{"id":8894,"date":"2026-10-06T00:01:34","date_gmt":"2026-10-05T17:01:34","guid":{"rendered":"https:\/\/cianjur.co\/news\/?p=8894"},"modified":"2026-10-06T00:01:34","modified_gmt":"2026-10-05T17:01:34","slug":"pewawancara-ai-hackerrank-chakra","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cianjur.co\/news\/pewawancara-ai-hackerrank-chakra\/","title":{"rendered":"HackerRank Rilis Pewawancara AI Chakra, Sudah Uji 500.000 Wawancara"},"content":{"rendered":"<p><strong>CIANJUR.CO<\/strong> &#8211; Peran kecerdasan buatan dalam proses kerja tak lagi terbatas membantu pelamar mempersiapkan diri menghadapi wawancara. HackerRank, platform yang digunakan perusahaan untuk menilai dan merekrut pengembang, memperkenalkan Chakra, agen AI yang menjalankan wawancara sekaligus mengamati cara kandidat mengerjakan tugas. Sistem ini menilai bukan hanya jawaban akhir, tetapi juga proses yang ditempuh untuk sampai ke sana.<\/p>\n<p>Setelah menjalani masa uji beta sekitar enam bulan, Chakra mulai tersedia secara umum bagi pelanggan HackerRank pada Senin. Berdasarkan laporan TechCrunch AI, perusahaan menyebut sistem tersebut telah menjalankan lebih dari 500.000 wawancara selama pengujian. Sejumlah perusahaan yang mencobanya antara lain Snowflake, Snorkel, dan Capgemini. HackerRank juga menguji produk itu secara internal.<\/p>\n<p>Penggunaan AI dalam wawancara kerja bukan hal yang sepenuhnya baru. Perusahaan telah memanfaatkan agen suara dan perangkat otomatis lain untuk menyaring pelamar serta membuat proses perekrutan lebih efisien. Di sisi lain, pencari kerja semakin memiliki akses terhadap alat AI untuk membantu mereka menghadapi wawancara, terkadang tanpa diketahui perusahaan yang merekrut.<\/p>\n<p>Chakra menunjukkan arah berbeda: AI tidak hanya menjadi alat bantu kandidat atau penyelenggara, tetapi ikut digunakan untuk mengukur kemampuan pelamar. HackerRank ingin menilai aspek yang lebih sulit ditangkap melalui tes biasa, seperti pemikiran kritis dan pertimbangan. Perusahaan juga menyoroti \u201cAI fluency\u201d, yakni kemampuan kandidat merumuskan masalah untuk AI, menilai hasil yang diberikan, dan mengarahkan sistem itu menuju solusi.<\/p>\n<p>CEO sekaligus salah satu pendiri HackerRank, Vivek Ravisankar, mengatakan bahwa penilaian yang berfokus pada hasil akhir menjadi kurang memadai ketika AI dapat membantu siapa pun menghasilkan sebuah produk kerja. \u201cThe previous modality of evaluation was evaluating the output,\u201d kata Ravisankar dalam wawancara. Menurutnya, tantangan bagi perusahaan kini adalah memahami pemikiran dan pertimbangan yang mendasari hasil tersebut.<\/p>\n<p><strong>Baca juga<\/strong>: <a href=\"https:\/\/cianjur.co\/news\/safeworld-uji-keamanan-robot-ai\/\">Safeworld Uji Keamanan Robot AI Lewat Simulasi Manusia Digital<\/a><\/p>\n<h2>Wawancara berbasis tugas kerja<\/h2>\n<p>Dalam pelaksanaannya, wawancara Chakra dirancang agar lebih menyerupai pekerjaan sehari-hari dibandingkan tes coding tradisional. Kandidat menerima tugas yang berkaitan dengan repositori kode dunia nyata, lalu mengerjakannya di sebuah canvas yang dilengkapi asisten AI. Dengan demikian, proses yang diamati tidak berhenti pada jawaban untuk soal yang berdiri sendiri.<\/p>\n<p>Selama kandidat bekerja, Chakra dapat menggunakan konteks aktivitasnya untuk mengajukan pertanyaan lanjutan. Sistem, misalnya, dapat meminta penjelasan mengapa kandidat memilih satu pendekatan dibandingkan pendekatan lain. Pertanyaan juga dapat menguji bagaimana solusi akan berubah apabila muncul batasan baru. Rangkaian ini memberi perusahaan bahan untuk melihat alasan di balik keputusan teknis kandidat.<\/p>\n<p>Menurut penjelasan Ravisankar kepada TechCrunch, Chakra juga mengubah susunan dasar tahapan perekrutan. Proses yang sebelumnya terdiri atas tiga bagian\u2014penyaringan awal oleh perekrut, asesmen yang dikerjakan di rumah, dan wawancara lanjutan dengan seorang insinyur\u2014kini dapat digabungkan ke dalam satu wawancara Chakra. Pernyataan tersebut menggambarkan perubahan alur yang ingin ditawarkan HackerRank, bukan sekadar penggantian media untuk tes coding.<\/p>\n<p>Memberi kandidat akses ke AI saat wawancara bisa menimbulkan kekhawatiran bahwa peluang menyontek menjadi lebih besar. Namun, HackerRank menyatakan hasil pengujian mereka menunjukkan arah sebaliknya. Ravisankar mengatakan penanda aktivitas mencurigakan dalam wawancara Chakra tercatat 70% hingga 80% lebih rendah daripada asesmen HackerRank tradisional yang sebanding.<\/p>\n<p><strong>Baca juga<\/strong>: <a href=\"https:\/\/cianjur.co\/news\/super-intelligence-trump\/\">Trump Dorong Istilah \u201cSuper Intelligence\u201d, Komitmen Keselamatan AI Dinilai Lemah<\/a><\/p>\n<p>Ia menambahkan bahwa besar penurunan itu berbeda-beda, antara lain bergantung pada faktor geografis dan tingkat senioritas kandidat. Ravisankar juga mengatakan akses langsung ke AI dapat mengurangi dorongan untuk diam-diam menggunakan alat eksternal yang memberikan jawaban selama wawancara. Dengan asisten tersedia dalam proses, kandidat tidak perlu mengandalkan perangkat tersembunyi sebagaimana yang dikhawatirkan perusahaan.<\/p>\n<h2>Perubahan arah bisnis dan batas keputusan AI<\/h2>\n<p>HackerRank diluncurkan dalam ajang TechCrunch Disrupt pada 2012 dan membangun bisnisnya melalui tantangan coding. Produk tersebut membantu perusahaan menilai serta merekrut pengembang berdasarkan keterampilan teknis. Kini, startup yang didukung Y Combinator itu memiliki lebih dari 3.000 pelanggan bisnis, termasuk Amazon, Nvidia, Clay, dan Replit, serta komunitas lebih dari 30 juta pengembang di seluruh dunia.<\/p>\n<p>Chakra sekaligus menjadi taruhan baru bagi perusahaan yang selama bertahun-tahun mengembangkan bisnis asesmen teknis. Produk tradisional HackerRank terutama menguji apakah pengembang mampu menyelesaikan masalah coding dengan benar. Ravisankar menilai kemajuan AI membuat model lama itu kurang berguna untuk mengukur kemampuan seorang insinyur.<\/p>\n<p>Di internal perusahaan, Ravisankar membandingkan peralihan tersebut dengan perpindahan Apple dari iPod ke iPhone. Produk lama tetap memiliki nilai, tetapi produk baru mencerminkan arah yang diyakini perusahaan akan dituju pasar. \u201cChakra is going to be the headline,\u201d ujarnya. Ia menyebut Chakra sebagai cara HackerRank untuk bergerak maju.<\/p>\n<p><strong>Baca juga<\/strong>: <a href=\"https:\/\/cianjur.co\/news\/amazon-tidak-lagi-menggunakan-nda-pusat-data\/\">AWS Sebut Tak Lagi Gunakan NDA dalam Proyek Pusat Data<\/a><\/p>\n<p>Meski demikian, peran AI yang lebih dalam dalam evaluasi kandidat memunculkan pertanyaan mengenai seberapa jauh keputusan perekrutan dapat diserahkan kepada algoritma. Ravisankar mengatakan Chakra dirancang untuk memberi skor kepada kandidat, bukan menentukan keputusan akhir. Keputusan akhir tetap berada di tangan manusia.<\/p>\n<p>Menurut Ravisankar, AI dapat menangani bagian wawancara yang lebih terstruktur dengan menerapkan kriteria yang ditetapkan perusahaan secara konsisten. Dengan begitu, pewawancara manusia dapat mencurahkan lebih banyak waktu untuk menilai apakah mereka ingin bekerja bersama kandidat, sekaligus menjawab pertanyaan tentang perusahaan, tim, dan posisi yang ditawarkan.<\/p>\n<p>Ravisankar berpendapat AI \u201cway less biased than humans, if you tune it properly\u201d. Ia menyampaikan bahwa sistem dapat diarahkan mengikuti rubrik yang sama untuk setiap kandidat, alih-alih dipengaruhi faktor seperti latar belakang atau pendidikan. Namun, penerapan kriteria yang seragam tidak dengan sendirinya menghapus bias. Perangkat perekrutan otomatis dapat mewarisi atau memperbesar bias dari data, model, maupun kriteria yang digunakan untuk membangunnya. Karena itu, penggunaan alat semacam ini turut menjadi perhatian regulator.<\/p>\n<p>Ravisankar mengakui bahwa perekrutan merupakan bidang yang diatur dan menyatakan pemenuhan ketentuan tersebut termasuk hal yang perlu dipersiapkan HackerRank. Sebagai contoh, New York City mewajibkan perusahaan yang menggunakan perangkat keputusan ketenagakerjaan otomatis tertentu menjalani audit bias independen dan memberi pemberitahuan kepada kandidat sebelum alat itu digunakan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Chakra menggabungkan tugas coding dengan asisten AI untuk menilai jawaban, cara berpikir, dan kemampuan kandidat menggunakan AI.<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":8896,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[2496],"tags":[2598,2597,2109,2599],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8894"}],"collection":[{"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8894"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8894\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8895,"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8894\/revisions\/8895"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8896"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8894"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8894"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8894"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}