{"id":8584,"date":"2026-10-01T10:43:35","date_gmt":"2026-10-01T03:43:35","guid":{"rendered":"https:\/\/cianjur.co\/news\/?p=8584"},"modified":"2026-10-01T10:43:35","modified_gmt":"2026-10-01T03:43:35","slug":"penghijauan-lahan-cikembang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cianjur.co\/news\/penghijauan-lahan-cikembang\/","title":{"rendered":"PTPN I Siapkan Penghijauan 900 Hektare Lahan Cikembang"},"content":{"rendered":"<p><strong>CIANJUR.CO<\/strong> &#8211; PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I Regional 2 menyiapkan penghijauan kembali sekitar 900 hektare lahan di Cikembang, Pangalengan, Kabupaten Bandung. Rencana tersebut menjadi bentuk dukungan perusahaan terhadap program Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) untuk memulihkan tutupan vegetasi di kawasan itu.<\/p>\n<p>Berdasarkan laporan ANTARA Jabar, Region Head PTPN I Regional 2 Desmanto menyampaikan kesiapan tersebut di Bandung, Kamis. Penghijauan akan dilakukan melalui penanaman pohon dan tanaman khas yang dipilih dengan mempertimbangkan karakter lahan serta kondisi ekologis Cikembang.<\/p>\n<p>Desmanto mengatakan PTPN menyambut rencana Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi untuk bekerja sama menghijaukan kembali lahan-lahan milik perusahaan. Ia menyebut penanaman kembali perlu disesuaikan dengan keadaan kawasan, bukan hanya berfokus pada jumlah tanaman yang ditanam.<\/p>\n<p>\u201cKami siap mendukung melalui penanaman kembali dengan pohon dan tanaman khas yang sesuai dengan kondisi kawasan Cikembang,\u201d kata Desmanto. Ia menjelaskan, penentuan jenis tanaman harus memperhatikan kemiringan areal, keadaan tanah, serta kecocokannya dengan ekosistem setempat.<\/p>\n<p><strong>Baca juga<\/strong>: <a href=\"https:\/\/cianjur.co\/news\/pengaduan-pelanggaran-lingkungan-ecis-jabar\/\">Panduan Mengadukan Pelanggaran Lingkungan melalui ECIS Jabar<\/a><\/p>\n<h2>Vegetasi disesuaikan dengan kondisi lahan<\/h2>\n<p>Pertimbangan terhadap karakter lahan itu penting agar penghijauan dapat memperkuat fungsi ekologis kawasan. Menurut Desmanto, kondisi lereng dan tanah menjadi bagian yang perlu diperhitungkan saat menentukan jenis pohon maupun tanaman yang akan ditanam. Dengan demikian, vegetasi yang tumbuh diharapkan sesuai dengan lingkungan Cikembang.<\/p>\n<p>Ia menyatakan kawasan tersebut perlu kembali memiliki tutupan vegetasi yang kuat dan beragam. Penanaman pohon dapat dipadukan dengan tanaman khas kawasan serta jenis tanaman berkayu lainnya. Perpaduan itu, menurut dia, dapat membentuk vegetasi yang lebih bervariasi, dengan jenis tanaman yang tetap disesuaikan pada kondisi lahan dan karakter kawasan.<\/p>\n<p>Desmanto mengaitkan keragaman vegetasi dengan fungsi tanah dan air. Tanaman yang cocok dengan kondisi setempat dapat membantu menjaga struktur tanah dan meningkatkan daya serap air. Tutupan vegetasi juga mengurangi paparan langsung air hujan ke permukaan tanah, sehingga penghijauan dipandang memiliki fungsi ekologis selain membuat kawasan kembali hijau.<\/p>\n<p><strong>Baca juga<\/strong>: <a href=\"https:\/\/cianjur.co\/news\/pengukuran-kualitas-udara-cianjur\/\">DLH Cianjur Intensifkan Pengukuran Kualitas Udara di Delapan Titik<\/a><\/p>\n<p>\u201cDengan vegetasi yang lebih beragam, kita berharap fungsi ekologis kawasan dapat semakin kuat,\u201d ujarnya. Ia juga menyampaikan bahwa pohon dan tanaman yang sesuai dengan lingkungan setempat diharapkan membantu menjaga tanah dan air, sekaligus mendukung kawasan yang lebih hijau dan berkelanjutan.<\/p>\n<h2>Riwayat pemanfaatan dan risiko erosi<\/h2>\n<p>Rencana penghijauan tersebut berkaitan dengan kondisi pemanfaatan lahan yang sebelumnya disoroti Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Sekitar 900 hektare lahan PTPN di Cikembang selama puluhan tahun dimanfaatkan masyarakat untuk menanam tanaman musiman, terutama sayuran. Dedi menilai pola budi daya itu perlu dilihat bersama kondisi lahan yang berlereng dan terbuka.<\/p>\n<p>Menurut Dedi, penanaman tanaman musiman di lahan berlereng terbuka berpotensi meningkatkan erosi dan sedimentasi. Dampak yang ia soroti dapat menjangkau sungai maupun waduk di kawasan hilir. Dengan demikian, perhatian terhadap penggunaan lahan di Cikembang tidak hanya berkaitan dengan keadaan areal tersebut, tetapi juga dengan sedimentasi yang berpotensi memengaruhi wilayah di bawahnya.<\/p>\n<p><strong>Baca juga<\/strong>: <a href=\"https:\/\/cianjur.co\/news\/jalur-rawan-bencana-cianjur\/\">Polres Cianjur Siagakan Personel di Jalur Rawan Bencana<\/a><\/p>\n<p>Dedi menilai pemulihan fungsi lahan penting sebagai bagian dari mitigasi risiko bencana dan upaya menjaga keberlanjutan lingkungan di kawasan hulu Sungai Citarum. Ia mengingatkan bahwa bila bencana terjadi, masyarakat dapat menanggung kerugian besar, baik berupa kerugian material maupun korban jiwa.<\/p>\n<p>Ia juga menyoroti kebutuhan biaya setelah bencana, termasuk untuk pemulihan dan pengerukan sedimentasi di sungai, waduk, atau danau. Pernyataan itu menjadi salah satu alasan yang disampaikannya mengenai pentingnya memperhatikan risiko erosi dan sedimentasi pada lahan Cikembang.<\/p>\n<p>Desmanto menegaskan dukungan PTPN I terhadap langkah Pemprov Jawa Barat melalui penghijauan kembali. Pelaksanaannya, kata dia, tetap perlu memperhatikan prinsip tata kelola aset negara. PTPN juga ingin kawasan tersebut tetap produktif, sembari memiliki fungsi ekologis yang kuat melalui vegetasi yang sesuai dengan kondisi setempat.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PTPN I Regional 2 menyiapkan penghijauan kembali sekitar 900 hektare lahan Cikembang, Pangalengan, dengan tanaman yang disesuaikan kondisi ekologis kawasan.<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":8586,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[5],"tags":[2306,2307,1737,2308,694],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8584"}],"collection":[{"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8584"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8584\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8585,"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8584\/revisions\/8585"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8586"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8584"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8584"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8584"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}