelum akhirnya masuk ke lingkungan pendidikan.
Melewati perang hingga menjadi bagian kampus
Perubahan kembali terjadi ketika Perang Dunia II. Pada 1942, saat Jepang datang ke Indonesia, Villa Isola pernah digunakan untuk kegiatan yang berkaitan dengan penyerahan Bandung dari pemerintah Belanda kepada Jepang. Bangunan tersebut juga sempat berfungsi sebagai museum pada masa pendudukan Jepang.
Sesudah Indonesia memasuki masa revolusi kemerdekaan, para pejuang pernah menggunakan Villa Isola. Konflik pada periode itu menyebabkan kerusakan pada bangunan. Pada 16 Februari 1946, pasukan Inggris dan Belanda menembaki serta membom Villa Isola. Peristiwa tersebut menjadi bagian dari pengalaman bangunan ini selama masa perang.
Baca juga: Berjalan Kaki Melibatkan Otak dan Mendukung Fungsi Kognitif
Pemerintah Republik Indonesia menasionalisasi Villa Isola pada 1951. Bangunan yang sebelumnya dikenal sebagai villa mewah itu kemudian diberi nama Bumi Siliwangi. Tiga tahun sesudahnya, tepatnya 20 Oktober 1954, Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) didirikan di Bandung. Lembaga tersebut menjadi bagian penting dalam sejarah perkembangan UPI.
Gedung Bumi Siliwangi yang berasal dari Villa Isola lalu menjadi bagian dari kampus pendidikan guru tersebut. Dalam perkembangannya, lembaga itu berubah menjadi IKIP Bandung dan kemudian Universitas Pendidikan Indonesia. Bangunan tersebut tetap dipertahankan dan kini digunakan sebagai Gedung Rektorat UPI.
Villa Isola saat ini bukan lagi rumah pribadi ataupun hotel. Keberadaannya di kawasan UPI menjadikannya salah satu landmark Kota Bandung. Jejaknya mencakup masa ketika bangunan itu menjadi kediaman D.W. Berretty, beralih fungsi sebagai hotel, melewati masa pendudukan dan revolusi, hingga menjadi bagian dari sejarah pendidikan tinggi. Karena rangkaian perubahan itu, Bumi Siliwangi tetap melekat dengan identitas kawasan UPI dan perjalanan sejarah Kota Bandung.





