CIANJUR.CO – Bagi para petani Kopi Sarongge, menanam kopi bukan sekadar soal ekonomi. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menjaga dan memulihkan hutan. Sejak tahun 2008, mereka aktif melakukan penanaman pohon di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Lahan bekas kebun sayur seluas sekitar 38 hektare yang dulunya terbuka kini telah berubah menjadi hutan kembali, ditumbuhi pohon-pohon endemik yang tingginya mencapai 20 meter.
Upaya ini menjadi bukti bahwa pertanian dan pelestarian alam dapat berjalan beriringan. Kopi Sarongge bukan hanya menghadirkan cita rasa istimewa, tetapi juga menyimpan cerita tentang kepedulian terhadap lingkungan dan masa depan hutan.
Baca juga: 22 Makanan Khas Cianjur Yang Wajib Di Coba
Kelompok Tani Kopi Satria Mandiri
Sejak Juli 2018, Kelompok Tani Kopi Satria Mandiri yang menaungi para petani kopi Sarongge memperoleh hak pengelolaan melalui skema perhutanan sosial. Mereka diberikan akses untuk memanfaatkan lahan milik Perhutani seluas 21,5 hektare dengan jangka waktu hingga 35 tahun. Kesempatan ini dimanfaatkan untuk mengembangkan budidaya kopi arabika di lokasi baru. Banyak petani berharap kawasan di lereng Gunung Geulis tersebut menjadi tempat terakhir mereka bercocok tanam, tanpa harus berpindah lagi. Salah satu petani, Dudu Duroni, menyampaikan keinginannya untuk menetap dan mengelola lahan itu secara berkelanjutan.
Mengisnpirasi Desa Lain
Keberhasilan petani Sarongge dalam mengelola kopi turut memberi pengaruh positif bagi wilayah sekitar. Petani dari Desa Pakuwon di Sukaresmi serta Desa Ciherang di Pacet mulai mengikuti jejak yang sama dengan mengajukan izin perhutanan sosial. Mereka berencana menanam kopi arabika di lahan Perhutani, menyesuaikan dengan kondisi wilayah masing-masing. Untuk lahan dengan ketinggian di bawah 1.000 meter di atas permukaan laut, sebagian petani memilih membudidayakan kopi robusta yang lebih sesuai dengan karakter lingkungan tersebut.
Saat ini, petani Sarongge semakin fokus dalam mengembangkan kopi arabika yang menjadi identitas daerah mereka. Produk yang dihasilkan dikenal dengan nama Kopi Sarongge, yang memiliki ciri khas tersendiri. Meski begitu, mereka tetap mempertahankan penanaman sayuran sebagai sumber pendapatan rutin. Hasil dari tanaman sayur biasanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan bulanan, sementara kopi diposisikan sebagai investasi jangka panjang yang dipanen dalam periode tahunan.
Kisah Kopi Sarongge
Popularitas Kopi Sarongge tidak bisa dipisahkan dari peran Tosca Santoso. Ia aktif membimbing para petani dalam membudidayakan kopi dengan sistem tanam di bawah naungan pepohonan hutan. Selain memanfaatkan tanaman khas Jawa Barat sebagai pelindung, kopi juga ditanam berdampingan dengan berbagai jenis tanaman buah seperti nangka, alpukat, petai, pusparasmala, suningten, serta kayu manis.
Kopi Sarongge menghadirkan cerita tentang hubungan erat antara manusia, hutan, dan rasa cinta terhadap alam. Semuanya berawal dari upaya untuk mengembalikan kehijauan di perbukitan yang sempat gundul di lereng Gunung Gede. Dari langkah kecil tersebut, kisahnya kemudian meluas, mencerminkan kondisi banyak kawasan hutan di Indonesia yang mengalami kerusakan. Perjalanan ini juga sejalan dengan sosok Karen, seorang “ksatria pelangi” yang mendedikasikan diri untuk menjaga kelestarian bumi.
Dalam kisah ini, Sarongge belum secara langsung membahas kopi. Namun, semangat para petani yang dengan tekun mengubah kembali kebun sayur mereka menjadi kawasan hijau menjadi awal lahirnya Kopi Sarongge. Dari proses tersebut tercipta kopi dengan karakter rasa yang merefleksikan alam yang tetap terjaga.
Kisah mengenai Sarongge yang ditulis oleh Green Initiative Foundation juga tersedia dalam bentuk buku digital yang dapat dibaca secara daring disini.
Selain itu, cerita ini diangkat dalam sebuah novel karya Tosca Santoso yang juga bisa dinikmati dalam format ebook disini.
Versi bahasa Inggris dari novel tersebut juga hadir berkat kerja sama dan dedikasi dua sahabat, yaitu Tessa Piper sebagai penerjemah dan Juliana Wilson sebagai editor, yang telah mencurahkan waktu dan ketekunan mereka yang bisa di baca disini.
Produk Kopi Sarongge
- Sarongge Full Wash
Metode full wash adalah teknik pengolahan pascapanen kopi dengan menggunakan air sebagai media utama. Setelah dipetik, buah kopi atau ceri terlebih dahulu diseleksi melalui perendaman di dalam bak air untuk memisahkan kualitasnya. Buah yang memiliki kualitas baik akan tenggelam, sementara yang kurang baik akan mengapung di permukaan.
Selanjutnya, buah kopi yang telah lolos seleksi diproses dengan cara dikupas untuk memisahkan kulit dan daging buah dari bijinya menggunakan mesin pulper. Dengan kapasitas mesin sekitar 100 kg per jam, proses ini dilakukan secepat mungkin agar buah kopi yang dipanen pada hari yang sama dapat langsung diolah tanpa harus menunggu hingga malam hari.
- Sarongge Honey
Metode honey merupakan teknik pengolahan pascapanen yang berada di antara proses basah dan kering. Seperti pada metode full wash, buah kopi terlebih dahulu disortir lalu dikupas kulit luarnya. Perbedaannya terletak pada tahap berikutnya, di mana biji kopi tidak melalui proses pencucian, melainkan langsung dijemur dengan sisa lendir (mucilage) yang masih menempel pada lapisan kulitnya. Kehadiran lendir ini saat penjemuran memberikan karakter rasa manis yang lebih bertahan lama. Konsekuensinya, proses pengeringan pun memakan waktu lebih panjang, bisa mencapai sekitar 21 hari.
- Sarongge Natural
Metode natural sering dikenal sebagai proses kering, karena buah kopi yang telah dipanen hanya disortir tanpa melalui tahap pengupasan atau pencucian. Buah kopi kemudian dijemur dalam kondisi utuh, masih lengkap dengan kulit dan daging buahnya. Proses pengeringan ini memerlukan waktu lebih lama, bahkan bisa mencapai sekitar 28 hari. Namun, hasil akhirnya memberikan karakter rasa yang khas, seperti keasaman yang lembut, nuansa buah yang lebih kaya, serta sensasi manis yang bertahan lebih lama di akhir.
Pada tahun ini, Kopi Sarongge melakukan inovasi dengan memodifikasi metode natural melalui teknik fermentasi dalam kondisi tanpa udara (vakum). Setelah proses sortir, buah kopi dimasukkan ke dalam wadah kedap udara untuk menjalani fermentasi anaerob selama kurang lebih 2 hingga 3 hari. Setelah tahap tersebut selesai, biji kopi kemudian dijemur hingga mencapai tingkat kekeringan yang optimal.
- Sarongge Winey
Proses winey pada dasarnya merupakan pengembangan dari metode natural. Seperti halnya natural process, buah kopi dikeringkan dalam kondisi masih utuh bersama kulitnya. Perbedaannya terletak pada tahap awal, di mana dilakukan fermentasi yang lebih lama. Buah kopi pilihan dimasukkan ke dalam wadah kedap udara untuk difermentasi selama kurang lebih 21 hari dengan kondisi yang terkontrol. Setelah itu, kopi dijemur hingga kadar airnya mencapai sekitar 12%, yang biasanya memakan waktu sekitar 28 hari, serupa dengan proses natural. Hasil dari fermentasi yang lebih panjang ini memberikan karakter rasa dengan sentuhan aroma menyerupai alkohol.
- Sarongge 1535
Biji kopi untuk varian ini dipilih secara khusus dari kebun yang berada di ketinggian lebih dari 1.500 meter di atas permukaan laut. Pada kondisi tersebut, buah kopi mengalami proses pematangan yang lebih lambat saat masih di pohon, sehingga menghasilkan karakter rasa yang lebih kompleks dan mendalam. Nuansa keasaman yang menyerupai buah apel atau stroberi kerap muncul pada varian Sarongge 1535. Pengolahan kopi ini menggunakan metode basah atau full wash, yang membantu menonjolkan kejernihan cita rasa.
Saat dipanggang dengan tingkat light roast, kopi ini menghadirkan sentuhan rasa jeruk, serai, dan madu. Aromanya mengingatkan pada bunga ginger lily, dengan profil rasa yang bersih, tekstur lembut, serta aftertaste yang terasa halus dan menyenangkan.
- Sarongge Luwak
- Sarongge Lanang
- Sarongge Rosidi
- Sarongge Ki Hujan





